Malam Terpanjang Iran: Ketika Dunia Dibungkam dan Rakyat Dihabisi

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

Etindonesia. Pada Selasa, 13 Januari 2026, situasi di Iran memasuki fase paling berbahaya sejak gelombang protes nasional meletus. Negara itu praktis berubah menjadi medan perang terbuka. Kilatan api, suara tembakan, dan operasi keamanan skala besar dilaporkan terjadi di berbagai kota, sementara seluruh jaringan komunikasi publik—termasuk sinyal ponsel dan internet—diputus total.

Warga Teheran melaporkan bahwa pasokan bahan makanan di toko-toko kelontong menyusut drastis hanya dalam hitungan jam. Aparat memberlakukan jam malam superketat, disertai perintah tembak di tempat bagi siapa pun yang masih berada di luar rumah pada malam hari. Di saat bersamaan, pasukan keamanan melakukan penggeledahan rumah ke rumah serta menyita antena parabola milik warga untuk memutus akses informasi independen.

Sejak senja 12 Januari hingga fajar 13 Januari, Iran berada dalam kondisi pemadaman informasi total. Namun, di tengah keheningan itu, dua pesan kunci berhasil menembus blokade, dan justru mempercepat eskalasi krisis.

Isyarat Keras dari Diplomasi Internasional

Tekanan dari luar negeri meningkat tajam sehari sebelumnya. Pada Senin, 12 Januari 2026, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyampaikan pernyataan keras kepada media internasional: “Sebuah rezim yang mempertahankan kekuasaan dengan membunuh rakyatnya sendiri bukanlah rezim yang sah.”

Pernyataan tersebut segera ditafsirkan sebagai sinyal politik tingkat tinggi. Sejumlah pengamat menilai ini membuka jalan bagi sanksi internasional yang lebih luas, bahkan dipandang sebagai dukungan tersirat terhadap kemungkinan intervensi Amerika Serikat apabila kekerasan terus meningkat.

Dugaan Tentara Bayaran Asing dan Pembantaian Sipil

Di dalam negeri, laporan-laporan terbaru menunjukkan eskalasi yang jauh lebih mengerikan. Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei diduga telah mengizinkan masuknya milisi asing untuk membantu menekan protes.

Seorang analis yang aktif di platform X, Orenberg, mengungkap laporan darurat yang ia terima:

Laporan serupa juga muncul dari berbagai kota di Provinsi Khuzestan, wilayah yang selama ini dikenal sensitif secara etnis dan ekonomi.

Menurut data awal AFP, jumlah korban tewas tercatat 646 orang. Namun angka ini diduga jauh di bawah kenyataan di lapangan.

Kesaksian Dokter: “Kami Dibantai Tanpa Dunia Mengetahui”

Pusat Dokumentasi HAM Iran meneruskan surat darurat dari seorang dokter di Teheran, yang menggambarkan situasi yang jauh lebih mengerikan.

Dalam surat tersebut, sang dokter menulis: “Seluruh komunikasi kami dengan dunia luar terputus. Setiap hari hanya ada beberapa jam kami bisa melakukan panggilan domestik lewat telepon kabel. Dunia luar sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Iran.”

Ia menjelaskan bahwa setiap malam pasukan bersenjata memasuki permukiman warga dan melakukan pembantaian. Banyak kejadian tidak sempat direkam. Bahkan, sebagian korban diserang menggunakan senjata tajam dan dibiarkan kehabisan darah hingga meninggal.

Berdasarkan estimasi para tenaga medis:

Peringatan sang dokter sangat gamblang: “Jika keseimbangan kekuasaan sedikit saja condong ke Republik Islam, mereka bisa membunuh 100.000 orang dalam satu malam. Tolong biarkan dunia mendengar suara kami sebelum semuanya terlambat.”

Retakan Internal Rezim Makin Terbuka

Di balik kekerasan brutal, retakan internal rezim kian terlihat jelas. Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, dalam wawancara eksklusif dengan CBS pada 12 Januari 2026, mengungkapkan bahwa ia menerima intelijen langsung dari lingkar inti kekuasaan Teheran.

Menurutnya:

Pahlavi menegaskan bahwa gelombang protes kali ini berbeda secara fundamental dari sebelumnya. Rezim, menurutnya, kini berada di ambang kehancuran nyata.

Ekonomi Ambruk: Rial Kehilangan Nilai

Pukulan paling mematikan datang dari sektor ekonomi. Pada 13 Januari 2026, nilai tukar rial Iran terhadap euro di mesin pencari Google muncul sebagai 0,00.

Fenomena ini bukan berarti nilai nol mutlak, melainkan depresiasi ekstrem hingga sistem pembulatan digital tidak lagi mampu menampilkan angkanya. Para ekonom menilai ini sebagai tanda kolaps total sistem moneter Iran.

Di saat yang sama, pedagang Grand Bazaar—yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung ekonomi rezim—dilaporkan menutup toko dan secara terbuka mendukung penggulingan pemerintahan.

Amerika Serikat Keluarkan Peringatan Level Tertinggi

Pada 13 Januari 2026, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan peringatan keamanan level tertinggi, mendesak seluruh warga AS segera meninggalkan Iran.

Beberapa maskapai internasional membatalkan penerbangan hingga setidaknya 16 Januari. Warga AS disarankan keluar melalui jalur darat menuju Armenia atau Turki.

Pemerintah AS memperingatkan bahwa menunjukkan paspor Amerika atau memiliki hubungan apa pun dengan AS dapat berujung pada penangkapan atau penahanan oleh otoritas Iran.

Trump di Persimpangan Sejarah

Analis Israel Amir Tsarfati mengungkapkan bahwa pada Senin malam, 13 Januari, tim keamanan nasional AS telah memberi pengarahan lengkap kepada Donald Trump mengenai berbagai opsi militer.

Kesimpulannya suram: tidak ada opsi yang dapat menghentikan pembantaian dalam waktu singkat.

Pakar militer Wu Jialong menilai Trump masih menunggu momen strategis paling menentukan. Jika AS bergerak:

Jika intervensi dilakukan, tujuannya bukan sekadar “memenggal kepala”, melainkan menggulingkan rezim secara menyeluruh—sebuah taruhan geopolitik terbesar dekade ini.

Tekanan Ekonomi Global dan Pesan ke Beijing

Sambil menahan opsi militer, Trump mengambil langkah ekonomi agresif. Ia mengumumkan tarif tambahan 25% bagi negara mana pun yang tetap berdagang dengan Iran, berlaku segera.

Langkah ini secara langsung menghantam kepentingan ekonomi Tiongkok dan mendorong hubungan AS–Tiongkok ke titik terendah dalam beberapa dekade.

Trump bahkan membagikan “ramalan politik” di media miliknya, menyebut bahwa pada 2026:

berpotensi runtuh secara bersamaan—sebuah pesan yang dinilai banyak analis menyasar langsung titik lemah Beijing. (Hui)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Patwal ‘Tot Tot Wuk Wuk’ Senggol Mobil Warga, Klaim Kakorlantas Bikin Kaget
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
2 Pelaku Pelecehan Payudara di Meruya Ditangkap, Sempat Diamuk Warga
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Polwan Polres Pelabuhan Makassar Tunjukkan Aksi Heroik di Tengah Kebakaran Somba Opu
• 10 jam laluharianfajar
thumb
Menhaj Tegaskan Tak Ada Ampun untuk Intervensi Penyelenggaraan Haji
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Anggotanya Terjaring OTT KPK, IKPI Minta Maaf dan Desak Percepatan RUU Konsultan Pajak
• 4 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.