Likes, views, dan komentar sering kali menjadi ukuran keberhasilan komunikasi korporat di era digital. Semakin tinggi angkanya, semakin dianggap sukses. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah angka-angka itu benar-benar mencerminkan kepercayaan dan pemahaman publik? Atau justru hanya menunjukkan bahwa sebuah pesan lewat begitu saja tanpa meninggalkan dampak berarti?
Sebagai mahasiswa komunikasi, saya melihat bahwa komunikasi korporat sampai saat ini masih sering terjebak pada kesibukan. Perusahaan aktif membuat konten, menggelar acara, dan merespons isu dengan cepat. Namun, tanpa evaluasi yang jelas, dan terstruktur semua aktivitas itu bisa kehilangan arah dan tujuan.
Apakah benar di tengah derasnya arus informasi digital, batas antara komunikasi internal dan eksternal semakin tipis?Pesan yang seharusnya hanya untuk karyawan bisa dengan mudah tersebar ke publik. Jika budaya korporat tidak sehat misalnya minim keterbukaan atau komunikasi satu arah risikonya bukan hanya konflik internal, tetapi juga krisis reputasi.
Karena itu, evaluasi menjadi penting. Evaluasi membantu perusahaan tidak hanya menghitung apa yang sudah dilakukan, ataupun dikerjakan tetapi juga memahami bagaimana pesan diterima dan apa dampaknya. Komunikasi yang baik bukan hanya soal sampai atau tidaknya pesan, tetapi apakah pesan itu dipahami dan mampu membangun kepercayaan.
Sayangnya, masih banyak sekali organisasi yang merasa sukses hanya karena engagement tinggi di media sosial. Padahal, angka-angka tersebut belum tentu mencerminkan pemahaman atau sikap publik, bahkan anggota di dalamnya sendiri. Evaluasi yang lebih mendalam justru membantu perusahaan melihat masalah lebih awal, sebelum berkembang menjadi krisis yang lebih besar.
Bagi saya sebagai mahasiswa, pembelajaran ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa teori komunikasi tidak berhenti di ruang kelas saja. Dunia kerja membutuhkan komunikator yang tidak hanya kreatif, tetapi juga kritis dan mampu membaca dampak dari setiap strategi komunikasi.
Di Indonesia, tantangan ini semakin banyak dan mulai terasa. Perusahaan dituntut lebih transparan, responsif, dan bertanggung jawab di hadapan publik. Tanpa evaluasi yang jelas, komunikasi korporat berisiko hanya menjadi formalitas tanpa makna.
Ya pada akhirnya, budaya korporat adalah fondasi utama komunikasi. Strategi yang canggih tidak akan bertahan lama jika tidak didukung budaya yang sehat dan evaluasi yang jujur. Di era digital, evaluasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Bagi generasi muda dan mahasiswa komunikasi, kesadaran ini penting sebagai bekal menghadapi dunia profesional. Komunikasi yang baik bukan hanya tentang terlihat aktif, tetapi tentang mampu memberi dampak dan membangun kepercayaan.





