Jiwa Sensitif yang Terluka, Tak Henti Bertahan di Tekanan Zaman

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Di tengah kebisingan zaman yang memuja kecepatan, produktivitas, dan ketahanan tanpa cela, jiwa yang sensitif sering kali berdiri sebagai pihak yang paling sunyi sekaligus paling terluka. Ia tidak berteriak, tidak pula selalu tampak rapuh di permukaan. Namun di balik diamnya, jiwa sensitif menanggung tekanan berlapis tekanan untuk kuat, untuk relevan, untuk tidak “berlebihan”, dan yang paling kejam: tekanan untuk menyesuaikan diri dengan dunia yang tidak dirancang untuk kepekaan.

Jiwa sensitif bukanlah kelemahan biologis atau gangguan mental yang perlu disembuhkan. Ia adalah cara merasakan dunia secara lebih dalam, lebih jujur, dan lebih utuh. Namun justru karena kedalaman itulah, ia menjadi sasaran empuk zaman yang serba kasar. Dunia hari ini tidak memberi ruang bagi perasaan yang lambat. Empati dianggap menghambat efisiensi, refleksi dinilai sebagai kemalasan, dan keheningan dipandang sebagai ketertinggalan. Akibatnya, jiwa sensitif dipaksa hidup dengan standar yang bukan miliknya.

Tekanan zaman hadir dalam berbagai rupa: tuntutan ekonomi yang tidak manusiawi, budaya kerja yang memuja burnout sebagai lencana kehormatan, serta media sosial yang mengubah hidup menjadi panggung kompetisi tanpa akhir. Bagi jiwa sensitif, semua itu bukan sekadar rangkaian peristiwa eksternal, melainkan pengalaman emosional yang meresap hingga ke lapisan terdalam kesadaran. Setiap kegagalan terasa personal, setiap kritik menembus lebih jauh dari yang seharusnya, dan setiap ketidakadilan meninggalkan bekas yang lama sembuhnya.

Ironisnya, luka yang dialami jiwa sensitif sering kali tidak diakui. Masyarakat lebih cepat bersimpati pada penderitaan yang terlihat patah tulang, kehilangan materi, atau musibah besar daripada pada kelelahan batin yang sunyi. Jiwa sensitif diminta untuk “lebih tebal”, “jangan baper”, atau “belajar kuat”, seolah-olah kepekaan adalah kesalahan moral. Bahasa semacam ini tidak netral; ia adalah bentuk kekerasan simbolik yang meremehkan pengalaman batin seseorang.

Di ruang kerja, jiwa sensitif kerap terjepit. Ia peduli pada proses, pada relasi antar manusia, pada makna di balik pekerjaan. Namun sistem hanya menilai hasil akhir dan angka. Ketika ia mempertanyakan etika, ia dicap tidak realistis. Ketika ia menolak ritme kerja yang merusak kesehatan mental, ia dianggap tidak kompetitif. Pada titik ini, kepekaan bukan hanya tidak dihargai, tetapi juga dihukum.

Tekanan yang terus-menerus ini melahirkan luka yang tidak selalu bernama. Bukan depresi klinis, bukan pula gangguan yang mudah didiagnosis, melainkan kelelahan eksistensial, rasa lelah karena harus terus menekan diri sendiri agar sesuai dengan dunia. Jiwa sensitif belajar untuk menyembunyikan perasaannya, meminimalkan kebutuhannya, dan menormalisasi penderitaan. Ia bertahan, bukan karena kuat, melainkan karena tidak diberi pilihan lain.

Namun bertahan bukan berarti baik-baik saja. Bertahan sering kali berarti mengorbankan bagian diri yang paling jujur. Banyak jiwa sensitif tumbuh menjadi dewasa yang terputus dari emosinya sendiri, takut merasa terlalu dalam, takut dianggap lemah, takut menjadi beban. Mereka belajar mencintai dunia sambil terus melukai diri sendiri secara perlahan.

Yang lebih mengkhawatirkan, zaman ini justru mengambil keuntungan dari kepekaan. Empati dijadikan alat pemasaran, kepedulian diperas menjadi konten, dan kelelahan emosional dijadikan bahan motivasi murahan. Jiwa sensitif diminta memberi tanpa henti, memahami semua pihak, dan tetap tersenyum. Ketika akhirnya runtuh, ia disalahkan karena tidak cukup tangguh.

Padahal, jika ditarik lebih dalam, justru jiwa sensitiflah yang selama ini menjaga kemanusiaan tetap hidup. Dari merekalah lahir seni, kritik sosial, kepedulian terhadap yang tertindas, dan keberanian untuk mempertanyakan arah zaman. Kepekaan adalah alarm moral masyarakat. Ketika ia dilumpuhkan, yang tersisa hanyalah dunia yang efisien tetapi dingin, produktif tetapi hampa.

Maka pertanyaannya bukan lagi bagaimana jiwa sensitif bisa menyesuaikan diri dengan tekanan zaman, melainkan apakah zaman ini bersedia berubah agar tetap layak dihuni oleh manusia. Dunia yang sehat seharusnya memberi ruang bagi berbagai cara merasa dan berpikir, bukan memaksakan satu model ketahanan yang seragam. Ketangguhan sejati bukanlah kebal terhadap rasa sakit, melainkan kemampuan untuk hidup tanpa menyangkal kemanusiaan sendiri.

Jiwa sensitif yang terluka, hingga hari ini, masih bertahan. Ia bertahan dengan cara-cara kecil: menulis untuk bernapas, mencintai secara diam-diam, memilih empati meski sering disakiti. Namun bertahan tidak boleh menjadi satu-satunya narasi. Sudah waktunya kita berhenti menuntut jiwa sensitif agar terus kuat, dan mulai menuntut sistem yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih berbelas kasih.

Karena jika jiwa sensitif terus dipaksa bertahan sendirian, yang hancur bukan hanya mereka, tetapi juga sisa-sisa nurani zaman itu sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bahlil Tak Beri Izin Impor Solar Sejak Awal 2026, SPBU Swasta Beli ke Pertamina
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Review Film Penerbangan Terakhir: Love Bombing Pramugari Cantik
• 11 jam lalugenpi.co
thumb
Bantah Terima Uang di Proyek Pengadaan Chromebook, Tim Hukum Nadiem Minta Google Dihadirkan di Persidangan
• 12 jam laluharianfajar
thumb
AS Tetapkan Ikhwanul Muslimin di Mesir-Yordania Sebagai Kelompok Teroris
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Cek Jam Buka Bank BNI 2026 agar Tak Salah Datang ke Kantor Cabang
• 13 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.