Munculnya Pembela Pemerintah di Demo Iran

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Puluhan ribu pendukung pemerintah Iran menggelar aksi unjuk rasa besar di Teheran, Senin (12/1). Mereka menggelar demo saat pemerintah berupaya meredam gelombang protes nasional yang telah berlangsung hampir dua pekan dan disebut sebagai yang terbesar sejak 2009.

Televisi pemerintah Iran menayangkan massa yang memadati jalan-jalan ibu kota sebelum berkumpul di Lapangan Enqelab dalam aksi bertajuk “kebangkitan Iran melawan terorisme Amerika-Zionis”. Dalam aksi itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan pidato keras menentang campur tangan Barat.

Dalam laporan The Guardian, Ghalibaf menyatakan Iran saat ini tengah menghadapi “perang di empat front”, yakni perang ekonomi, perang psikologis, perang militer melawan Amerika Serikat dan Israel, serta apa yang ia sebut sebagai perang melawan terorisme.

Dikelilingi slogan “Matilah Israel” dan “Matilah Amerika”, Ghalibaf bahkan mengancam akan membalas jika Iran diserang. Ia menegaskan militer Iran siap memberi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump “pelajaran yang tak akan pernah dilupakan”.

Tak lama setelah itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei ikut angkat suara. Ia menyebut aksi pro-pemerintah tersebut sebagai peringatan langsung kepada AS, menyusul ancaman Trump yang berulang kali menyatakan siap melakukan intervensi militer jika pemerintah Iran membunuh para demonstran.

“Ini adalah peringatan bagi para politikus AS untuk menghentikan tipu daya mereka dan tidak bergantung pada tentara bayaran yang berkhianat,” kata Khamenei, dalam siaran media pemerintah Iran yang dikutip AFP.

Khamenei juga menilai unjuk rasa tersebut berhasil menggagalkan rencana pihak asing.

Trump Ancam Tarif 25% bagi Negara yang Berbisnis dengan Iran

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam negara-negara yang berbisnis dengan Iran dengan sanksi tarif sebesar 25 persen. Trump menegaskan ketentuan tersebut berlaku bagi negara mana pun.

Trump mengatakan ketentuan itu bersifat final dan mengikat.

“Berlaku segera, negara mana pun yang melakukan bisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenakan tarif sebesar 25 persen atas setiap dan seluruh kegiatan bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat. Perintah ini bersifat final dan mengikat,” kata Donald J. Trump melalui akun media sosialnya @realDonaldTrump, Selasa (13/1).

Gedung Putih Klaim Iran Jalin Komunikasi Tertutup dengan Trump

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengklaim Iran menyampaikan pesan yang berbeda di depan publik dan komunikasi tertutupnya kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Diketahui, belakangan pejabat Pemerintah Iran kerap mengeluarkan pernyataan bernada kecaman terhadap Trump yang diutuding terlibat dalam demo rusuh di Iran.

“Apa yang disampaikan rezim Iran secara terbuka sangat berbeda dengan pesan-pesan yang mereka sampaikan kepada Amerika Serikat dan pemerintahan Trump secara tertutup,” ujar Leavitt dalam wawancara dengan Fox News dilansir Al Jazeera, Selasa (13/12).

Namun, Leavitt tidak merinci lebih jauh mengenai isi atau bentuk komunikasi tersebut.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Cetak Sejarah! James Harden Lampaui Shaquille O’Neal di Daftar Top Skor NBA
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Tidak Hanya di Bireuen, Bantuan Korban Banjir dan Longsor Juga Menumpuk di Gedung Nasional Taput
• 3 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Biaya Mutasi Kendaraan, Apa Saja yang Perlu Dipahami?
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Jay Idzes Ajak John Herdman Ukir Sejarah Baru Bersama Timnas Indonesia
• 13 menit lalupantau.com
thumb
Harga Minyak Dunia Melejit hingga Sentuh Level Tertinggi 2 Bulan
• 9 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.