Tidak hanya fokus kuantitas, namun yang terpenting adalah kualitas. Itulah semboyan pemuda dan pemangku kebijakan dalam pendidikan. Pendidikan berkualitas adalah fondasi utama dalam membangun masa depan bangsa. Melalui pendidikan berkualitas, generasi muda tidak hanya dibekali dengan pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan nilai-nilai karakter bangsa yang membuat mereka siap menghadapi tantangan zaman.
Hal ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu agenda pembangunan global yang disepakati oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak tahun 2015 dan terdiri dari 17 tujuan yang ingin dicapai pada tahun 2030. Salah satunya adalah SDGs 4, yang menekankan pendidikan berkualitas, inklusif, adil, dan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua.
Di Indonesia, fokus pendidikan merupakan amanah konstitusi sebagai tujuan negara Indonesia dalam UUD Negara RI tahun 1945 sebagai mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih lanjut komitmen ini untuk mendukung agenda global yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024–2029, yaitu dokumen perencanaan pembangunan lima tahunan yang menjadi pedoman pemerintah. Dalam RPJMN 2024 – 2025. Salah satu agenda strategis utama adalah penguatan sumber daya manusia, pendidikan, kesehatan, serta inovasi untuk mendorong daya saing bangsa (Bappenas, 2024).
Namun, kenyataan di lapangan masih menunjukkan tantangan besar terutama dalam kualitas pendidikan pemuda. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mencatat bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia memang meningkat menjadi 74,39, tetapi capaian ini belum sepenuhnya mencerminkan pemerataan kualitas sumber daya manusia muda di seluruh daerah.
Pemuda di Papua dan Papua Barat, misalnya, memiliki kesempatan belajar yang lebih terbatas dibandingkan dengan rekan mereka di DKI Jakarta atau Daerah Istimewa Yogyakarta yang sudah lebih maju. Meski demikian, faktor internal dari diri pemuda juga memegang peranan penting. Motivasi belajar, kedisiplinan, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk mengembangkan diri menjadi kunci utama dalam menentukan kualitas mereka, bahkan ketika fasilitas pendidikan tidak selalu memadai. Jika generasi muda mampu menumbuhkan semangat belajar mandiri dan memanfaatkan peluang yang ada, maka keterbatasan eksternal bisa dilampaui. Sebaliknya, tanpa kesadaran dan tekad dari dalam diri, peluang yang luas sekalipun akan sulit menghasilkan perubahan nyata.
Tantangan lain datang dari kualitas keterampilan generasi muda kita. Laporan World Economic Forum (WEF) tahun 2023 menyoroti adanya kesenjangan keterampilan atau skill gap, khususnya dalam literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan inovasi. Padahal, keterampilan inilah yang paling dibutuhkan di era industri digital dan globalisasi.
Banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi masih kesulitan beradaptasi dengan tuntutan dunia kerja karena tidak memiliki keterampilan yang relevan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan banyak lulusan, tetapi harus benar-benar fokus pada kualitas. Namun, kualitas tersebut pada akhirnya juga sangat ditentukan oleh sikap internal pemuda itu sendiri sebagai refleksi.
Semangat untuk terus belajar, keberanian mencoba hal baru, dan kemauan beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi faktor utama yang akan membedakan generasi muda yang siap bersaing dengan yang hanya menjadi penonton.
Peran pemuda sebagai agen perubahan tidak berhenti pada wacana, tetapi harus diwujudkan melalui kesadaran serta tindakan nyata yang lahir dari dalam diri mereka (motivasi internal). Kekuatan terbesar generasi muda terletak pada kemampuan untuk memimpin diri sendiri berupa menumbuhkan semangat belajar yang konsisten, berani keluar dari zona nyaman, dan mengasah kreativitas agar mampu menjawab tantangan zaman.
Dengan modal ini, mereka bisa melahirkan gagasan baru, membangun jejaring kolaborasi, serta menciptakan solusi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Inovasi-inovasi kecil yang lahir dari desa, komunitas, maupun kampus dapat menjadi fondasi besar bagi perubahan bangsa. Bila tekad dan potensi internal ini terus dipupuk, generasi muda tidak hanya akan menjadi penerus pembangunan, tetapi juga penentu arah sejarah/peradaban.
Pemuda dengan kualitas pendidikan yang baik akan membawa Indonesia melangkah lebih percaya diri menuju visi 2045 sebagai negara maju. Ketika pemuda memiliki visi, semangat, dan tekad yang kuat, mereka mampu mengubah dunia (Nelson mandela).
Gambar 1. Aksi PEMUDA 4.0 untuk SDGs 4
Pemerataan Pendidikan: Tantangan dan HarapanPemerataan pendidikan masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas pada 2024 baru mencapai 9,22 tahun dan ditargetkan naik menjadi 9,82 tahun pada 2029 (RPJMN). Mayoritas masyarakat Indonesia baru menempuh pendidikan hingga setara SMP, meskipun harapan lama sekolah sudah mencapai 13,21 tahun, yang artinya semakin banyak peluang untuk mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.
Namun, kesenjangan masih lebar, di Papua Pegunungan rata-rata lama sekolah hanya 5,10 tahun, sementara di DKI Jakarta lebih dari 11 tahun (BPS, 2024). Kesenjangan ini menunjukkan bahwa masalah pemerataan bukan sekadar soal angka partisipasi, tetapi juga kesempatan yang nyata bagi setiap anak muda untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Di sinilah aksi pemuda menjadi kunci. Peran mahasiswa dan komunitas muda menjadi kunci untuk perbaikan kualitas pemeratan, menjadi agen perubahan di tengah keterbatasan. Kesadaran untuk membangun kampung halamanya sangat diharapkan. Program seperti Kampus Mengajar memberi ruang bagi mahasiswa untuk turun langsung ke sekolah-sekolah di daerah 3T, mengisi kekurangan guru, sekaligus memotivasi siswa agar tetap bersemangat belajar.
Di beberapa daerah, anak muda juga menginisiasi gerakan literasi digital dengan membuka kelas membaca gratis, membuat perpustakaan komunitas, hingga menyebarkan konten edukatif di media sosial. Sementara itu, komunitas belajar daring yang digagas pemuda mampu menjangkau siswa yang sulit mengakses fasilitas pendidikan formal, sehingga mereka tetap memiliki kesempatan belajar secara fleksibel.
Aksi-aksi ini membuktikan bahwa generasi muda tidak pasif menunggu perubahan dari pemerintah. Mereka justru menjadi pionir yang bergerak dari bawah, menghadirkan solusi kreatif untuk menutup celah ketidakmerataan. Lebih dari sekadar kegiatan sosial, langkah ini mencerminkan kesadaran bahwa kualitas bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan generasinya.
Dengan semangat gotong royong, tekad berbagi ilmu, dan kepedulian yang tulus, pemuda menunjukkan bahwa mereka bukan hanya bagian dari masalah, tetapi justru ikut berkontribusi dalam solusi. Jika aksi-aksi ini terus diperkuat dan didukung, maka cita-cita pemerataan pendidikan berkualitas di seluruh Indonesia bukan lagi sekadar target, melainkan kenyataan yang akan lahir dari tangan generasi muda sendiri.
Mutu Belajar: Literasi, Numerasi, dan PISAKualitas belajar masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Hasil PISA 2022 menempatkan Indonesia jauh di bawah rata-rata OECD dengan skor membaca 359, matematika 366, dan sains 383. Lebih memprihatinkan, hanya 25 persen siswa Indonesia yang mencapai level minimal dalam membaca, jauh tertinggal dibanding rata-rata OECD 74% (OECD, 2023). Hasil Asesmen Nasional 2023 juga menunjukkan capaian literasi baru mencapai 60,89 dan numerasi 51,36, dengan target 2029 masing-masing 66,89 dan 59,86 (Kemdikbudristek, 2023). Data ini menegaskan bahwa peningkatan kualitas belajar membutuhkan terobosan serius.
Di sinilah peran pemuda harus lebih nyata. Generasi muda tidak hanya berstatus sebagai penerima manfaat pendidikan, tetapi juga sebagai aktor penggerak inovasi. Pemuda yang akrab dengan teknologi dapat menciptakan metode belajar kreatif, seperti gamification untuk membuat pembelajaran lebih interaktif, AI-based tutoring untuk pendampingan personal, dan microlearning yang menyesuaikan kebutuhan belajar singkat namun mendalam. Selain itu, gerakan literasi berbasis komunitas yang dipelopori anak muda, misalnya menginisiasi taman baca, klub diskusi, atau ruang belajar digital terbukti mampu meningkatkan budaya membaca di luar sekolah formal. Jadi pemuda jangan hanya memegang smartphone hanya kebanyakan scrol media sosial dan bermain game, tapi justru gunakan untuk literasi dan melek teknologi.
Dengan mengoptimalkan kreativitas, teknologi, dan jejaring sosial yang mereka miliki, pemuda bisa menjadi motor penggerak perubahan dalam ekosistem pendidikan Indonesia. Aksi nyata ini akan mendekatkan Indonesia pada target peningkatan kualitas literasi dan numerasi sekaligus menutup kesenjangan capaian global yang selama ini masih tertinggal.
Pendidikan Tinggi dan Relevansi Dunia Kerja
Akses pendidikan tinggi di Indonesia masih menghadapi keterbatasan. Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi baru 31,45% pada 2023, dengan target dalam RPJMN sebesar 38,04% pada 2029 (BPS, 2023). Sementara itu, proporsi penduduk berusia diatas 15 tahun dengan pendidikan tinggi hanya 10,15%, meski ditargetkan naik ke 12,68% pada 2029. Kesenjangan ini terasa lebih tajam di pedesaan, di mana keterbatasan infrastruktur dan biaya membuat banyak anak muda kesulitan melanjutkan ke jenjang kuliah.
Namun, tantangan terbesar bukan hanya soal akses, tetapi juga relevansi pendidikan tinggi terhadap dunia kerja. Data BPS (2024) menunjukkan tingkat pengangguran lulusan S1 masih 5,18%, menandakan adanya skill mismatch yang cukup serius. Artinya meskipun kuantitas pendidikan tinggi, namun masih terdapat ketidakrelevanan dengan skill dunia kerja. Hal ini dikuatkan oleh temuan Bappenas (2023) bahwa persentase pekerja lulusan menengah/tinggi dengan keahlian relevan baru 66,3%, meski ditargetkan naik ke 67,66% pada 2029. Artinya, banyak lulusan yang memiliki ijazah, tetapi tidak memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Dalam kenyataan ini, pemuda tidak bisa hanya mengandalkan kurikulum formal. Mereka harus mengambil peran aktif dengan upskilling dan reskilling mandiri, misalnya melalui kursus daring, bootcamp digital, atau pelatihan vokasi yang sesuai tren industri. Lebih jauh, semangat kewirausahaan juga perlu ditumbuhkan. Banyak start-up berbasis teknologi yang digagas anak muda terbukti mampu menciptakan lapangan kerja baru, memperluas inovasi, sekaligus mengurangi beban pengangguran. Dengan begitu, pemuda bukan hanya pencari kerja, tetapi juga pencipta kerja.
Iptek, Inovasi, dan ProduktivitasDi era global, kekuatan bangsa tidak lagi hanya ditentukan oleh sumber daya alam, melainkan oleh kapasitas inovasi dan penguasaan iptek. Namun, posisi Indonesia dalam Global Innovation Index masih rendah, peringkat ke-61 (2023) dengan skor 30,3 (WIPO, 2023). Pengeluaran riset juga hanya 0,28% dari PDB (2020), jauh tertinggal dibanding negara maju yang umumnya melampaui 2% (World Bank, 2021). Di sisi lain, tantangan produktivitas masih nyata, seperti tingkat pengangguran terbuka 4,91 persen (2024) dan ditargetkan turun menjadi 4,0 sampai 4,7% pada tahun 2029, sementara partisipasi angkatan kerja perempuan sebesar 56,42% (BPS, 2024).
Dalam kondisi ini, generasi muda harus tampil sebagai motor penggerak inovasi. Mahasiswa, peneliti muda, dan komunitas kreatif dapat mengembangkan solusi berbasis teknologi, membangun social enterprise, atau menghadirkan aplikasi digital yang langsung menyasar kebutuhan masyarakat. Contoh konkret adalah MASA AI, start-up yang didirikan mahasiswa Indonesia di Silicon Valley, Amerika Serikat, yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan keterampilan bahasa Inggris jutaan siswa dan pekerja Indonesia (CNN Indonesia, 2024).
Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi yang pesat, pemuda jangan terjebak pada konsumerisme dan kebiasaan buruk. Namun harus mampu melihat peluang dalam teknologi untuk bisa menciptakan karya atau bahkan produktifitas diri. Kuncinya dimulai dari meningkatkan literasi teknologi dan menguasai bahasa asing.
Inovasi pemuda tidak harus menunggu laboratorium besar atau modal besar. Aksi nyata bisa dimulai dari tekad dalam diri sendiri berupa kesadaran dan aksi untuk terus berkreasi, berinovasi, dan berkolaborasi. Dengan memadukan teknologi, solidaritas sosial, dan semangat kewirausahaan, pemuda dapat meningkatkan produktivitas nasional sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di tengah kompetisi global.
KesimpulanData indikator pendidikan dan iptek menegaskan adanya tantangan besar yang harus dihadapi: rata-rata lama sekolah yang masih terbatas, capaian literasi dan numerasi yang rendah, akses pendidikan tinggi yang belum merata, hingga investasi riset yang jauh di bawah standar global. Meski demikian, setiap tantangan tersebut juga menyimpan peluang besar bagi generasi muda untuk mengambil peran.
Dengan kreativitas, pemanfaatan teknologi, dan kepedulian sosial, pemuda dapat menjadi penggerak percepatan tercapainya SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas). Mereka bukan sekadar penerima manfaat, melainkan aktor utama dalam memperluas akses pendidikan, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memperkuat ekosistem inovasi dan produktivitas nasional.
Apabila generasi muda mampu mengisi ruang kosong ini secara konsisten, maka cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan lagi sebatas slogan, melainkan bisa diwujudkan. Menjadi sebuah bangsa yang berdaya saing global, berfondasi pendidikan berkualitas, dan kualitas anak mudanya yang menakjubkan. Dengan demikian Indonesia emas diawali dengan aksi kecil nyata emas dari pemudanya dari lini masa.





