Nilai tukar rupiah melemah 18 poin atau setara dengan 0,11 persen menjadi Rp16.873 per dolar AS pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Lukman Leong analisis mata uang Doo Financial Futures menjelaskan, melemahnya kurs rupiah disebabkan oleh pernyataan hawkish pejabat The Fed mengenai suku bunga.
“Rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dolar AS yg rebound merespons pernyataan hawkish pejabat The Fed William (Presiden The Fed New York John Williams) yang mengisyaratkan bahwa The Fed tidak perlu buru-buru menurunkan suku bunga,” ujarnya dilansir dari Antara.
Lebih lanjut, William menyampaikan bahwa suku bunga AS saat ini telah sesuai dengan kondisi sektor pekerjaan dan inflasi, sehingga pemotongan suku bunga tak perlu dilakukan sesegera mungkin.
Di sisi lain, dolar AS berpotensi menguat seiring data inflasi AS diperkirakan akan naik, sehingga semakin melemahkan kurs rupiah.
“Inflasi inti diperkirakan naik dari 2,6 persen menjadi 2,7 persen, sedangkan inflasi dasar tetap bertahan di 2,7 persen,” ungkap Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp16.800-Rp16.900 per dolar AS. (ant/ily/ham)




