Sebuah pohon randu alas yang diyakini berusia ratusan tahun di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ramai di perbincangkan di media sosial. Pohon itu semula akan ditebang, namun akhirnya penebangan diurungkan.
Rabu (14/1), kumparan mengunjungi pohon randu alas itu. Tinggi pohon 30 meter lebih. Sementara diameternya, delapan orang dewasa memeluknya pun tampaknya tak cukup mencangkup tubuh pohon. Kondisi pohon tampak mengering.
Beberapa ranting dari pohon randu alas ini telah dipangkas pada Senin (12/1) lalu. Ranting-ranting pohon tampak berserakan di samping pohon yang masih berdiri gagah.
Sebelumnya warga telah bersepakat menebang pohon karena kondisinya yang sudah tampak mati mengering. Ini dinilai berbahaya karena kondisi pohon berada di samping jalan raya dan lapangan.
Selain itu sebagai desa wisata, Tuksongo selalu dihadiri wisatawan. Jika sampai pohon tumbang dikhawatirkan menimbulkan korban.
"Dulu-dulunya simbah-simbah saya itu, ini kan tanah pribadi kemudian yang sebelahnya tanah bengkok. Ini ditanami randu ini untuk batas tanah, zaman dulu," kata warga yang rumahnya tak jauh dari randu alas, Haji Ashari Munhajir (53).
Tak ada yang tahu pasti usia randu alas ini. Namun diperkirakan usianya 200 sampai 300 tahun. Ashari mengatakan ketika dia kecil, randu alas ini juga sudah seperti ini.
"Saya sudah nalar (besar) pohonnya sudah besar seperti ini," katanya.
Pada tahun 1990-an, pohon randu diwakafkan ke masjid. Oleh pengurus masjid dijual ke perorangan seharga Rp 900 ribu. Namun oleh sebagian masyarakat dicegah agar tidak ditebang karena untuk simbol atau ikon desa.
"Kemudian gagal (dijual). Terus sampai sekarang yang mempunyai masyarakat. Tapi posisi tanahnya ada separuh di tempat pribadi ada yang di tanah milik desa," bebernya.
Hendak Ditebang
Ashari mengatakan warga bersepakat memotong randu alas ini karena khawatir membahayakan keselamatan warga. Secara kasat mata pohon sudah kering dan tampak mati. Mereka juga telah berkoordinasi dengan dinas terkait.
Warga juga telah menggelar selametan untuk memulai pemotongan pohon. Selametan ini adalah tradisi di desa ini.
"Warga sudah sepakat, kemudian dari Dinas DLH dikembalikan ke masyarakat. Tapi ada LSM datang ngebel (nelepon) Pak Bupati, biar mau nunggu dicek dulu disurvei dulu (kesehatan pohon). Mati sungguh-sungguh atau nggak," kata Ashari.
"Aktivitas banyak ini desa wisata kalau ada wisatawan lewat (khawatir) ketiban," jelasnya.
Beberapa kali ranting juga sudah jatuh ke bangunan. Hal itu cukup merugikan warga.
"Beberapa kali jatuh di atap," bebernya.
Sementara itu pada Senin kemarin, akhirnya pohon hanya dipangkas ranting-rantingnya saja.
"Rencana mau ditebang tapi dimulai dari ranting dulu tapi sampai tengah jalan (berhenti)," katanya.
Getah Berwarna Merah
Saat ranting ditebang, Ashari menyampaikan muncul ulat dari dalam ranting pohon.
Di media sosial juga ramai pohon mengeluarkan cairan merah serupa darah.
"Getah itu kalau randu merah memang getahnya pohon merah. Ini jenisnya merah. Bukan terus darah," tegasnya.
Ashari mengatakan saat ini pihaknya masih tunggu hasil kajian dari Pemkab Magelang. Tapi yang utama dari warga adalah segi keamanan masyarakat.
"(Pemkab kalau menyatakan) bisa dirawat, tapi ada solusinya, rantingnya, atau nanti mungkin ada kompensasi apabila ada kerusakan atau kecelakaan lain-lainnya," kata Ashari.
Pohon randu ini menurut Ashari, warga memperbolehkan tetap berdiri asal ada jaminan keamanan.
"Kalau bangunan bisa dianu (perbaiki), kalau nyawa kan...," katanya.
Alamtaro pengunjung dari Kabupaten Sleman mengaku berkunjung kembali ke randu alas ini setelah viral. Sebelumnya dia yang mengaku gemar menyambangi tempat keramat sering ke randu alas ini.
Dia berharap pohon ini tetap bisa dirawat karena merupakan ikon Tuksongo.
"Menyayangkan kalau ini ditegor (tebang). (Berharap) masih bisa dirawat," katanya.





