tvOnenews.com - Nama Seto Mulyadi atau yang akrab dikenal sebagai Kak Seto kembali ramai diperbincangkan publik usai perilisan buku memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans.
Buku tersebut memicu gelombang diskusi luas tentang isu child grooming dan kekerasan emosional yang dialami selebritas berdarah Belgia-Jawa itu saat berusia 15 tahun.
Di tengah sorotan tersebut, publik kembali menyinggung peran lembaga perlindungan anak yang saat itu dipimpin oleh Kak Seto, termasuk dugaan tidak adanya langkah konkret dalam menangani kasus yang menimpa Aurelie.
Menanggapi tudingan itu, Kak Seto akhirnya buka suara melalui unggahan Instagram Stories.
Ia meminta publik untuk menyikapi isu lama tersebut dengan kepala dingin dan tidak memelintir fakta yang pernah terjadi.
“Mohon kiranya kita dapat menyikapi kembali pemberitaan terkait kasus tersebut dengan kepala dingin dan hati yang jernih,” tulis Kak Seto dalam pernyataannya.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia itu juga menegaskan bahwa pihaknya sudah melakukan segala upaya sesuai kemampuan dan tanggung jawab lembaga pada masanya.
- Antara
“Pada masanya, kami telah berupaya semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawab kami saat itu,” jelas Kak Seto.
Ia juga menegaskan bahwa tidak semua proses perlindungan anak berjalan mudah, terutama jika korban masih berada dalam pengaruh kuat dari pihak yang diduga sebagai pelaku.
Kasus lama ini mencuat kembali setelah publik mengetahui bahwa Aurelie dalam bukunya menggambarkan hubungan manipulatif dengan seorang pria dewasa berusia 29 tahun, yang disebut dengan nama samaran “Bobby”.
Diduga, sosok itu merujuk pada Roby Tremonti, mantan kekasih Aurelie yang kini kembali menjadi sorotan warganet.
Pada masa kejadian sekitar tahun 2009 hingga 2010, ibu Aurelie, Sri Sunarti, sempat melaporkan dugaan pencucian otak dan eksploitasi terhadap anaknya ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Namun, upaya tersebut disebut tidak berjalan efektif. Proses mediasi yang diupayakan KPAI dikabarkan menemui banyak hambatan, terutama karena kondisi psikologis Aurelie yang masih membela sang pelaku.
Dalam wawancara tahun 2010, Sri mengungkap bahwa dirinya telah meminta bantuan kepada berbagai pihak, termasuk Kak Seto, namun tidak membuahkan hasil.


