Geliat Sekolah Internasional dan Arah Pendidikan Indonesia

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: Suasana di HEI Schools Jakarta, sekolah Finlandia pertama di Indonesia, beberapa waktu lalu. (Ist)

Dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan menjadi sektor yang semakin menarik bagi investasi swasta dan asing di Indonesia. Pertumbuhan kelas menengah, mobilitas tenaga kerja global, serta kebutuhan akan sumber daya manusia berdaya saing internasional mendorong munculnya berbagai model pendidikan baru.

Salah satu yang paling mencolok adalah menjamurnya sekolah internasional K-12 dengan kurikulum global seperti International Baccalaureate (IB) dan Cambridge, termasuk di kota yang selama ini menjadi simbol pendidikan nasional: Yogyakarta.


Baca: Kementerian Transmigrasi & BSSN Lakukan Ini Buat Kampus Patriot

Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar-identitas yang lahir dari sejarah panjang pendidikan Indonesia, mulai dari sekolah rakyat hingga perguruan tinggi negeri ternama. Namun, saat saya kembali ke kota ini pada akhir 2025 dan mengunjungi beberapa sekolah menengah di pinggiran kota, muncul pemandangan yang berbeda dari ingatan lama.

Di kawasan yang relatif tenang, berdiri sekolah-sekolah internasional dan inklusif dengan lanskap hijau, bangunan modern, suasana kekeluargaan, serta fasilitas yang jauh melampaui sekolah konvensional: perpustakaan nyaman, laboratorium lengkap, fasilitas olahraga, bahkan coffee shop sebagai ruang interaksi komunitas.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan wajah sekolah, melainkan cerminan perubahan permintaan masyarakat terhadap pendidikan. Apa yang terjadi di Yogyakarta bukanlah kasus terisolasi. Indonesia kini menjadi salah satu pasar terbesar sekolah internasional di Asia Tenggara (ICS Reserach 2025), dengan ratusan sekolah tersebar di Jakarta, Bali, Surabaya, Medan, Yogyakarta, dan kota-kota lain.

Dalam konteks ekonomi, pertanyaannya bukan lagi mengapa sekolah internasional tumbuh, melainkan apa makna pertumbuhan ini bagi kualitas pendidikan nasional dan daya saing sumber daya manusia Indonesia.

Sekolah internasional menawarkan proposisi nilai yang jelas bagi banyak orang tua: pembelajaran yang berpusat pada siswa, penguatan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan literasi global. Kurikulum seperti IB dan Cambridge tidak hanya menekankan penguasaan konten, tetapi juga proses berpikir, refleksi, dan pemecahan masalah lintas disiplin. Model ini dianggap lebih relevan dengan dunia kerja masa depan yang menuntut adaptabilitas, kemampuan analitis, dan kerja lintas budaya.

Rasio guru dan murid yang relatif kecil memungkinkan perhatian yang lebih personal. Guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran, bukan sekadar penyampai materi. Lingkungan sekolah dirancang sebagai ruang aman dan menyenangkan untuk tumbuh, bukan sekadar tempat mengejar nilai ujian. Tidak mengherankan jika sekolah-sekolah ini menjadi magnet bagi keluarga kelas menengah atas Indonesia, serta komunitas ekspatriat yang tinggal dan bekerja di Indonesia.

Masuknya investasi asing, berkembangnya ekosistem startup, serta meningkatnya mobilitas profesional global turut memperkuat kebutuhan akan pendidikan berstandar internasional yang diakui lintas negara. Dalam perspektif ekonomi, sekolah internasional menjadi bagian dari infrastruktur pendukung daya saing: mereka menyiapkan talenta sejak usia dini untuk pasar kerja global.

Namun, di balik daya tarik tersebut, pertumbuhan sekolah internasional juga menyimpan pesan yang perlu dibaca secara jujur. Pilihan orang tua terhadap sekolah internasional sering kali bukan semata preferensi gaya hidup, melainkan respons terhadap kegelisahan terhadap kualitas pendidikan nasional.

Kurikulum yang terlalu padat, orientasi berlebihan pada ujian, pembelajaran yang masih berpusat pada guru, serta keterbatasan ruang bagi pengembangan karakter dan kreativitas menjadi keluhan yang kerap muncul.

Ketika semakin banyak keluarga mampu "keluar" dari sistem pendidikan nasional, muncul risiko dualisme pendidikan. Di satu sisi, sistem mahal berstandar global dengan fasilitas unggul dan jejaring internasional. Di sisi lain, sistem yang melayani mayoritas masyarakat dengan kualitas yang sangat bervariasi, bergantung pada lokasi, sumber daya, dan kepemimpinan sekolah. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperlebar kesenjangan sosial dan melemahkan kohesi nasional.

Dari sudut pandang pembangunan ekonomi, dualisme pendidikan juga menimbulkan pertanyaan serius: apakah sistem pendidikan nasional mampu menghasilkan sumber daya manusia yang cukup kompetitif untuk mendorong pertumbuhan produktivitas? Jika talenta terbaik tumbuh dalam ekosistem yang terpisah dan berorientasi global, sementara mayoritas sekolah nasional tertinggal, maka bonus demografi berisiko tidak termanfaatkan secara optimal.

Menjamurnya sekolah internasional seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman terhadap pendidikan nasional. Justru sebaliknya, fenomena ini dapat menjadi cermin evaluasi dan sumber pembelajaran. Ada banyak praktik baik yang bisa diadopsi tanpa harus mengganti kurikulum nasional menjadi kurikulum asing.

Pertama, perubahan mindset pembelajaran. Pendidikan nasional perlu bergeser dari orientasi hafalan dan ujian menuju penguatan kompetensi abad ke-21: berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas. Kurikulum Merdeka sebenarnya sudah mengarah ke sana, tetapi implementasinya masih belum merata dan sering terbentur budaya lama di sekolah.

Kedua, peningkatan kualitas guru. Sekolah internasional berinvestasi besar pada pelatihan guru yang berkelanjutan. Guru diberi ruang untuk belajar, berefleksi, dan berkolaborasi. Di sisi lain, guru di sekolah nasional kerap dibebani administrasi berlebihan yang menggerus energi untuk mengembangkan praktik pembelajaran inovatif. Dalam jangka panjang, investasi pada guru adalah investasi langsung pada kualitas SDM nasional.

Ketiga, kepemimpinan sekolah. Banyak sekolah internasional dipimpin oleh kepala sekolah dengan visi kuat dan otonomi tinggi sebagai instructional leader. Mereka fokus pada kualitas pembelajaran, bukan sekadar kepatuhan administratif. Dalam sistem nasional, kepemimpinan sekolah masih sangat bergantung pada regulasi dan birokrasi yang kaku, sehingga ruang inovasi sering kali terbatas.

Keempat, lingkungan belajar. Sekolah internasional memahami bahwa ruang fisik dan psikologis sangat memengaruhi kualitas belajar. Sekolah nasional perlu didorong menjadi ruang yang aman, inklusif, dan menyenangkan-bukan tempat yang menekan secara emosional. Lingkungan belajar yang sehat berkorelasi langsung dengan motivasi, kreativitas, dan capaian siswa.

Di sisi lain, pertumbuhan sekolah internasional juga memunculkan tantangan regulasi dan identitas. Negara memiliki tanggung jawab memastikan bahwa pendidikan-dalam bentuk apa pun-tetap sejalan dengan nilai kebangsaan, kebudayaan, dan kepentingan nasional. Pendidikan internasional tidak boleh menjauhkan generasi muda dari konteks sosial dan realitas Indonesia.

Di sinilah peran negara menjadi krusial: bukan untuk membatasi inovasi, melainkan memastikan keseimbangan antara standar global dan akar lokal. Pendidikan berkualitas adalah pendidikan yang membuat siswa mampu bersaing secara global sekaligus berkontribusi secara lokal.

Fenomena menjamurnya sekolah internasional adalah alarm sekaligus momentum. Alarm bahwa sebagian masyarakat merasa sistem pendidikan nasional belum sepenuhnya menjawab kebutuhan zaman dan ekonomi masa depan. Momentum untuk mempercepat reformasi pendidikan secara lebih berani, konsisten, dan berkelanjutan.

Indonesia tidak kekurangan gagasan, kurikulum, atau regulasi. Yang sering kali kurang adalah konsistensi implementasi, keberanian mengambil keputusan berbasis kualitas, serta kemauan menempatkan pendidikan sebagai investasi jangka panjang-bukan sekadar program lima tahunan.

Jika kualitas pendidikan nasional mampu ditingkatkan secara merata, maka sekolah internasional tidak lagi dipandang sebagai "pelarian", melainkan sebagai salah satu pilihan dalam ekosistem pendidikan yang sehat. Lebih dari itu, Indonesia berpeluang tidak hanya menjadi pasar bagi pendidikan internasional, tetapi juga rujukan pendidikan berkualitas di Asia Tenggara-pendidikan yang unggul secara akademik, kuat secara karakter, dan relevan dengan kebutuhan ekonomi masa depan.


(miq/miq)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Roda Pemerintahan Wilayah Terdampak Banjir Sumatra Normal Lagi Pekan Depan
• 5 menit laluidntimes.com
thumb
Weton Jumat Legi dan Ramalannya, Disebut Punya Aura Kepemimpinan
• 4 jam laluinsertlive.com
thumb
Resmi! BTS Gelar Konser di Jakarta pada Desember 2026
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Contohkan Stephen Eustaquio, John Herdman Yakin Pemain Diaspora Tak Sulit Dibujuk untuk Bela Timnas Indonesia
• 19 jam lalubola.com
thumb
Saksi Ngaku Minta Bukti Tertulis Soal Pengadaan Chromebook, tapi Tak Keluar
• 20 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.