Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Selasa (13/1). Pergerakan bursa AS tersebut terdampak tekanan jual pada saham JPMorgan dan meningkatnya volatilitas pasar yang dipicu serangkaian kebijakan Presiden AS Donald Trump dalam beberapa hari terakhir.
Indeks S&P 500 turun 0,19% dan berakhir di level 6.963,74. Dow Jones Industrial Average tertekan 398,21 poin atau 0,8% ke posisi 49.191,99. Sementara itu, Nasdaq Composite terkoreksi 0,1% ke 23.709,87.
Saham JPMorgan jeblok 4,2% meski laba dan pendapatan kuartal IV melampaui ekspektasi. Kinerja positif segmen trading ekuitas tidak mampu menutupi penurunan sektor perbankan yang berada di bawah perkiraan pasar.
Chief Financial Officer JPMorgan Jeremy Barnum menyatakan, ada penolakan dari industri perbankan terhadap seruan Trump untuk membatasi suku bunga kartu kredit pada level 10% selama satu tahun. Kebijakan itu diumumkan Presiden pada Jumat pekan lalu.
Tekanan juga dirasakan saham keuangan lainnya. Goldman Sachs turun lebih dari 1%, sementara Mastercard dan Visa masing-masing turun 3,8% dan 4,5%. ETF sektor keuangan seperti State Street Financial Select Sector SPDR (XLF) dan Invesco KBW Bank ETF (KBWB) turut terkoreksi.
Seruan Trump mengenai pembatasan suku bunga kartu kredit menambah daftar kebijakan kontroversial lainnya pekan lalu. Ia sebelumnya menyebut perusahaan pertahanan tidak seharusnya diizinkan membagikan dividen atau melakukan buyback saham. Trump juga mendorong pelarangan investor institusional besar membeli lebih banyak rumah tapak.
“Ada pertanyaan nyata apakah perubahan-perubahan itu dapat dilakukan di luar cabang eksekutif tanpa keterlibatan atau persetujuan Kongres,” ujar Chief Investment Officer Orion Tim Holland dikutip dari CNBC, Rabu (14/1).
Trump kembali menekan sektor teknologi pada Senin malam dengan menyebut Microsoft akan mengumumkan langkah untuk mencegah kenaikan biaya utilitas akibat ekspansi pembangunan pusat data. Saham Microsoft ditutup turun lebih dari 1%.
Sementara itu harga minyak global melonjak setelah Trump membatalkan semua pertemuan dengan Iran, produsen utama di OPEC, dan menyatakan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan untuk para demonstran di negara tersebut. Pernyataan itu muncul sehari setelah ancaman tarif 25% bagi negara mana pun yang tetap berbisnis dengan Iran.
Dari sisi makro, pasar sempat mendapat katalis positif dari rilis indeks harga konsumen (CPI) bulan Desember. CPI inti tidak termasuk makanan dan energi naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 0,3% dan 2,8%. CPI keseluruhan meningkat 0,3% bulanan dan 2,7% tahunan, sesuai proyeksi.
Data ini dirilis setelah laporan tenaga kerja Desember menunjukkan pasar kerja yang melemah namun tetap solid, membuat pelaku pasar menilai The Federal Reserve berpotensi menunda pemangkasan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini.
Kontrak Fed Fund Futures mengindikasikan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin sepanjang tahun, dimulai Juni, menurut CME FedWatch.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5468140/original/019633300_1767942457-WhatsApp_Image_2026-01-09_at_14.03.05.jpeg)

