Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sudah tidak mengeluarkan izin impor solar (gasoline) sejak awal tahun 2026. Keputusan ini juga berlaku untuk badan usaha SPBU swasta.
Hal ini seiring dengan diresmikannya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada hari ini, Senin (12/1), dan rencananya proyek biodiesel 50 persen (B50) pada semester II 2026.
"Kita sudah mulai tahun ini, saya tidak lagi mengeluarkan izin impor solar. Mulai tahun ini enggak lagi. Andaikan ada yang masuk di bulan ini atau bulan depan, itu berarti sisa impor 2025," tegasnya kepada awak media di Kilang Balikpapan, dikutip Selasa (13/1).
Bahlil menuturkan disetopnya keran impor Solar dimulai pada jenis cetane number (CN) 48 pada awal tahun ini, kemudian dilanjutkan pada Solar CN 51 dengan kualitas lebih tinggi pada semester II 2026.
"Untuk CN 48 sama sekali sudah setop impor. CN 51-nya semester II tidak kita impor lagi. Semester II tahun ini," tuturnya.
Bahlil memastikan kebijakan ini juga berlaku untuk badan usaha swasta. Dengan demikian, seluruh SPBU tersebut harus membeli produk BBM solar yang diproduksi PT Pertamina (Persero). Dia juga menargetkan BUMN energi tersebut bisa memenuhi seluruh kebutuhan bensin (gasoline) untuk permintaan di dalam negeri, termasuk untuk SPBU swasta. Saat ini, porsi impor bensin Indonesia masih lebih banyak dari produksi domestik.
"Oh iya dong (swasta) semuanya. Saya ke depan itu bermimpi, nanti sebentar saya akan lapor ke Bapak Presiden, bahwa RON 92, RON 95, RON 98, itu harus diproduksi dalam negeri," jelasnya
"Itu sesuai dengan peraturan menteri dan Perpres sejak tahun 2005 bahwa kita harus memprioritaskan produk dalam negeri," imbuh Bahlil.
Proyek RDMP Balikpapan dapat menghemat devisa sebanyak Rp 60 triliun karena peningkatan pengolahan minyak mentah sebanyak 100 ribu barel per hari, menjadi 360 ribu barel per hari, sekaligus menandakan Kilang Balikpapan menjadi yang terbesar di Indonesia.
Proyek ini ditargetkan dapat menekan impor produk BBM bensin, solar, avtur, hingga LPG dengan total Rp 68 triliun setiap tahunnya, yakni mencakup produk BBM, baik itu bensin maupun solar, sebanyak 8,24 juta kiloliter, serta LPG sebanyak 336 ribu ton per tahun.
"RDMP ini bisa menghasilkan bensin 5,8 juta kiloliter per tahun. Konsumsi bensin kita sekarang 38 juta kiloliter per tahun. Produksi dalam negeri kita itu 14,25 juta. Dengan penambahan 5,8 juta, maka impor kita terhadap bensin itu tinggal 19 juta kiloliter," kata Bahlil dalam sambutannya saat Peresmian RDMP Balikpapan.





