Iran Memanas, Kemlu Hadapi Kendala Komunikasi dengan WNI

metrotvnews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengalami kendala komunkasi dengan warga negara Indonesia (WNI), yang berada di Iran. Meski demikian, pemerintah memastikan hingga saat ini tidak banyak WNI yang terdampak langsung dari aksi protes besar-besaran.

“Komunikasi agak sulit ke Iran, tapi dari informasi terakhir yang saya terima, karena kebanyakan warga negara Indonesia di Iran itu adalah pelajar yang terkonsentrasi di Qom dan Isfahan, laporan yang sampai ke saya tidak banyak WNI yang terdampak,” ujar Menteri Luar Negeri Sugiono, di Ruang Palapa, Kemlu, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Januari 2026.

Meski relatif aman, Kemlu tetap meminta seluruh WNI di Iran untuk meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah juga mengimbau agar WNI terus memantau perkembangan situasi dan menghindari titik-titik rawan, termasuk lokasi demonstrasi.
 

Baca Juga :Situasi Iran Memanas, Kemlu Pantau Kondisi WNI


“Kita harus sampaikan kepada seluruh warga negara Indonesia yang ada di Iran untuk tetap waspada, perhatikan perkembangan situasi, menghindari tempat-tempat atau titik-titik demonstrasi,” tegas Sugiono.

Sugiono menambahkan, Kemlu telah menginstruksikan Duta Besar RI untuk Iran di Teheran agar bersiap menghadapi berbagai kemungkinan. Termasuk menyiapkan langkah-langkah evakuasi jika kondisi memburuk.

“Saya juga sudah menyampaikan kepada dubes kita di Teheran untuk mempersiapkan langkah-langkah jika sewaktu-waktu evakuasi itu perlu dilakukan,” ucap Sugiono.

Kelompok hak asasi manusia Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas akibat tindakan keras aparat keamanan Iran terhadap gelombang aksi protes warga. Aksi protes dilaporkan telah menyebar ke 180 kota dan kabupaten di seluruh 31 provinsi, dipicu oleh kemarahan atas runtuhnya nilai mata uang Iran serta melonjaknya biaya hidup.

Menteri Luar Negeri Sugiono. Foto: Metro TV/Kautsar.

Protes tersebut dengan cepat meluas menjadi tuntutan perubahan politik dan menjadi salah satu tantangan paling serius terhadap pemerintahan ulama sejak Revolusi Islam 1979. Protes meningkat tajam sejak Kamis lalu dan dihadapi dengan kekuatan mematikan oleh otoritas, yang berlangsung di tengah pemadaman hampir total internet dan layanan komunikasi.

HRANA pada Selasa sore menyatakan selain telah mengonfirmasi sedikitnya 2.003 korban tewas selama kerusuhan, pihaknya juga tengah meninjau laporan tambahan terkait 779 kematian lainnya.

“Kami terkejut, tetapi kami masih menilai angka ini konservatif,” kata Wakil Direktur Skylar Thompson.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dorong Perbanyak SMA Unggulan, Prabowo Targetkan 500 Sekolah dalam 4 Tahun
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Jabat Direktur Perusahaan, Pegawai KPK Sekaligus Istri Tersangka Korupsi Disanksi Berat
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Bantahan Ketua BEM UMJ soal Tudingan Minta Rp 50 Juta untuk Batalkan Demo Sampah Tangsel
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Andrew Garfield Debut Gaya Rambut Baru, Nyaris Tak Dikenali
• 2 jam lalutabloidbintang.com
thumb
KPK Periksa Ketua Bidang Ekonomi PBNU Terkait Dugaan Aliran Uang Kasus Kuota Haji
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.