JEPARA, KOMPAS — Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, yang sempat terisolasi akibat tanah longsor pada Jumat (9/1/2026) sudah mulai bisa diakses dengan kendaraan roda dua atau sepeda motor pada Selasa (13/1/2026). Pemulihan akses dari dan menuju desa itu terus diupayakan sehingga mobilitas masyarakat bisa kembali normal.
Bencana tanah longsor pada di Desa Tempur terjadi pada Jumat, setelah wilayah itu diguyur hujan lebat selama beberapa hari. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyebut, ada 23 titik longsor di desa itu.
Akibat longsor, sebanyak tujuh rumah warga rusak ringan hingga sedang. Dua tempat usaha yang dikelola warga juga rusak karena bencana itu. Meterial longsor juga sempat menutup akses jalan menuju desa tersebut. Akibatnya, sebanyak 3.600 keluarga yang bermukim di desa itu sempat terisolasi.
Pada Selasa, akses dari dan menuju desa itu sudah terbuka. Meski belum bisa dilewati kendaraan roda empat atau lebih, jalanan di desa itu sudah mulai bisa dilalui dengan kendaraan roda dua atau sepeda motor.
“Jadi, untuk logistik itu sudah bisa diangkut menggunakan sepeda motor yang dipasangi beronjong. Alat berat kan sudah bisa masuk, mudah-mudahan bisa segera dipinggirkan supaya nanti minimal mobil bisa lewat,” kata Sekretaris Daerah Jateng Sumarno, Selasa.
Sumarno mengatakan, hujan lebat diperkirakan masih akan terus terjadi di Jateng hingga beberapa waktu ke depan. Untuk itu, ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Menurut Sumarno, selain karena hujan lebat, bencana tanah longsor yang terjadi di Jepara terjadi karena kerusakan lingkungan di kawasan Gunung Muria. Ia berharap, semua pihak terlibat dalam upaya pemulihan lingkungan sehingga ke depan, bencana serupa tidak berulang.
Pada Selasa, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi meninjau lokasi longsor di Jepara. Menurutnya, penanganan bencana di lokasi itu tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga akan dilakukan secara struktural dan berkelanjutan sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan normal.
“Salah satu fokus utama adalah penataan alur sungai. Rencananya, di sebelah kanan akan kita tangani dulu, baru kemudian bisa dibangun jalan,” ucapnya.
Luthfi mengatakan, untuk sementara waktu, kebutuhan makan dan minum warga dipenuhi oleh dapur umum yang dibangun dinas sosial. Meski aksesnya masih terbatas, Luthfi juga memastikan pasokan bahan pokok tetap bisa masuk ke Desa Tempur.
Dalam penanganan bencana di desa tersebut, pemerintah telah menyalurkan berbagai bantuan, mulai dari pasokan bahan pokok, dukungan kelompok usaha bersama (KUBE), hingga Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp 260 juta. Bantuan-bantuan itu, menurut Luthfi, bakal ditambah apabila masih belum cukup.
Bupati Jepara Witiarso Utomo akan menyesuaikan langkah penanganan sesuai hasil evaluasi di lapangan. Menurutnya, saat ini, fokus utama Pemerintah Kabupaten Jepara adalah memulihkan akses dan memastikan aktivitas warga tetap dapat berjalan.
“Kami memastikan penanganan tidak hanya pada pembukaan akses jalan, tetapi juga kebutuhan warga, terutama anak-anak sekolah, kesehatan, dan keamanan lingkungan,” ujarnya.
Tak hanya di Jepara, tanah longsor juga terjadi di sepuluh desa di tiga kecamatan di Kabupaten Pati. Total ada 121 titik longsor yang ada di desa-desa tersebut. Dalam bencana itu, 20 unit rumah terdampak.
Di samping tanah longsor, Jateng juga dilanda banjir. Banjir terjadi di Pati dan Kudus. Di Pati, banjir melanda 59 desa di 15 kecamatan. Banjir merusak enam rumah warga, 15 titik talud, sejumlah akses jalan dan sebuah musala. Sedikitnya 46 orang sempat mengungsi akibat banjir di Pati.
Sementara itu, di Kudus, banjir merendam enam kecamatan. Sedikitnya 33.789 jiwa terdampak bencana itu. Bahkan, tiga orang dilaporkan tewas dalam bencana tersebut.
Kepala Dinas Sosial Jateng Imam Maskur mengatakan, bantuan logistik telah disalurkan ke tiga kabupaten yang terdampak bencana, yaitu Jepara, Pati, dan Kudus.
“Bantuan terdiri atas permakanan, seperti makanan siap saji, makanan anak, dan lauk-pauk siap saji. Selanjutnya ada tenda keluarga, tenda gulung, kasur, selimut, family kit, kids ware, termasuk pakaian anak dan dewasa,” kata Imam.
Bantuan-bantuan itu, bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jateng dan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Berdasarkan data Dinas Sosial Jateng, logistik yang disalurkan atas bencana di Jepara senilai Rp 140.755.720, untuk Kabupaten Pati senilai Rp 133.306.218, dan untuk Kabupaten Kudus senilai Rp 188.014.483.
Selain bantuan logistik, BPBD Jateng bersama BPBD Kabupaten Pati, Kudus, dan Jepara dan instansi terkait juga sudah menerjunkan personel ke lokasi bencana. Fokus utama dalam penanganan bencana di tiga kabupaten tersebut adalah memastikan seluruh warga terdampak dalam kondisi aman.




