Sejak lama, kita hidup dengan standar yang seolah sudah pakem. Perempuan diharapkan cantik, berkulit putih, bertubuh langsing, dan berpenampilan menarik. Sementara laki-laki dituntut untuk kuat, tidak cengeng, mandiri, dan mampu mencari uang. Standar ini terasa begitu normal sampai jarang dipertanyakan. Padahal, kalau dipikir ulang, siapa sebenarnya yang menentukan semua itu? Gambaran tersebut terus kita temui dalam kehidupan sehari-hari, terutama lewat media dan iklan. Perempuan sering ditampilkan sebagai sosok dengan rambut panjang berkilau, wajah mulus, dan tubuh ideal. Iklan seolah memberi pesan bahwa nilai perempuan terletak pada penampilannya. Di sisi lain, laki-laki digambarkan sebagai pekerja keras, pemimpin, dan sosok yang jarang menunjukkan emosi. Kuat menjadi ukuran utama harga diri mereka. Masalahnya, standar ini tidak lahir secara alami. Ia dibentuk dan diulang terus-menerus oleh budaya patriarki yang membagi peran berdasarkan gender. Perempuan diarahkan ke ranah domestik dan penampilan, sementara laki-laki diarahkan ke ranah publik dan kekuatan. Ketika pembagian ini dianggap wajar, banyak orang akhirnya merasa harus menyesuaikan diri meski bertentangan dengan keinginannya sendiri. Dampaknya cukup besar. Perempuan sering merasa tertekan untuk selalu tampil cantik demi diterima, bahkan sampai mengorbankan kesehatan fisik dan mental. Perempuan yang tidak sesuai standar kecantikan kerap diremehkan atau dianggap kurang menarik. Sementara itu, laki-laki juga tidak benar-benar diuntungkan. Mereka dipaksa untuk selalu terlihat kuat, menahan emosi, dan memikul beban sebagai pencari nafkah utama. Ketika gagal memenuhi standar tersebut, mereka sering disalahkan. Standar ini juga membuat ruang gerak menjadi sempit. Laki-laki yang lembut atau menyukai hal-hal yang dianggap feminin sering distigma. Perempuan yang lebih fokus pada karier atau tidak tertarik pada urusan domestik pun kerap dipertanyakan. Padahal, tidak ada yang salah dengan menjadi perempuan yang tidak selalu cantik versi iklan, atau laki-laki yang tidak selalu kuat versi masyarakat. Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan lagi mengapa perempuan harus cantik dan laki-laki harus kuat, tetapi mengapa kita terus mempertahankan standar yang membatasi. Setiap orang seharusnya punya ruang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa harus memenuhi label tertentu hanya karena jenis kelaminnya. Melepaskan diri dari standar gender memang tidak mudah, karena sudah terlanjur dianggap normal. Namun, dengan mulai mempertanyakannya, kita setidaknya membuka ruang untuk kehidupan yang lebih adil. Perempuan dan laki-laki bukan soal cantik atau kuat semata, tetapi soal menjadi manusia seutuhnya.




