Aurelie Moeremans Buka Luka Lama, Psikolog Jelaskan Proses Panjang Pemulihan Trauma Kekerasan Seksual

tvonenews.com
4 jam lalu
Cover Berita

tvOnenews.com - Memoar Broken Strings karya artis Aurelie Moeremans sukses menjadi trending topic di berbagai platform media sosial.

Buku ini menyentuh hati banyak pembaca karena menyingkap kisah masa lalu Aurelie yang penuh luka dan perjuangan.

Dalam memoir tersebut, Aurelie dengan jujur menceritakan bagaimana dirinya pernah mengalami bullying, eksploitasi, hingga kekerasan dalam hubungan yang tidak sehat sejak usia remaja.

Salah satu bagian yang paling banyak disorot publik adalah kisahnya dengan seorang pria bernama “Bobby” (nama samaran), yang disebut menjalin hubungan dengannya ketika Aurelie masih berusia 15 tahun.

Pria tersebut berusia 29 tahun pada saat itu, sehingga publik menilai adanya unsur grooming dan ketimpangan kekuasaan yang jelas.

Kisah tersebut membuat banyak orang menyoroti isu kekerasan dan manipulasi dalam relasi yang melibatkan remaja di bawah umur.

Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi, melalui kanal YouTube Gemilang Sehat, ikut memberikan pandangan profesionalnya mengenai isu ini.

Ia menjelaskan bahwa trauma akibat kekerasan seksual merupakan salah satu bentuk luka psikologis paling kompleks dan mendalam, dan proses pemulihannya tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Menurut Gisella, langkah pertama yang paling penting ketika menghadapi korban kekerasan seksual, terutama anak atau remaja, adalah memastikan keamanan fisik dan emosional mereka.

"Kita harus safety first. Pastikan anak atau remaja berada dalam kondisi yang aman dan tidak lagi berdekatan dengan pelaku. Jangan buru-buru ingin tahu kronologinya, tapi pikirkan dulu keselamatannya,” ujarnya.

Setelah kondisi aman, tahap berikutnya adalah memberikan ruang aman untuk bercerita.

Gisella menekankan bahwa korban harus diberikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya tanpa paksaan.

“Kadang mereka cuma bisa menangis atau bilang ‘aku nggak nyaman’. Itu harus diterima dulu. Jangan buru-buru menasehati atau menghakimi,” katanya.

Ia juga menyoroti kesalahan umum masyarakat yang sering kali menyalahkan korban. Pertanyaan seperti “kenapa nggak lari?”, “kenapa nurut?”, “kenapa pakai baju begitu?” justru memperparah trauma.

Gisella menegaskan bahwa pendekatan yang lebih tepat adalah mendengarkan tanpa penilaian, serta memberikan empati tulus terhadap apa yang dialami penyintas.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
PNM perkuat narasi pemberdayaan lewat “Perempuan Lentera Kehidupan” di MRT Bundaran HI
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Prabowo: Dengan Pengetahuan dan Teknologi, Kita Bisa Capai Peradaban Tinggi
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
KONI Jatim Matangkan Strategi Hadapi PON Bela Diri II 2026 di Manado
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Menhan Tinjau Batalyon Teritorial di Kutai, Cek Senjata-Kesejahteraan Prajurit
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Lebih Pilih Garuda daripada Jamaika, John Herdman: Indonesia Punya Visi dan Suporter Luar Biasa!
• 10 jam lalumatamata.com
Berhasil disimpan.