Sepanjang tahun 2025, perfilman Indonesia mencatat dua sejarah rekor film terlaris sepanjang masa. Capaian tersebut terjadi dalam satu tahun yang sama, menandai tingginya jumlah penonton bioskop nasional.
Namun, data yang dibagikan sutradara sekaligus produser Angga Dwimas Sasongko menunjukkan adanya ketidakmerataan distribusi penonton. Dari lebih dari 120 juta tiket bioskop yang terjual sepanjang 2025, sekitar 21 juta tiket hanya berasal dari dua judul film. Artinya, sebagian besar film lain harus berbagi sisa penonton dalam persaingan layar yang semakin sempit. Kondisi ini berdampak pada masa tayang sejumlah film yang relatif singkat serta keterbatasan kesempatan film untuk menjangkau penonton.
Analisis Suka Nonton Film (SNF) mencatat kondisi tersebut sebagai penurunan tingkat keberhasilan (win rate) film Indonesia. Secara kuantitas, jumlah produksi dan penonton meningkat, tetapi keberhasilan komersial terkonsentrasi pada sebagian kecil judul.
“Ini bukan soal iri pada film yang sukses besar,” ujar Dio, perwakilan SNF. “Ini soal menyadari bahwa semakin banyak film yang dibuat, justru semakin sedikit yang benar-benar punya ruang untuk bernapas dan bertahan.”
Menurut Dio, volatilitas memang karakteristik industri hiburan. Namun ketika jurang antara film yang ‘menang besar’ dan film yang ‘gugur diam-diam’ semakin lebar, maka risiko tidak lagi ditanggung bersama.
“Kalau win–lose rate-nya terlalu ekstrim, arus modal akan tersendat. Bukan karena industri tidak berkembang, tetapi karena terlalu banyak karya yang tidak sempat menemukan penontonnya,” lanjutnya. “Di titik ini, transformasi tidak bisa ditunda—baik dari cara memproduksi, membaca pasar, maupun merancang strategi rilis.”
SNF juga mencatat, banyak film diperlakukan dengan asumsi peluang yang sama saat dirilis, tanpa pemetaan risiko dan potensi pasar sejak awal. Dalam kondisi persaingan layar yang ketat, film dengan kualitas produksi yang baik sekalipun dapat kehilangan jadwal tayang dalam waktu singkat.
Di tengah euforia rekor dan headline besar, data ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah penonton nasional belum sepenuhnya mencerminkan pemerataan kesempatan bagi seluruh film yang dirilis, serta masih menyisakan tantangan dalam distribusi layar dan strategi penayangan di bioskop.





