Rais Syuriyah NU: Pertengkaran atas nama agama tanda kedangkalan ilmu

antaranews.com
4 jam lalu
Cover Berita
Palu (ANTARA) - Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Zainal Abidin mengatakan pertengkaran yang mengatasnamakan agama adalah tanda kedangkalan ilmu dan dominasi egois.

"Bertengkar masalah perbedaan agama justru memicu perpecahan masyarakat. Perbedaan tidak perlu diperdebatkan dan dipertentangkan," ucapnya di Palu, Rabu.

Ia mengemukakan substansi agama tidak pernah menjadi akar pertikaian, sebaliknya pertengkaran justru lahir dari ketidakmampuan seseorang menguasai ilmu secara utuh.

Fenomena saling hujat karena perbedaan pandangan keagamaan, menurutnya, bukanlah refleksi dari kedalaman iman, melainkan reaksi dari ego yang menginginkan pendapat tertentu diikuti semua orang.

"Orang yang bertengkar dalam hal agama sebenarnya bukan karena ilmu agama atau ilmuwan agama, tetapi orang yang tidak menguasai ilmu agama dan mengumbar pendapat seenaknya sendiri," ujarnya.

Guru Besar UIN Datokarama Palu itu mengajak publik menengok kembali lembaran sejarah emas intelektual Islam. Ia mencontohkan perbedaan pandangan antara dua imam besar, Imam Malik dan muridnya, Imam Syafi'i, terkait konsep rezeki.

Baca juga: Menag: Kurikulum Cinta cegah kebencian antar-agama sejak dini

Dikisahkan, Imam Malik berpegang pada prinsip bahwa rezeki akan datang dengan sendirinya melalui ketakwaan dan tawakal yang murni. Di sisi lain, Imam Syafi’i memiliki perspektif berbeda. Imam Syafi'i meyakini bahwa rezeki harus dikejar melalui ikhtiar atau kerja nyata.

Meski keduanya berada pada kutub pemikiran yang berseberangan, tidak pernah ada catatan sejarah yang menyebutkan mereka saling menjatuhkan atau bertengkar.

"Mereka menguasai ilmu secara mendalam, sehingga memahami bahwa perbedaan pemahaman adalah rahmat, bukan alasan untuk bertengkar apalagi sampai memutus silaturahmi," tutur Zainal.

Menurut dia, alasan mengapa saat ini banyak orang justru mudah tersulut emosi dalam perkara agama, karena mereka yang gemar bertengkar cenderung hanya ingin pendapatnya diikuti dan diakui sebagai kebenaran tunggal.

Baca juga: Indahnya moderasi bermazhab ala NU-Muhammadiyah

Kondisi ini terjadi karena kurangnya penguasaan ilmu, seseorang yang dangkal ilmunya akan merasa terancam oleh perbedaan, sehingga cenderung mengumbar pendapat secara subjektif sesuai ego masing-masing.

"Agama tidak mengajarkan pertengkaran. Jika ada yang bertengkar, maka yang dikedepankan adalah egonya, bukan ilmunya. Sebab ilmuwan agama yang sesungguhnya akan selalu membawa keteduhan, bukan kegaduhan," ucapnya.

Narasi yang diusung pakar moderasi nasional itu penting sebagai pengingat bagi masyarakat pada era keterbukaan informasi saat ini, maka sebagian masyarakat beragama harus mampu berfikir dengan akal sehat.

Ia menambahkan semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin berlapang dada dalam menerima keberagaman sudut pandang.

"Menjaga hubungan sosial jauh lebih indah, daripada bertengkar dan saling menghujat mengatasnamakan agama, " kata dia.

Baca juga: Ketum PBNU: Ibadat harus dapat dilakukan di mana saja




Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Profil Eisha Rachbini, Ekonom Perempuan di Balik Arah Riset INDEF
• 8 jam laluidntimes.com
thumb
Hakim Tolak Eksepsi Crazy Rich Haji Sutar, Sidang TPPU Narkotika Berlanjut
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Video: KPK Geledah Kantor Pusat Ditjen Pajak, Sita Dokumen dan Uang
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pilkada Langsung Melalui Sistem E-Voting, PKS : Bisa Saja Dilakukan
• 18 jam laludisway.id
thumb
Pendidikan, Mutu, dan Daya Saing: Aksi Generasi Muda untuk SDGs Pilar 4
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.