Pemerintah Republik Federal Somalia membatalkan semua perjanjian dengan Uni Emirat Arab (UEA), termasuk kesepakatan pelabuhan dan kerja sama pertahanan dan keamanan. Alasannya, UEA telah merusak kedaulatan nasionalnya.
Keputusan ini diambil di tengah ketegangan atas pengakuan Israel atas Somaliland yang memisahkan diri dari Somalia. Juga adanya laporan bahwa pihak UEA menggunakan wilayah Somalia untuk membantu Aidarous al-Zubaidi, pemimpin separatis Yaman (STC), melarikan diri dari Yaman selatan menuju Abu Dhabi, UEA.
“Dewan Menteri telah membatalkan semua perjanjian yang disepakati dengan Uni Emirat Arab, termasuk yang melibatkan lembaga pemerintah federal, entitas afiliasi, dan administrasi regional yang beroperasi di wilayah Republik Federal Somalia,” demikian pernyataan dari Dewan Menteri Somalia pada Senin (12/1) seperti dikutip dari Arab News, Selasa (13/1).
“Keputusan ini berlaku untuk semua perjanjian dan kemitraan yang berkaitan dengan pelabuhan Berbera, Bosaso, dan Kismayo ... (dan) perjanjian kerja sama keamanan dan pertahanan bilateral,” tambah pernyataan tersebut.
Dewan Menteri atau kabinet adalah lembaga eksekutif yang dipimpin perdana menteri—sekaligus kepala pemerintahan. Sedangkan presiden merupakan kepala negara.
Atas keputusan Dewan Menteri, Presiden Mohamed Farmaajo menyambut baik.
"Saya menyambut baik keputusan Kabinet untuk membatalkan semua perjanjian dengan UEA atas pelanggaran ilegal terhadap kedaulatan nasional kami. Keputusan ini memang sangat terlambat, namun lebih baik daripada tidak dilakukan sama sekali. Integritas wilayah dan persatuan Somalia adalah fondasi dari kebijakan luar negeri kami,” tulisnya di X.
Antara Somaliland dan Separatis YamanMengutip AFP, terdapat perbedaan yang kian mendalam antara Somalia dan UEA terkait sejumlah isu. UEA dipandang secara diam-diam mendukung langkah Israel bulan lalu yang mengakui Somaliland.
Israel menjadi negara pertama yang memberi pengakuan sejak Somaliland menyatakan kemerdekaan dari Somalia pada tahun 1991.
UEA membangun dan mengoperasikan pelabuhan laut dalam serta pangkalan militer yang besar di Berbera, Somaliland.
Ketegangan kembali memuncak minggu lalu setelah Arab Saudi menuduh UEA membantu seorang pemimpin separatis Yaman, Aidarous Al Zubaidi, melarikan diri menggunakan kapal dan pesawat melalui Berbera dan ibu kota Somalia, Mogadishu, menuju Abu Dhabi.
Lembaga imigrasi Somalia menyatakan mereka tengah menyelidiki "dugaan penggunaan wilayah udara dan bandara nasional Somalia tanpa izin”.
Pemerintah Somalia tidak secara langsung menyebutkan pengakuan atas Somaliland atau dugaan pelarian Zubaidi dalam pernyataannya saat membatalkan kesepakatan dengan UEA.
Pemerintah Somalia menyatakan bahwa keputusan tersebut "didasarkan pada laporan-laporan kredibel dan bukti-bukti kuat mengenai tindakan bermusuhan yang merusak kedaulatan nasional, kesatuan wilayah, dan kemandirian politik negara tersebut".
"Keputusan kabinet hari ini diambil setelah periode kesabaran yang panjang oleh kepemimpinan pemerintah federal," kata mereka.




