Garin Nugroho: Industri Film Kita Masih Rapuh, Ibarat Tanaman Tanpa Ekosistem

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Industri film Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan pesat dengan capaian jutaan penonton. Pada 2025, total keseluruhan penonton Indonesia mencapai 149 juta tiket yang terjual di bioskop.

Namun, di balik angka fantastis tersebut, sutradara kawakan Garin Nugroho melihat ada sebuah kerentanan besar. Garin melihat pertumbuhan film nasional saat ini belum merata dan masih sangat bergantung pada kreativitas individu, bukan sistem yang matang.

"Ciri Indonesia itu kan karena kreativitas warga, ya. Maka terjadi lompatan industri, itu karena kreativitas. Bukan karena sistem. Sehingga memang pemerintah itu perlu terima kasih sama warga dalam berbagai profesi," kata Garin ditemui di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Senin (12/1).

Garin Nugroho soal Kondisi Industri Film Indonesia

Garin menganalogikan kondisi industri film Indonesia saat ini seperti tanaman di lahan yang belum tertata. Tanpa ekosistem sehat, pertumbuhan sutradara dan karya berkualitas hanya akan muncul sesekali tanpa konsistensi yang jelas.

"Kalau tanaman itu ekosistemnya belum jadi, yang tumbuh cuma satu, dua, tiga tanaman saja. Tanaman lain enggak jadi. Nah, itu yang perlu dicatat. Pada industri itu selalu sifatnya sporadis, tiba-tiba sukses, tiba-tiba ini. Tapi tidak ada ekosistem dukungan," tutur Garin.

Ketimpangan distribusi penonton juga menjadi sorotan Garin. Bagi Garin, sepanjang 2025, pemusatan penonton pada kelompok genre tertentu masih terjadi. Hal ini merupakan dampak dari absennya strategi politik kebudayaan yang membangun ekosistem secara utuh dari hulu ke hilir.

"Karena tidak pernah terbangun secara utuh, bisa diduga terjadi pemusatan film pada suatu kelompok industri tertentu, lalu ketimpangan. Wah, itu pasti terjadi," ucap Garin.

Sutradara film Kucumbu Tubuh Indahku itu mencontohkan bagaimana negara seperti Iran dan China mampu melahirkan 6 hingga 10 sutradara kelas dunia secara konsisten setiap tahunnya.

Sementara di Indonesia, jumlah sutradara yang mampu menembus festival internasional masih naik-turun secara drastis.

"Kita memerlukan tiap tahun itu 6 sampai 10 sutradara terkemuka dunia di berbagai festival. Dan kita belum mencapai itu. Kita kadang-kadang empat, tiba-tiba tahun depan satu. Ya, tidak stabil. Jadi pertumbuhan yang tidak konsisten karena sistem yang belum terbangun," ungkap Garin.

Untuk mengatasi ketimpangan ini, Garin menyarankan pemerintah tidak lagi tambal sulam. Menurutnya, ada empat pilar utama yang harus diperkuat oleh negara jika ingin industri film nasional benar-benar kokoh, yaitu dukungan dana, fasilitasi, peraturan, dan publikasi.

"Kalau sebuah kolam itu mana yang bocor, mana yang perlu ditambal, kan ada. Baik itu peraturannya, fasilitasi, atau dukungan dana. Empat ini: dana, fasilitasi, peraturan, dan publishing (kehumasan). Kalau enggak, cuma jadi gaduh di media saja," kata Garin.

Garin mencontohkan bahwa nelalui Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), pihaknya pernah menginisiasi program bertajuk "Lab Pulang Kampung". Program itu bertujuan memeratakan kualitas ekosistem perfilman ke daerah yang selama ini kurang tersentuh.

"Kita bikin Lab Pulang Kampung, akan kerja sama dengan Papua, Ambon, Karo, Batak, daerah-daerah. Karena lab internasional sudah bertumbuh besar, tapi lab regional belum. Ini untuk melakukan pertumbuhan ekosistem yang lengkap," ucap Garin.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bupati: Pembangunan huntara di Nagan Raya selesai sebelum Ramadhan
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Sri Mulyani Masuk Dewan Yayasan Gates, Perkuat Fokus Global Pembangunan
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
Ketua Bawaslu Tanggapi Wacana Pilkada melalui DPRD: Tergantung Pembuat Undang-Undang
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Banjir di sejumlah wilayah Jakarta Timur sudah surut
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Presiden Prabowo Resmikan SMA Taruna Nusantara di Malang
• 3 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.