BI Diramal Pangkas Suku Bunga 75 Bps di Sepanjang Tahun Ini

metrotvnews.com
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Global Pranjul Bhandari memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan  bersikap suportif terhadap pertumbuhan. Bhandari memprediksi akan terjadi tiga kali pemotongan suku bunga sepanjang 2026.  

"Keyakinan kami adalah bahwa kita akan melihat tiga kali pemotongan suku bunga, yang secara mendasar berjumlah 75 basis poin sepanjang 2026," ungkap Bhandari dalam online media briefing, HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook 2026, dikutip Selasa, 13 Januari 2026.

"Secara garis besar, saya memperkirakan satu kali di kuartal pertama, satu di kuartal kedua, dan satu kali di kuartal ketiga 2026," terang Bhandari menambahkan.

Meski demikian, Bhandari mengatakan bank sentral diperkirakan akan bergerak secara oportunistik, artinya mencari waktu yang tepat saat nilai tukar rupiah stabil dan tekanan terhadap dolar AS melemah sebelum memutuskan untuk memangkas suku bunga pada 2026.

"Jadi, menurut saya pemotongan suku bunga pada 2026 akan bersifat oportunistik. Bank Indonesia akan mencari peluang ketika dolar terlihat sedikit melemah dan ada ruang bagi mereka untuk melakukan pemotongan," papar Bhandari.
  Baca juga: Ini Jadwal Lengkap Rapat Dewan Gubernur Bulanan di 2026

(RDG bulanan Bank Indonesia. Foto: dok BI)
 
Ekonomi tumbuh 5,2%

Selain pemangkasan suku bunga, Bhandari memperkirakan perekonomian Indonesia akan menunjukkan resiliensi dengan Produk Domestik Bruto (PDB) akan tumbuh di angka 5,2 persen di sepanjang 2026.

"Kami memperkirakan pertumbuhan PDB akan berada di angka sekitar 5,2 persen pada tahun 2026, yang secara garis besar sejalan dengan apa yang dipikirkan pemerintah saat ini,” ujar dia.

Bhandari bahkan menyoroti akan terjadi pelemahan di sektor ekspor pada 2026. Dirinya menjelaskan, hal tersebut merupakan konsekuensi dari performa ekspor yang sangat kuat di tahun 2025, dimana banyak pelaku usaha melakukan percepatan ekspor (front-loading) untuk menghindari ancaman kenaikan tarif global.

"Beberapa sektor mungkin terlihat lebih lemah. Sebagai contoh, ekspor mungkin akan sedikit melemah karena kita telah melihat ekspor yang sangat kuat di tahun 2025, dan ada banyak percepatan ekspor ke berbagai belahan dunia karena ketakutan akan tarif yang lebih besar," ungkap Bhandari. (Surya Mahmuda)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Polda Metro Akan Rekayasa Lalin di Lokasi Pembongkaran Tiang Monorel di Rasuna Said
• 13 jam laluokezone.com
thumb
Foto: Sidang Pelanggaran Kode Etik Auditor Ahli Pratama KPK
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA Kemala Taruna Bhayangkara, Target Beroperasi Juli
• 4 jam laluokezone.com
thumb
2 Terdakwa Kasus Korupsi Jual Beli Gas Divonis 6 dan 5 Tahun Penjara
• 18 jam laludetik.com
thumb
Antisipasi Pengunjung Lelah, Pengelola Candi Borobudur Sedia Shuttle–Kursi Roda
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.