EtIndonesia. Bagi orang Barat yang memiliki tulisan tangan berantakan, sekitar tahun 1870-an adalah masa yang sangat menggembirakan. Saat itu, mesin ketik baru saja ditemukan. Banyak orang percaya bahwa tulisan tangan yang semrawut akhirnya bisa diubah menjadi rapi dan efisien.
Namun, pada masa itu, perusahaan pemimpin pasar mesin ketik justru menerima banyak keluhan dari pelanggan. Masalahnya sederhana tetapi serius: kecepatan mengetik terlalu tinggi, sehingga batang-batang huruf pada mesin ketik sering saling bertabrakan dan tersangkut.
Para insinyur pun mengadakan rapat penting untuk mencari solusi. Setelah diskusi panjang, seorang insinyur mengemukakan pendapat yang terdengar sederhana namun menentukan:
“Kita harus mencari cara untuk memperlambat kecepatan mengetik pengguna. Dengan begitu, batang huruf tidak akan saling bertabrakan.”
Akhirnya, mereka memutuskan untuk menyusun ulang posisi huruf pada papan ketik. Huruf-huruf yang paling sering digunakan sengaja ditempatkan pada jari manis dan kelingking—dua jari yang relatif lebih lemah dan sulit digerakkan dengan cepat. Dengan cara ini, kecepatan mengetik pun berhasil diperlambat.
Susunan huruf ini kemudian dikenal sebagai tata letak QWERTY, dan terus digunakan hingga hari ini.
Ironisnya, meskipun teknologi telah berkembang pesat, mesin ketik manual telah lama digantikan oleh mesin ketik listrik dan komputer—di mana masalah batang huruf saling tersangkut sudah tidak ada lagi—namun manusia tetap terbiasa dan bertahan menggunakan tata letak lama tersebut.
HikmahTerlalu terpaku pada kebiasaan lama dapat menjadi penghalang besar bagi kemajuan.
Untuk menembus batas, kita harus berani mematahkan pola lama, menelusuri akar masalah, dan menciptakan jalan baru dengan gaya sendiri. (jhn/yn)





