Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang mengingat varian H3N2 memiliki tingkat fatalitas rendah meski menular dengan cepat.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) mengonfirmasi temuan varian influenza A(H3N2) subclade K, atau yang dikenal sebagai "Superflu," di sejumlah wilayah Indonesia.
Hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus telah teridentifikasi dengan persebaran tertinggi berada di Pulau Jawa dan Kalimantan.
Meskipun istilah "super" merujuk pada kecepatan penularannya yang signifikan secara global, otoritas kesehatan menekankan bahwa ini bukan merupakan virus baru, melainkan bagian dari siklus influenza musiman.
Sebaran Kasus dan Dampak KlinisBerdasarkan data resmi Kemenkes per 31 Desember 2025, Jawa Timur menjadi wilayah dengan konsentrasi kasus tertinggi sebanyak 23 laporan. Diikuti oleh Kalimantan Selatan dengan 18 kasus dan Jawa Barat dengan 10 kasus.
Hingga saat ini, tercatat satu kasus kematian yang melibatkan pasien dengan kondisi komorbid. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa varian ini tidak menunjukkan tingkat keparahan yang tinggi pada populasi umum.
Gejala yang muncul serupa dengan flu biasa, mencakup demam, batuk, pilek, hingga nyeri tenggorokan.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa karakteristik virus ini berbeda dengan pandemi masa lalu.
"Superflu ini bukan virus baru seperti COVID-19. Penularannya cepat tetapi kematiannya sangat rendah. Di Indonesia kita sudah identifikasi dan kondisinya tidak parah, artinya bisa sembuh dengan pengobatan biasa," ujar Budi Gunadi dalam keterangan resminya Selasa 13 Januari 2026.
Langkah Preventif dan MitigasiPemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada melalui langkah-langkah pencegahan standar.
Kemenkes mendorong kelompok rentan, seperti ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis, untuk segera mendapatkan imunisasi flu guna memperkuat proteksi tubuh.
Selain itu, protokol kesehatan dasar tetap menjadi rekomendasi utama, di antaranya:
• Penggunaan masker: Terutama saat mengalami gejala flu atau saat berada di ruang publik.
• Kebersihan personal: Rutin mencuci tangan dengan sabun untuk memutus rantai transmisi.
• Deteksi dini: Segera mengunjungi fasilitas kesehatan jika gejala memberat, seperti sesak napas atau indikasi pneumonia.
Dengan penanganan medis yang tepat dan perilaku hidup bersih, risiko komplikasi akibat Superflu diharapkan dapat ditekan seminimal mungkin selama periode transisi musim ini.
Editor: Redaksi TVRINews





