Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Indonesia hari ini masih volatil seperti yang terjadi pada perdagangan kemarin tatkala IHSG sempat tersungkur lebih dari 2%. Volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut hari ini terlihat dari pemangkasan apresiasi 115 indeks poin atau lebih dari 1% kenaikan IHSG lenyap dalam hitungan menit.
Pagi tadi, indeks dibuka naik 59,74 poin atau 0,67% ke level 8.944,46, namun pada akhir sesi pertama berakhir stagnan hingga pada awal perdagangan sesi kedua turun dalam hingga ke level 8.841,02 sebelum kembali lompat pada akhir perdagangan sesi kedua.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melesat 0,72% atau lompat 63,58 poin ke level 8.948,30 pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (13/1/2025). IHSG berhasil menguat meski pasar saham domestik masih dalam fase volatilitas yang tinggi.
Sebanyak 348 saham naik, 327 turun, dan 131 tidak bergerak. Total nilai transaksi hari ini tergolong sangat ramai atau mencapai Rp 33,43 triliun yang melibatkan 62,87 miliar saham dalam 3,80 juta kali transaksi.
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta mengatakan, volatilitas pasar saham Tanah Air disebabkan oleh faktor eksternal yang berasal dari sentimen geopolitik global. Para investor menyoroti campur tangan pemerintah Amerika Serikat (AS) terhadap independensi The Fed yang memungkinkan terjadinya tekanan politik pada kebijakan suku bunga acuan.
Di sisi lain, data ekonomi AS yang dirilis pekan lalu yang menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja yang melambat, mendukung ekspektasi kebijakan pelonggaran moneter The Fed yang kemungkinan besar dimulai pada kuartal II-2026.
"Hal ini tentunya juga mendorong tren kenaikan harga emas dunia disamping dari meningkatnya tensi geopolitik, serta dinamika perilisan inflasi AS per Desember 2025 yang diperkirakan semakin cooling down," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (13/1/2026).
Sementara dari domestik, Nafan melanjutkan, sentimen pasar berasal dari pemerintah yang menerapkan strategi ketahanan energi dan peningkatan efisiensi produksi nasional.
Hal ini dilaksanakan ketika pemerintah meresmikan peningkatan kapasitas Kilang Balikpapan senilai US$ 7,4 miliar, demi meningkatkan output bahan bakar dan petrochemical domestik, serta mengurangi ketergantungan impor bahan bakar.
Seperti diketahui, saham-saham konglomerat, khususnya Grup Bakrie tercatat masih menjadi yang paling ramai diperdagangkan hari ini dan merupakan pendorong IHSG ke zona merah. Saham BUMI dan BRMS tercatat terkoreksi lebih dari 5% pada perdagangan hari ini, sedangkan saham DEWA ambruk 10% lebih.
Hanya sektor konsumer non-primer dan industri yang tercatat mengalami koreksi hari ini, sedangkan sektor properti dan infrastruktur menguat paling signifikan.
Tiga saham Grup Bakrie masuk dalam jajaran empat emiten paling membebani kinerja indeks hari ini.Saham Bumi Resources (BUMI), Bumi Resources Minerals (BRMS) dan Darma Henwa (DEWA) secara kumulatif menyumbang koreksi 22,53 indeks poin.
Adapun saham-saham yang menjadi penopang kinerja positif IHSG hari ini termasuk ASII, TLKM, MBMA, BREN dan MDKA.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut, volatilitas pada saham-saham tersebut diperkirakan berkaitan dengan ancaman tarif 25% kepada negara yang berhubungan dagang dengan Iran
"Saya kira tidak heran, saham (Grup Bakrie dan Grup Barito) memang cenderung spekulatif dan tidak mencerminkan valuasi yang realistis. Selain itu, walau tidak dapat dikonfirmasi, namun menurut saya ada kemungkinan volatilitas ini berkaitan dengan ancaman tarif 25% kepada negara yang berhubungan dagang dengan Iran, mungkin ada paparan atau tidak. Karena tidak ada kepastian, maka saham-saham kedua grup itu menjadi volatil," jelasnya.
(fsd/fsd)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472088/original/014791700_1768310720-1000312991.jpg)