REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW bertamu ke rumah Abu Bakar ash-Shidiq. Ketika sedang bercengkerama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab badui menemui Abu Bakar.
Tanpa basa-basi, lelaki badui itu langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata- kata kotor keluar keluar dari mulut orang itu. Namun, sahabat yang juga mertua Nabi SAW itu tidak menghiraukannya.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Penyucian Jiwa Menurut Said Hawwa
- Keunikan Suku Samin, Mempertahankan Budaya Leluhur di Pulau Paling Modern se-Indonesia
- Guru Besar FISIP UMJ Bahas Pengembangan Soft Power Menuju Indonesia Emas 2045
Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat tindakan sahabatnya ini, Nabi SAW tersenyum.
Namun kemudian, orang Arab badui itu kembali memaki-maki Abu Bakar. Kali ini, cercaan, makian dan hinaannya lebih kasar lagi.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah SAW kembali memberikan senyum. Semakin marahlah orang Arab badui ini.
Untuk ketiga kalinya si badui mencerca Abu Bakar dengan makian yang jauh lebih menyakitkan. Kali ini---selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu---Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab badui itu dengan makian pula.
Terjadilah perang mulut. Seketika itu, Rasulullah SAW beranjak dari tempat duduknya. Beliau meninggalkan Abu Bakar sesudah mengucapkan salam dengan lirih.
Melihat hal ini, selaku tuan rumah Abu Bakar pun menjadi tersadar dan sekalgus bingung. Dikejarnya Rasulullah SAW yang sudah sampai di seberang jalan.
Kemudian, dengan suara tergesa-gesa Abu Bakar memanggil beliau. "Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku," pintanya.
Rasulullah SAW menjawab, "Sewaktu ada seorang Arab badui datang lalu mencelamu, dan engkau tidak menanggapinya, aku tersenyum karena banyak Malaikat di sekelilingmu yang akan membelamu di hadapan Allah. Begitu pun, yang kedua kali ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para Malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum.
Namun, ketika kali yang ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh Malaikat pergi meninggalkanmu. Hadirlah Iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya."
Demikian Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk bersabar menahan amarah, dengan tidak membalas keburukan dengan hal-hal yang buruk pula.
Dalam sebuah hadis, Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat, "Apa yang kalian pikirkan tentang tarung?"
Mereka menjawab, "Orang yang tidak terkalahkan walau dikeroyok beberapa orang."
"Bukan itu. Petarung sejati ialah orang yang mengendalikan dirinya ketika marah," jelas Rasulullah SAW (HR Muslim).


