MANCHESTER United resmi memasuki babak baru setelah memutus kontrak Ruben Amorim pada 5 Januari 2026. Kegagalan pelatih asal Portugal tersebut mencapai puncaknya setelah hasil imbang 1-1 melawan Leeds United, yang dibumbui dengan konferensi pers eksplosif. Kini, Michael Carrick kembali ke Carrington bukan hanya untuk "menjaga toko", melainkan membawa misi restorasi taktis yang selama 14 bulan gagal diimplementasikan oleh pendahulunya.
Kekakuan 3-4-3 vs Fleksibilitas 4-2-3-1Dosa terbesar Ruben Amorim di Old Trafford adalah keteguhannya yang tidak kompromi terhadap formasi 3-4-3 atau 3-4-2-1. Dalam 47 pertandingan Liga Primer, Amorim tercatat menggunakan skema tiga bek sebanyak 45 kali. Pendekatan ini sering kali membuat pemain seperti Bruno Fernandes dan Marcus Rashford terlihat tidak nyaman dalam posisi yang terlalu terstruktur atau "mikro-manajemen".
Sebaliknya, Michael Carrick membawa filosofi yang oleh mantan asisten pelatih MU, Rene Meulensteen, disebut sebagai "common sense". Selama masa suksesnya di Middlesbrough, Carrick menunjukkan kepiawaian dalam menggunakan skema 4-2-3-1 yang cair, dengan para pemain sayap didorong untuk menusuk ke dalam sementara bek sayap memberikan lebar lapangan. Skema ini dianggap jauh lebih cocok dengan profil skuad United saat ini.
Baca juga : Manchester United Bidik Duet Carrick dan Solskjaer sebagai Manajer Interim, Ini Alasannya!
Statistik: Jurang Efisiensi PertahananData menunjukkan bahwa pertahanan United di bawah Amorim adalah salah satu yang terburuk dalam sejarah klub di era Liga Primer. Berikut adalah perbandingan angka kunci yang mendasari pergantian ini:
Kategori Statistik Era Ruben Amorim (MU) Proyeksi Michael Carrick Poin Per Pertandingan (PPG) 1.23 (Terendah di era PL) 1.50+ (Target Interim) Rata-rata Kebobolan 1.53 gol per laga Fokus pada Clean Sheet Formasi Utama 3-4-3 (Kaku) 4-2-3-1 (Fleksibel) Status Pertahanan 72 Kebobolan (47 Laga) Restorasi Empat Bek DNA United dan Kecerdasan PosisiCarrick tidak hanya membawa nostalgia. Sebagai mantan gelandang bertahan kelas dunia, ia mengedepankan positional intelligence. Di Middlesbrough, ia berhasil mengubah tim yang terpuruk menjadi penantang babak play-off dengan permainan berbasis penguasaan bola yang metodis namun tajam saat transisi.
"Michael Carrick mungkin adalah opsi yang paling masuk akal. Ia mengenal pemain, ia mengenal klub, dan yang terpenting, ia tahu bagaimana menempatkan pemain di posisi terbaik mereka tanpa harus memaksa mereka masuk ke dalam sistem yang asing," ujar Rene Meulensteen dalam wawancaranya baru-baru ini.
Tantangan di Depan MataTugas pertama Carrick adalah mengembalikan kepercayaan diri skuad yang tampak "bosan" dengan instruksi rumit Amorim. Dengan United yang kini tertahan di posisi ke-6, target kualifikasi Liga Champions masih dalam jangkauan jika Carrick mampu segera menstabilkan lini belakang yang bocor.
Pertanyaannya bagi para penggemar Setan Merah: Apakah Michael Carrick hanya akan menjadi solusi jangka pendek, atau ia mampu membuktikan diri layak menjadi manajer permanen seperti yang pernah ia lakukan sebagai pemain di lini tengah United?


