JAKARTA, KOMPAS.com - Hujan baru saja turun dan meninggalkan genangan tipis di aspal Jalan Matraman, Jakarta Timur.
Air memantulkan bayangan kendaraan yang lalu-lalang.
Bus Transjakarta berwarna biru melintas pelan, sepeda motor menyelinap di sela-sela kemacetan, dan mobil pribadi melaju dengan kaca tertutup rapat.
Di sudut jalan, tepat di sekitar halte, ada sosok yang nyaris tak terlihat dalam ritme lalu lintas kota.
Ia berjalan dengan langkah pelan, memanggul tas besar berisi aneka barang kecil yang warnanya mencolok.
Di tengah kota yang kian menuntut kecepatan dan efisiensi, keberadaan pedagang asongan seperti menjadi jeda.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=Jakarta, Pedagang asongan, indepth, cangcimen, pedagang cangcimen, pedagang asongan cangcimen&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8xMy8xMTU5MjIxMS90ZXJnZXJ1cy16YW1hbi1jZXJpdGEtcGVkYWdhbmctY2FuZ2NpbWVuLWJlcnRhaGFuLWRpLWFzcGFsLWpha2FydGE=&q=Tergerus Zaman, Cerita Pedagang "Cangcimen" Bertahan di Aspal Jakarta§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Ia tak masuk ke dalam bus, tak pula memiliki lapak tetap. Ia hanya menunggu kendaraan melambat, menunggu orang berhenti, menunggu kesempatan singkat untuk menawarkan dagangannya.
Ia juga dikenal dengan julukan pedagang "cangcimen", singkatan dari barang-barang yang ia jual yakni kacang, kuaci, dan permen.
Secara umum, cangcimen merujuk pada aneka makanan ringan murah yang dijual satuan.
Barang-barang itu biasanya dibawa dalam tas besar atau kotak, lalu ditawarkan ke pengguna jalan, penumpang angkutan umum, atau orang yang sedang berhenti.
Di bawah flyover, tubuhnya sedikit basah oleh hujan sisa. Pakaiannya sederhana dan wajahnya tampak lelah, tetapi hafal betul irama tempat itu.
Di bangku plastik kecil di pinggir jalan, di antara deru mesin dan bau knalpot, aktivitas jual beli berlangsung dalam skala yang nyaris tak terlihat oleh kota.
Barang dagangan ditata seadanya. Tak ada teriakan promosi, hanya pandangan mata yang berharap ada yang menoleh.
Baca juga: Penumpang Keluhkan Preman Berkedok Pedagang Asongan di Terminal Tanjung Priok
Bertahan di pinggir jalanPria itu adalah Hidayat (52), pedagang cangcimen asal Tasikmalaya. Hampir setiap hari, sejak pagi hingga sore, ia berada di sekitar Halte Matraman.
Di titik itulah ia mencoba peruntungan, menawarkan dagangan kepada siapa pun yang berhenti atau melintas pelan.
Hidayat sudah lama menjalani hidup sebagai asongan. Jalanan Jakarta bukan tempat baru baginya.
“Iya, Asongan lah ini udah lama, udah sempat balik kampung balik lagi sekarang, udah Puluhan Tahun lah," kata Hidayat saat ditemui di Matraman, Jakarta Timur, Senin (12/1/2026).
Dulu, halte dan terminal adalah ruang yang lebih ramah bagi pedagang kecil. Bus-bus antarkota dan angkutan umum memberi waktu cukup lama untuk naik turun penumpang.
Asongan bisa masuk, menawarkan permen atau makanan ringan. Kini, ruang itu menyempit. Aturan berubah, ritme transportasi dipercepat, dan pedagang kecil tersingkir perlahan ke tepi.
Di Matraman, aktivitas itu masih bertahan, meski dengan cara yang berbeda. Pedagang tak lagi naik ke dalam bus.
"Iya, benar dulu mah enak bisa masuk bis Sekarang nggak bisa, kalau sekarang kaya gini angkutan yang lewat atau kayak warga lewat," katanya.
Bagi sebagian orang, berdiri berjam-jam di pinggir jalan mungkin terasa sia-sia. Namun, bagi mereka yang menjalani, tempat itu adalah ruang hidup.
Dari pagi hingga sore, dari hujan hingga terik, halte menjadi titik tetap di tengah kota yang berubah.
Baca juga: Diisukan Gulung Tikar, RSUD Kota Bekasi Ungkap Fakta di Balik Utang Rp 70 Miliar
Modal kecil, risiko besarRutinitas Hidayat dimulai sejak pagi. Ia datang ketika kota belum sepenuhnya ramai.
Jam kerja yang panjang bukan pilihan, melainkan keharusan. Semakin lama berada di jalan, semakin besar peluang dagangan laku.
Hujan bukan alasan untuk pulang. Panas juga tidak. Selama masih bisa berdiri dan berjalan, ia akan bertahan sampai petang.
“Biasa setiap hari di sini dari jam 06.00 WIB sampai sore saya, sampai jam 18.00 WIB lah," kata dia.
Ia tak bekerja untuk siapa pun. Tak ada bos dan tak ada setoran. Semua barang dibeli dengan uang sendiri.
Modal itu dikumpulkan dengan cara mencicil. Kadang dari sisa jualan hari sebelumnya, kadang dari pinjaman kerabat. Barang dibeli satu per satu, sebungkus demi sebungkus.
Jumlahnya memang tak besar jika dilihat sepintas. Namun, bagi pedagang kecil, ratusan ribu rupiah adalah nominal yang besar. Uang itu bukan cadangan, melainkan napas dagangan.
“Ya dihitung-hitung modal ratusan ribu (rupiah) bisa. Pokoknya dicicil Rp 30.000, Rp 50.000," ungkapnya.
Setiap pembelian adalah pertaruhan. Jika hujan turun seharian atau lalu lintas terlalu lancar tanpa berhenti, barang bisa tak laku.
Namun, karena dagangannya bukan barang cepat basi, ia masih bisa berharap menjualnya esok hari. Meski begitu, modal yang berputar lambat membuat ruang geraknya terbatas.
“Enggak tentu sih susah, jual rokok juga ini jarang-jarang. Banyak saingan, namanya jualan. Cuma kan kita jual satuan bisa, kalau di warung enggak bisa," kata dia.
Baca juga: Pedagang Asongan Bekasi Tercekik Pungli Berkedok Sewa Lapak, Dipalak Tiga Tangan
Mengais recehan di jalanPendapatan harian pedagang asongan seperti Hidayat sulit dipastikan. Tak ada target, tak ada jaminan.
Ada hari-hari ketika satu bungkus pun tak terjual, ada pula hari ketika dagangan laku lebih cepat dari biasanya. Namun rata-rata yang didapat tak pernah jauh dari angka puluhan ribu.




