WAKIL Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen atau Gus Yasin menilai perlunya penerapan rekayasa cuaca untuk menangani bencana banjir dan longsor di wilayah Kudus, Pati, dan Jepara. Hal ini disebabkan tingginya intensitas hujan yang terjadi selama empat hari berturut-turut di wilayah tersebut.
“Selama empat hari ini tidak ada matahari. Jadi hasil koordinasi dengan BBWS memang perlu dilakukan rekayasa cuaca,” ujar Gus Yasin, sapaan akrabnya, saat mengunjungi Posko Bencana Banjir di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Selasa (13/1).
Selain rekayasa cuaca, Pemprov Jateng juga telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana untuk menentukan titik-titik yang memerlukan bantuan pompa air. Namun, kondisi sungai saat ini masih terkendala debit air yang sangat tinggi.
Baca juga : Banjir Pati Meluas, 93 Desa di 19 Kecamatan Terendam dan 48.193 Jiwa Terdampak
Posko banjir yang didirikan di kompleks Sekolah Hidayatus Shibyan tersebut saat ini menampung 105 jiwa. Posko telah dilengkapi layanan kesehatan, dapur umum, serta fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK).
Dalam kunjungannya, Gus Yasin juga menemukan warga yang masih bertahan di rumah meski terdampak banjir karena salah satu anggota keluarganya menderita stroke. Ia pun meminta tenaga kesehatan untuk segera mengevakuasi pasien ke puskesmas agar mendapatkan pelayanan medis yang lebih optimal.
Pada kesempatan itu, mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Gus Yasin menyalurkan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah senilai Rp188 juta. Bantuan tersebut berupa makanan siap saji, lauk pauk siap saji, tenda keluarga, tenda gulung, kasur, serta selimut.
Baca juga : Banjir Rendam Jalur Pantura, Arus Pati-Rembang Tersendat hingga 3 KM, Polisi Lakukan Rekayasa Darurat
Kepala Dusun Karangmalang, Sumijan, mengatakan warga di posko telah mendapatkan fasilitas yang memadai, termasuk dapur umum dan layanan kesehatan. Namun, kebutuhan mendesak saat ini meliputi sembako, selimut, serta popok bayi dan lansia.
“Kalau untuk fasilitas kesehatan alhamdulillah sudah terpenuhi. Semoga semua warga tetap sehat sampai banjir berakhir,” ujarnya.
Diketahui, hujan berintensitas tinggi terjadi di wilayah Kudus sejak 9 Januari 2026. Banjir dipicu luapan Sungai Dawe, Sungai Piji, dan Sungai Mrisen. Di Desa Golantepus, banjir diperparah oleh jebolnya tanggul Sungai Dawe dan Sungai Mrisen. Sementara banjir di Desa Kesambi disebabkan meluapnya Sungai Piji yang tidak mampu menampung debit air dari hulu Gunung Muria.
Selama kejadian banjir, tercatat sebanyak 2.082 rumah terendam dengan 2.487 KK atau 8.043 jiwa terdampak. Ketinggian air berkisar antara 5 hingga 55 sentimeter, serta merendam 106,4 hektare lahan persawahan. Pemerintah Kabupaten Kudus telah menetapkan status tanggap darurat bencana yang berlaku mulai 12 hingga 19 Januari 2026.
Selain itu, Posko Induk Penanggulangan Bencana di Kantor BPBD Kudus diaktifkan sebagai pusat komando koordinasi antara TNI, Polri, relawan, dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Upaya penanganan lainnya meliputi penambalan tanggul jebol di Desa Golantepus. Dinas terkait (Pusdataru dan BBWS) bersama warga dan relawan melakukan penutupan darurat menggunakan sandbag dan cerucuk bambu. Pembersihan sampah dan eceng gondok juga dilakukan di bawah sejumlah jembatan desa, khususnya di Sungai Piji Desa Kesambi, untuk mencegah luapan air ke permukiman dan jalan raya. (HT/E-4)





