Aurelie Moeremans Jadi Korban Grooming, Pentingnya Mengenali Perilaku Pelecehan Anak

genpi.co
3 jam lalu
Cover Berita

GenPI.co - Aktris cantik Aurelie Moeremans membagikan kisah kelamnya sebagai korban child grooming dalam memoar Broken Strings.

Dia mengungkapkan tekanan psikologis yang dirasakannya setelah mengalami pelecehan.

Studi menemukan bahwa perilaku tertentu lebih mudah dikenali sebagai pelecehan seperti membiarkan anak duduk di pangkuan orang dewasa atau membawa anak ke kamar mandi sendirian.

Namun, strategi lain seperti memilih korban yang rentan atau yang sangat ramah dan patuh, sering sulit terdeteksi.

Selain itu, karena kesadaran masyarakat terhadap pelecehan masih relatif baru, banyak orang belum memiliki pengetahuan cukup untuk mengenali perilaku yang berbahaya.

Untuk mengatasi keterbatasan ini, kelompok penelitian mengembangkan Model Pelecehan Seksual (Sexual Grooming Model/SGM).

Model ini merupakan upaya pertama yang tervalidasi untuk memahami strategi pelecehan secara sistematis dan mengidentifikasi taktik yang bisa dikenali sebelum pelecehan terjadi.

Dilansir Psychology Today, berdasarkan penilaian dari 18 ahli, SGM mencakup lima tahapan. Apa saja?

1. Memilih Korban

Pada tahap awal, pelaku mengidentifikasi calon korban yang rentan, baik secara psikologis, emosional, maupun karena keadaan keluarga.

Misalnya, anak kurang pengawasan atau tinggal di rumah tangga orang tua tunggal.

2. Memperoleh Akses dan Mengisolasi Anak

Pelaku berusaha mendapatkan akses ke anak, misalnya menjadi sukarelawan atau mendapatkan kepercayaan wali anak.

Setelah itu, pelaku mencoba menjauhkan anak dari teman sebaya atau orang dewasa yang merawatnya.

Tindakan tersebut bisa berupa mengajak anak pergi sendirian atau menginap.

3. Membangun Kepercayaan dengan Anak dan Orang Dewasa di Sekitarnya

Pelaku berusaha mendapatkan kepercayaan dari anak dan orang-orang penting dalam kehidupan anak.

Dengan begitu, pelaku bisa mengakses anak tanpa menimbulkan kecurigaan sekaligus memanipulasi orang dewasa untuk mendukung atau menutup mata terhadap tindakannya.

4. Mendesensitisasi Anak terhadap Konten Dewasa dan Kontak Fisik

Tahap ini biasanya terjadi tepat sebelum pelecehan.

Pelaku memperkenalkan anak pada konten dewasa sambil meningkatkan kontak fisik agar sentuhan terasa biasa bagi anak.

5. Perilaku Pemeliharaan Setelah Terjadinya Pelecehan

Setelah pelecehan terjadi, pelaku menggunakan berbagai strategi agar bisa melanjutkan perilakunya dan menghindari deteksi.

Taktik ini sering kali melibatkan manipulasi psikologis, membuat anak merasa bersalah, bertanggung jawab, dan takut akan konsekuensi jika menceritakan pelecehan yang dialami. (*)

Simak video pilihan redaksi berikut ini:


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Megawati Instruksikan Kader PDIP Solid Bantu Korban Bencana di Sumatra dan Aceh
• 9 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Child Grooming, Ancaman Nyata di Era Konektivitas
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Wapres Gibran Dorong Penguatan Program Pariwisata Berkelanjutan di Rakornas Kepariwisataan 2026
• 6 jam laludisway.id
thumb
Polda Metro Evakuasi Puluhan Penumpang Kapal Mati Mesin di Pulau Onrust
• 12 jam laludetik.com
thumb
Hasil Rakernas PDI-P: Negara Tak Boleh Dikendalikan Kepentingan Pemodal Besar
• 14 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.