jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah menggencarkan proyek fasilitas penambangan dan pengolahan bauksit terintegrasi yang berlokasi Mempawah, Kalimantan Barat.
Proyek itu dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), yang merupakan inisiasi dari Anggota Grup MIND ID yakni PT Aneka Tambang Tbk, dan PT Indonesia Asahan Aluminium.
BACA JUGA: Optimasi Hilirisasi Bauksit Nasional, Potensi Ciptakan Nilai Tambah Triliunan Rupiah
Kehadiran fasilitas pemurnian tersebut menjadi tonggak penting dalam transformasi struktur industri pertambangan nasional, dari yang selama ini didominasi ekspor bahan mentah menuju industri bernilai tambah guna mendukung pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Padahal, Indonesia tercatat memiliki total sumber daya bauksit sekitar 7,78 miliar ton.
BACA JUGA: Prabowo Segera Bangun Proyek Hilirisasi dan Energi Senilai USD 6 Miliar Pada Februari
Jika seluruh cadangan dijual dalam bentuk bahan mentah dengan asumsi harga 40 Dolar AS per metrik ton, potensi nilai ekonominya hanya sekitar 311,2 miliar Dolar AS atau setara Rp 5.238 triliun dengan asumsi kurs JISDOR Rp 16.834 per dolar AS.
Namun, nilai ekonomi dari sumber daya alam mineral Indonesia tersebut melonjak ketika bauksit diolah lebih lanjut.
BACA JUGA: Sinergi Hilirisasi Batu Bara Mewujudkan Kemandirian Energi Nasional
Bila diproses lebih lanjut melalui proses pemurnian, maka 3 ton bauksit akan menghasilkan 1 gon alumina.
Maka, dari cadangan yang sama, potensi produksi alumina diperkirakan mencapai 2,59 miliar ton.
Dengan asumsi harga 400 Dolar AS per metrik ton, nilai ekonominya meningkat sekitar 1.037 miliar Dolar AS atau setara Rp 17.435 triliun.
Pada tahap produksi aluminium, setidaknya diperlukan 2 ton alumina untuk menghasilkan aluminium.
Dengan demikian, estimasi produksi sekitar 1,29 miliar ton aluminium dan harga 3.000 Dolar AS per metrik ton, dan total nilai ekonomi yang dapat diciptakan mencapai sekitar 3.885 miliar Dolar AS atau setara Rp 65.145 triliun.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW) Ferdy Hasiman menilai bahwa langkah hilirisasi bauksit yang diinisiasi MIND ID melalui proyek itu menunjukkan transformasi dari pola pertambangan ekstraktif menuju ekosistem industri terintegrasi.
“Di 2025, MIND ID sudah menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Mereka mulai meninggalkan pola lama pertambangan ekstraktif dan tampil sebagai garda terdepan dalam menekan defisit neraca pembayaran melalui hilirisasi berbagai komoditas mineral,” ujar Ferdy dalam keterangannya.
Sementara itu, Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmi Radhi menuturkan bahwa keberhasilan hilirisasi di Mempawah menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan larangan ekspor bijih bauksit mampu dioptimalkan untuk membangun kedaulatan industri yang berkelanjutan.
“Di sisi ekonomi, proyek SGAR menciptakan dampak berganda di Kalimantan Barat melalui penyerapan tenaga kerja dan pengembangan infrastruktur,” kata dia.
Secara keseluruhan, penguatan hilirisasi bauksit melalui SGAR menjadi instrumen jangka panjang pemerintah untuk mengamankan bahan baku industri strategis sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar mineral dunia.
Adapun, perbandingan tersebut menunjukkan besarnya potensi value creation yang dihasilkan dari hilirisasi bauksit, sekaligus menegaskan pentingnya penguatan kapasitas pemurnian alumina sebagai fondasi industri aluminium nasional.
Kajian International Aluminium Institute menyebutkan kapasitas pemurnian alumina adalah indikator utama daya saing industri aluminium suatu negara.
Dengan beroperasinya hilirisasi bauksit-aluminium terintegrasi di Mempawah, Indonesia kini menempati posisi strategis untuk menyuplai kebutuhan aluminium global, khususnya bagi industri manufaktur, transportasi, dan energi terbarukan. (mcr4/jpnn)
Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Ryana Aryadita Umasugi



