Bisnis.com, JAKARTA — PT OCBC Sekuritas Indonesia memasang target ambisius pada 2026 dengan membidik penambahan sekitar 100.000 investor baru dibandingkan dengan target tahun sebelumnya yang hanya sekitar 9.000 investor.
Direktur Utama OCBC Sekuritas Betty Goenawan mengatakan lonjakan target ini seiring perubahan strategi perusahaan yang kini lebih inklusif dan fokus menggarap segmen investor ritel, khususnya generasi muda.
"Target tahun ini penambahan sekitar 100.000 investor ritel. Boleh dikatakan kami ingin investor ritel naik sekitar 15 kali dibandingkan tahun sebelumnya," ujarnya, Selasa (13/1/2025).
Betty meyakini target tersebut dapat dicapai ditopang kolaborasi strategis dengan OCBC Bank serta optimalisasi ekosistem internal grup.
Dengan strategi baru tersebut, OCBC Sekuritas kini membuka akses investasi seluas-luasnya, termasuk bagi mahasiswa dan investor pemula dengan modal mulai dari Rp100.000 hingga Rp1 juta.
Langkah ini sejalan dengan upaya digitalisasi dan peningkatan literasi pasar modal, terutama di kalangan investor muda.
“Pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya banyak didorong oleh investor ritel, dan kami melihat segmen ini sangat berkelanjutan. Karena itu strategi kami berubah, dari yang sebelumnya membatasi minimum dana, kini menjadi jauh lebih inklusif,” imbuhnya.
Betty memproyeksikan investor ritel diperkirakan masih akan menjadi penopang utama aktivitas transaksi saham pada tahun ini melanjutkan tren yang terlihat sejak paruh kedua 2025.
Dia juga mencermati pada awal tahun ini, pasar saham domestik sempat mencatat euforia yang dinilai lebih baik dibandingkan periode 2023–2025. Meski sempat terkoreksi akibat sentimen global, kondisi tersebut dinilai lebih bersifat jangka pendek.
Faktor lain yang mendorong minat investor ritel adalah menurunnya suku bunga simpanan perbankan. Dengan imbal hasil tabungan yang kini hanya berkisar 1%–2%, saham dinilai menawarkan potensi return yang lebih menarik, rata-rata 9%–15% per tahun, termasuk dividen, sepanjang dikelola secara non-spekulatif.
Selain itu OCBC Sekuritas juga telah menggandeng PT Inovasi Finansial Teknologi dengan platform Makmur untuk melakukan pendekatan business-to-business (B2B) yang terintegrasi dengan mitra kelembagaan.
Sementara itu, Direktur Utama PT Inovasi Finansial Teknologi Sander Parawira menyoroti masih besarnya kesenjangan partisipasi investor saham di Indonesia.
Hingga November 2025, jumlah investor pasar modal tercatat sekitar 19,67 juta, tetapiinvestor saham dan surat berharga lainnya baru mencapai 8,31 juta.
“Artinya, kurang dari separuh investor pasar modal aktif berinvestasi di saham. Padahal, dengan jumlah penduduk usia dewasa Indonesia yang jauh lebih besar, ruang pertumbuhan investor saham masih sangat luas,” ujar Sander.
Dia menambahkan, meskipun jumlah investor saham dan surat berharga lainnya tumbuh 32,46% secara tahunan (year-on-year) pada November 2025, namun tingkat penetrasinya masih relatif rendah dan terfokus di Pulau Jawa.
"Karena itu, integrasi fitur saham di platform Makmur diharapkan dapat memperluas akses dan mendorong peningkatan partisipasi investor saham secara bertahap dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pendalaman pasar modal nasional," katanya.
Di tengah persaingan industri sekuritas yang kian ketat, OCBC Sekuritas menegaskan tidak akan terlibat perang harga. Perusahaan memilih fokus membangun ekosistem layanan terintegrasi dengan OCBC Bank dan unit bisnis lainnya, seperti asuransi, guna meningkatkan loyalitas dan kenyamanan nasabah.



