Sepiring Nasi Goreng Anglo: Cara Kediri Menjaga Ritmenya

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Di banyak kota besar, makan malam identik dengan pesan cepat lewat aplikasi. Tinggal klik, makanan datang dalam waktu singkat. Namun, di Kediri, ada satu ritual yang tetap bertahan dari gempuran budaya serba-instan itu: menunggu sepiring nasi goreng anglo.

Ketika malam mulai merayap, Kediri seolah bersalin rupa. Di sepanjang trotoar, dari sudut jalan Dhoho yang legendaris hingga gang-gang sempit di pinggiran kota, pemandangan seragam mulai bermunculan: pendar oranye dari tungku-tungku tanah liat yang berjejer rapi.

Nasi goreng anglo bukan sekadar menu yang terselip di daftar kuliner; ia adalah napas malam bagi kota ini. Aroma arang, bunyi sodet menghantam wajan, dan orang-orang yang duduk tanpa tergesa menghadirkan suasana yang mulai jarang ditemui di kota-kota cepat.

Di tengah ritme hidup yang makin menuntut efisiensi, Kediri menawarkan jeda yang hangat dan pelan lewat bara arang yang menyala pelan. Dari sini cerita nasi goreng anglo di Kediri sebenarnya dimulai: bukan dari rasa, tetapi dari ritme.

Ritual Membara yang Tidak Bisa Didikte

Di salah satu sudut yang riuh, seorang penjual tampak tenggelam dalam dunianya sendiri. Tak ada suara desis kompor gas yang bising, yang ada hanyalah suara kepakan kipas bambu yang bergerak konstan, menjaga agar bara tetap bernyawa.

Keringat tipis di dahi sang penjual berkilat tertimpa cahaya api yang menari-nari. Tangannya begitu cekatan mengaduk nasi di atas wajan hitam yang telah melandai dimakan usia.

Nasi goreng anglo tidak dimulai dari wajan panas, ia dimulai dari menyusun arang secara manual. Butuh sekitar 10–15 menit sampai anglo siap dipakai. Para pembeli yang datang sudah tahu konsekuensinya: menunggu.

Suatu malam di sebuah lapak, seorang pembeli berkata ringan, “Santai wae, Mas. Nasi goreng ora iso dikejar” (Santai saja, Mas. Nasi goreng tidak bisa dikejar). Semua tertawa kecil. Di sini, tidak ada yang sibuk mengecek jam.

“Kalau pakai gas itu panasnya kesusu (terburu-buru),” ujar si penjual sambil memasukkan nasi. “Kalau arang ini, nunggu sedikit, rasanya keluar.”

Saat nasi mulai digoreng, suara sodet menghantam wajan jadi musik kecil yang akrab. Wangi bawang putih terangkat ke udara, dicampur aroma kecap yang karam di besi panas. Panas dari anglo tidak meloncat-loncat, tapi naik pelan dari dasar, menghantarkan panas secara merata.

Di titik ini, kontras dengan kehidupan modern terlihat tajam. Berbeda dengan makanan instan dan restoran cepat saji, nasi goreng anglo memilih jalur sebaliknya: pelan, pasti, dan dengan kesabaran sebagai syarat.

Sepiring Kesabaran, Pengorbanan, dan Kesederhanaan

Butuh waktu bagi bara untuk matang. Butuh waktu bagi nasi untuk mengilat. Butuh waktu bagi rasa untuk muncul. Semua itu tidak bisa dikejar.

Anglo dan arang sebenarnya menyimpan filosofi yang menarik. Pertama, api kecil dan sabar. Memasak dengan arang tidak bisa memakai api besar yang akan menghanguskan bumbu. Arang memberi panas stabil yang seolah berbisik: yang buru-buru, justru akan gagal.

Kedua, arang simbol pengorbanan. Ia menghitam, mengecil, lalu habis demi memberi rasa dan kehangatan pada yang lain. Arang mengingatkan bahwa tidak semua yang penting perlu tampak, sebagian bekerja di balik layar yang lain mendapat pujian.

Ketiga, anglo simbol kesederhanaan. Terbuat dari tanah liat, anglo tampak sederhana, rapuh, dan mudah pecah. Namun, justru dari kerapuhannya ia kokoh memikul bara selama bertahun-tahun. Ia mengajarkan bahwa hal-hal besar seringkali lahir dari sesuatu yang sederhana.

Rasa Smoky yang Tidak Bisa Ditiru oleh Kompor Gas

Soal rasa, nasi goreng anglo punya karakter yang mustahil ditiru kompor gas, apalagi wajan antilengket atau kompor listrik. Bukan sekadar asin-gurih-kecap, tapi ada aroma asap (smoky) yang menempel tipis pada nasi dan telur.

Rasa smoky itu bukan bumbu. Ia adalah hasil fisika dan waktu. Arang memberi elemen alam: panasnya dari kayu, bukan dari logam. Para peneliti kuliner menyebutnya sebagai “terroir”, yaitu rasa yang lahir bukan dari resep, melainkan dari lingkungan: malam yang berangin, anglo dari tanah liat, arang kayu, dan tangan yang terlatih.

Pembeli yang datang pun sering tidak mencari variasi menu. Tidak ada saus keju, tidak ada topping mozarella meleleh. Yang ada hanya sederhana: kecap, bawang, telur, ayam atau jeroan, dan nasi. Dari kesederhanaan itulah nostalgia bekerja. Bukti kota ini masih mempertahankan sesuatu yang tidak ikut hilang oleh tren.

Ruang Sosial yang Jarang Kita Sadari

Menunggu nasi goreng anglo menciptakan ruang sosial yang unik. Tidak semua pembeli saling mengenal, tapi jarang ada yang benar-benar asing. Obrolan ringan muncul dari hal-hal sederhana: cuaca, bola, tempat kerja, sampai cerita tentang lapak anglo favorit.

Di kursi plastik tua, ponsel lebih banyak disimpan. Tidak ada yang merasa perlu cepat selesai. Tidak ada yang merasa rugi menunggu. Satu dua orang dari luar kota sering terkejut melihat kelambatan ini. Bagi warga Kediri, inilah cara kota menjaga ritmenya sendiri di tengah paksaan dunia yang serba cepat.

Kewarasan Dalam Sepiring Nasi Goreng Anglo

Pada akhirnya, nasi goreng anglo bukan tentang rasa dan nostalgia semata. Ia soal kesabaran dan tahu batas. Arang mengajari bahwa proses tidak bisa dilewati. Anglo mengajari bahwa hal sederhana bisa memikul peran penting. Dan penjualnya mengajari bahwa rasa butuh waktu.

Di masa serba instan, pesan seperti ini kadang terdengar klise. Tapi sepiring nasi goreng anglo membuktikannya tanpa banyak kata.

Bara mungkin padam dan arang tinggal abu, namun kita belajar satu hal penting: tidak semua hal berharga dalam hidup hadir melalui kecepatan. Kadang, ia justru hadir lewat penantian, proses, dan kesabaran yang tulus


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
13 Film Romantis Terbaik, Ada ‘Hamnet’ Pemenang Golden Globes Awards 2026!
• 14 jam lalutheasianparent.com
thumb
Ketua Komisi II DPR: Kunjungan Presiden Prabowo ke IKN adalah Pesan 'No Point to Return'
• 10 jam lalusuara.com
thumb
Khabib Nurmagomedov Ungkap Kebusukan UFC, Suka Pecat Petarung MMA Baik
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Terlibat dalam Film Kuyank, Rio Dewanto Jatuh Cinta pada Kalimantan
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Mengapa Perempuan Harus Cantik dan Laki-Laki Harus Kuat?
• 13 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.