REPUBLIKA.CO.ID, MOGADISHU – Aksi pemerintah pusat Somalia memutus semua hubungan kerja sama dengan Uni Emirat Arab (UEA) menggaris bawahi dinamika terkini di Timur Tengah dan Afrika Timur belakangan. Mengapa negara kecil tersebut belakangan dilihat secara antagonistik oleh negara-negara di kawasan?
Di Somalia pemerintah pusat menilai “tindakan berbahaya” UEA merusak persatuan dan kedaulatan negara. “Ada laporan dan bukti yang dapat dipercaya yang menunjukkan praktik terkait dengan Uni Emirat Arab yang melemahkan kedaulatan Republik Somalia, persatuan nasional dan kemandirian politiknya,” kata Menteri Pertahanan Somalia Ahmed Moallim Fiqi dalam unggahan pada Senin.
- Kawasan Arab Teluk Termasuk UEA Hingga Irak, Lokasi Munculnya Tanduk Setan dan Huru-hara Dunia?
- Dokumen Ini Ungkap Bagaimana UEA Dukung Israel Saat Genosida Terjadi di Gaza
- Diyakini Dukung Israel Akui Somaliland, UEA Didepak Somalia
UEA diketahui punya hubungan erat dengan wilayah-wilayah semiotonom di Somalia seperti Somaliland dan Puntland. Mogadishu menuduh UEA mendorong wilayah-wilayah itu memisahkan diri dari negara tersebut.
Somaliland, yang telah mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia, selama dekade terakhir telah menjadi pusat utama investasi komersial dan keamanan Uni Emirat Arab, termasuk konsesi 30 tahun di pelabuhan strategis Berbera yang dimiliki oleh perusahaan UEA DP World.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Peran UEA ini kian dicurigai saat Israel tiba-tiba mengakui kemerdekaan Somaliland pada akhir 2025 lalu. UEA sempat menolak menandatangani pernyataan bersama negara-negara Arab-Islam pada Desember yang mengutuk pengakuan Israel atas Somaliland. Baru pada 7 Januari UEA akhirnya mengeluarkan pernyataan bersama dengan Uni Afrika yang menjanjikan “dukungan untuk kedaulatan, integritas wilayah, keamanan dan stabilitas Somalia”.
Hal ini menyoroti kepentingan UEA yang kerap berkelindan dengan kepentingan Israel di wilayah di sekitar Laut Merah. “Banyak warga Somalia percaya UEA memfasilitasi pengakuan Israel atas Somaliland,” kata Abdinor Dahir, seorang analis independen Somalia.
Peran di Sudan
“Oleh karena itu, keputusan kabinet Somalia [untuk membatalkan perjanjian] secara luas dipandang sebagai perlawanan terhadap UEA, yang dituduh mendukung aktor nonnegara dan kekuatan separatis di Afrika, termasuk RSF [paramiliter] di Sudan,” kata Dahir.
UEA telah berulang kali membantah tuduhan bahwa mereka memberikan dukungan finansial, militer dan politik kepada pasukan paramiliter.
Bagaimanapun pada Mei 2025 lalu Sudan memutuskan hubungan diplomatik dengan UEA, setelah berulang kali menuduh negara Teluk tersebut mendukung RSF saingannya dalam perang saudara di negara tersebut.
Pengumuman tersebut muncul ketika RSF memulai serangan brutal di kota Port Sudan. Menteri Pertahanan Sudan Yassin Ibrahim menuduh UEA melanggar kedaulatan negaranya melalui “proksinya”, RSF.
Sudan telah mengajukan gugatan resmi ke Mahkamah Internasional (ICJ) menuding UEA ikut membantu RSF melakukan Genosida. Namun, Mahkamah Internasional di Den Haag memutuskan bahwa kasus tersebut tidak dapat dilanjutkan karena UEA telah memilih untuk tidak ikut serta dalam Pasal 9 Konvensi Genosida, yang berarti bahwa UEA tidak dapat dituntut oleh negara lain atas tuduhan genosida.
Seperti di Somalia, ada kelindan kepentingan Israel juga dalam peran UEA di Sudan. UEA diketahui bertindak sebagai "perantara" utama dalam pertemuan rahasia pada Agustus 2020 yang mempertemukan pemimpin RSF, Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti), dan kepala badan intelijen Mossad Israel, Yossi Cohen. Pertemuan ini merupakan bagian dari proses menuju normalisasi hubungan diplomatik antara Sudan dan Israel melalui Abraham Accords.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5450778/original/080041100_1766184841-kpk_bekasi.jpg)