MerahPutih.com - Real Madrid menyetujui kepergian Xabi Alonso atas kesepakatan bersama pada Senin (12/1) malam waktu setempat.
Namun, berbagai media meragukan versi kejadian tersebut, yang merinci bagaimana keputusan itu diambil.
Posisi Alonso dipertanyakan sejak awal Desember 2025 lalu, setelah kekalahan telak dari Celta Vigo dan Manchester City.
Setelah itu, Alonso harus memenangkan pertandingan berikutnya untuk mempertahankan posisinya. Ia juga diberi waktu hingga Piala Super Spanyol untuk menunjukkan peningkatan.
Setelah meraih lima kemenangan beruntun, Los Blancos kalah 3-2 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol.
Baca juga:
Pecat Xabi Alonso, Real Madrid Tunjuk Alvaro Arbeloa sebagai Pelatih
Real Madrid Tidak Senang dengan Gaya Main Xabi Alonso Real Madrid tak senang dengan gaya main Xabi Alonso. Foto: Dok. Real MadridMeskipun keputusan tersebut disebut sebagai kesepakatan bersama, tetapi laporan Cadena Cope menyebutkan, bahwa Alonso tidak memulai Senin dengan niat meninggalkan Real Madrid.
Mundo Deportivo bahkan mengatakan, bahwa Presiden Real Madrid, Florentino Perez, sama sekali tidak senang dengan penampilan klub di final Piala Super Spanyol.
Kemudian, manajemen Madrid bertemu dengan Alonso di tempat latihan Valdebebas. Klub menyatakan keprihatinan mereka atas permainan tersebut, sementara Alonso menyampaikan keresahannya karena posisinya selalu menjadi sorotan.
Selama pertemuan itu, Marca melaporkan bahwa klub mengusulkan kepergian Alonso sebagai opsi yang mungkin terjadi. Mereka melakukan itu setelah menganalisis musim sejauh ini, kemudian merasa bahwa proyeknya tidak menunjukkan kemajuan.
Baca juga:
Joao Cancelo Sudah Tiba di Barcelona, Siap Dipinjamkan hingga Akhir Musim
Performa Real Madrid Memburuk di Era Xabi Alonso Performa Real Madrid terbilang kurang di era Xabi Alonso. Foto: Dok. Real MadridLos Blancos memulai era baru bersama Alonso dengan 13 kemenangan dari 15 pertandingan, tetapi tidak termasuk Piala Dunia Antarklub.
Mereka hanya kalah sekali dari Atletico Madrid dalam 14 pertandingan pembuka musim ini. Itu termasuk kemenangan El Clasico atas Barcelona di Bernabeu, yang mengakhiri rentetan empat kekalahan beruntun.
Hasil tersebut didasarkan pada sistem tekanan tinggi terorganisir, yang solid secara defensif.
Baca juga:
Kalah Lagi dari Barcelona, Sikap Kylian Mbappe di Final Piala Super Spanyol Picu Kontroversi
Namun, setelah berselisih dengan berbagai pemain bintang sebagai akibat dari gaya bermainnya, Alonso melonggarkan kendali atas timnya.
Ia juga menyesuaikan diri dengan gaya yang lebih terbuka dan serangan balik. Sejak saat itu, hasil dan performa tidak sesuai harapan. Pada akhirnya, menyebabkan berakhirnya masa jabatannya di Real Madrid. (sof)




