REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengumumkan pada Senin (12/1/2026), tiga anak telah meninggal dunia akibat suhu dingin yang ekstrem di kantong terkepung tersebut. Kematian tersebut menambah total jumlah anak yang meninggal sejak awal musim dingin menjadi tujuh jiwa.
Para pejabat pun memperingatkan konsekuensi bencana akibat cuaca kutub yang mengancam sekitar 1,5 juta warga Palestina. Otoritas Pertahanan Sipil dan Rumah Sakit Al-Shifa juga melaporkan empat kematian tambahan yang disebabkan oleh hancurnya sebagian bangunan rusak akibat perang di barat Kota Gaza, dipicu angin kencang dan hujan deras yang melanda wilayah tersebut.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Jangan Cuma Modal Viral, Ini Rahasia Naik Kelas di Industri Kreatif Bareng Prodi Ilmu Komunikasi
- Cuaca Ekstrem di Cirebon, Warga Diminta Waspada
- Ini Rahasia di Balik Mengapa Rasulullah Melakukan Isra Miraj pada Malam Hari
Di Jalur Gaza tengah, ribuan pengungsi di kamp pengungsian Nuseirat terpaksa mencari tempat berlindung di dalam masjid dan bangunan yang sebagian telah hancur setelah angin kencang merobohkan tenda-tenda mereka.
Juru bicara Pertahanan Sipil Mahmoud Basal mengatakan kepada Anadolu Agency, depresi udara kutub baru mulai mempengaruhi Gaza pada Selasa lalu. Dia memperingatkan dampaknya bisa menghancurkan bagi keluarga yang sudah hidup dalam kondisi memprihatinkan.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut Basal, lebih dari 1,5 juta orang saat ini tinggal di tenda, banyak di antaranya tidak mampu menahan cuaca ekstrem. Basal memperingatkan, kondisi yang memburuk dapat menyebabkan korban jiwa lebih lanjut, serta runtuhnya bangunan yang tidak stabil dan banjir di kamp-kamp pengungsian.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)


