EtIndonesia. Pasukan khusus Amerika Serikat baru-baru ini melancarkan serangan mendadak ke Venezuela dan berhasil menangkap hidup-hidup Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya. Dalam operasi tersebut, tidak ada tentara AS yang tewas, hanya beberapa orang yang mengalami luka ringan.
Menurut kesaksian salah satu pengawal Maduro, militer AS saat itu menggunakan sebuah “senjata misterius” yang membuat kepala mereka terasa seolah “meledak dari dalam”. Para pengawal langsung berlutut ke tanah, mimisan hebat, dan sama sekali tidak mampu melawan.
Pada 10 Januari 2026, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt membagikan kesaksian seorang pengawal Maduro di platform media sosial X. Pengawal tersebut mengatakan bahwa saat kejadian ia sedang bertugas berjaga, namun semua sistem radar tiba-tiba mati tanpa peringatan.
Selanjutnya, ia melihat banyak drone berputar di atas pos mereka. Ketika masih kebingungan, muncul sekitar delapan helikopter, dan sekitar 20 tentara AS turun dari helikopter tersebut. Namun, perlengkapan dan teknologi para prajurit itu sangat canggih. Sang pengawal mengatakan:
“Mereka sama sekali tidak terlihat seperti musuh mana pun yang pernah kami hadapi sebelumnya.”
Pengawal itu melanjutkan: “Kami berjumlah ratusan orang, tetapi sama sekali tidak punya peluang menang. Tembakan mereka sangat presisi dan cepat. Rasanya setiap tentara bisa menembakkan sekitar 300 peluru per menit.”
Kemudian muncul senjata yang hingga kini masih membuat pengawal tersebut ketakutan:
“Saat itu mereka menembakkan sesuatu—saya tidak tahu bagaimana menggambarkannya—seperti gelombang suara yang sangat kuat. Tiba-tiba saya merasa kepala saya seperti meledak dari dalam. Kami semua mulai mimisan, beberapa bahkan muntah darah. Kami roboh ke tanah dan sama sekali tidak bisa bergerak.”
Ia mengenang: “Setelah serangan senjata gelombang suara itu, kami bahkan tidak bisa berdiri. Dua puluh orang itu, tanpa korban sama sekali, membunuh ratusan dari kami. Kami benar-benar tidak mampu menandingi teknologi dan senjata mereka. Saya bersumpah, saya belum pernah melihat pemandangan seperti itu seumur hidup saya. Setelah senjata suara itu digunakan, kami bahkan tidak sanggup berdiri.”
Setelah menyaksikan semuanya dengan mata kepala sendiri, pengawal tersebut memperingatkan siapa pun yang berniat melawan Amerika Serikat agar “jangan pernah memprovokasi mereka.”
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt juga membagikan ulang kesaksian pengawal tersebut di platform X, disertai komentar: “Hentikan apa pun yang sedang Anda lakukan dan bacalah ini.”
Menurut laporan sebelumnya, pada 3 Januari, Presiden AS Donald Trump memerintahkan penyerbuan ke istana kepresidenan Venezuela. Militer AS mengerahkan sekitar 150 pesawat tempur dan hampir 200 personel, sementara pasukan khusus Delta Force hanya membutuhkan sekitar 5 menit untuk berhasil menangkap pasangan Maduro dan membawa mereka ke New York untuk diadili. (Hui)
Sumber : NTDTV.com




