Pantau - Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran, menyatakan tengah menyiapkan rencana transisi kekuasaan bagi Iran melalui sebuah inisiatif bernama Iran Prosperity Project, yang menargetkan perubahan konstitusi dan penyelenggaraan pemilu nasional pasca-keruntuhan rezim saat ini.
Skema Transisi dan Fase StabilisasiDalam wawancara dengan surat kabar Italia Corriere della Sera yang dipublikasikan Selasa (13/1), Reza Pahlavi menegaskan bahwa skenario transisi kekuasaan ini telah lama disusun secara sistematis.
Ia menjelaskan bahwa tahap awal dari rencana ini mencakup langkah-langkah darurat selama 180 hari pertama untuk mencegah kekosongan kekuasaan.
"Langkah-langkah awal ini dirancang guna menjamin kesinambungan layanan publik dan menjaga keamanan nasional," ungkapnya.
Setelah itu, negara akan memasuki fase stabilisasi yang mencakup pemulihan fungsi negara, penyediaan layanan dasar, pemulihan kepercayaan ekonomi, serta menjaga tata kelola pemerintahan dasar.
Reza Pahlavi menyebutkan bahwa tahap ketiga adalah proses konstitusional yang diakhiri dengan pemilihan umum nasional.
Ia menegaskan tidak akan berpihak pada sistem politik tertentu dalam masa transisi tersebut.
"Saya ingin rakyat Iran akhirnya dapat menggunakan hak mereka untuk memilih secara bebas," ia mengungkapkan.
Menurutnya, masa depan sistem pemerintahan Iran, apakah monarki atau republik, harus sepenuhnya ditentukan oleh kehendak rakyat melalui mekanisme demokratis.
Dukungan Pakar dan Latar Belakang Gejolak SosialLebih lanjut, Reza Pahlavi menjelaskan bahwa Iran Prosperity Project didukung oleh lebih dari 100 pakar dari dalam dan luar negeri.
Para pakar tersebut bertugas menyusun kebijakan untuk memulihkan stabilitas ekonomi, membuka kembali hubungan internasional, dan menciptakan fondasi pertumbuhan jangka panjang setelah transisi kekuasaan.
Sementara itu, Iran tengah dilanda gelombang protes sejak akhir Desember 2025 akibat melonjaknya inflasi dan melemahnya nilai tukar rial.
Ketegangan meningkat sejak 8 Januari 2026, setelah Reza Pahlavi menyerukan aksi nasional.
Pada hari itu, pawai protes terjadi di sejumlah kota besar, diiringi pemblokiran akses internet oleh otoritas.
Di beberapa wilayah, unjuk rasa berubah menjadi bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan, disertai dengan teriakan slogan-slogan kritis terhadap pemerintah.
Pihak berwenang Iran pada Senin menyatakan bahwa situasi telah berada dalam kendali mereka.




