EtIndonesia. Di Gunung Nanshan berdiri sebuah kuil suci, tempat dipuja sebuah arca Buddha. Konon, Buddha ini sangat sakti. Selama umat berdoa dengan hati tulus dan niat lurus, Buddha akan berbelas kasih dan membantu mewujudkan harapan mereka.
Ada seorang umat yang mendengar kisah itu. Untuk menunjukkan ketulusan imannya, pada hari kelahiran Buddha dia memanggul persembahan—ayam, babi, dan ikan—lalu mendaki Gunung Nanshan selangkah demi selangkah, berniat memanjatkan doa tepat pada hari suci tersebut.
Dia menyeberangi gunung demi gunung. Saat keringat mengucur deras, dia takut kehilangan sikap hormat, maka dia menolak berhenti untuk beristirahat. Ketika tubuhnya hampir tak bertenaga, dia khawatir terlambat tiba di hari kelahiran Buddha, maka dia menolak melambat. Setelah menempuh ribuan kesulitan, umat yang saleh itu akhirnya tiba di kuil.
Dengan penuh hormat dia meletakkan persembahan di meja altar, lalu berlutut, menangkupkan tangan, dan berdoa: “Buddha yang maha sakti, aku telah sepuluh tahun mengikuti ujian demi ujian, namun selalu gagal. Dengan kuasamu yang tanpa batas, mohon lihatlah ketulusanku ini dan izinkan aku lulus tahun ini.”
Selesai berdoa, dia mengemasi kembali persembahan dan bersiap pulang.
Baru saja melangkah keluar gerbang kuil, seorang pengemis mengulurkan tangan memohon: “Dermawan yang baik, aku sudah tiga hari tiga malam kelaparan. Mohon belas kasihan, berikan sedikit saja dari persembahan itu agar aku bisa mengganjal perut.”
Melihat pengemis yang kotor, umat itu mengibaskan tangan dengan jijik: “Pergi! Pergi! Lihat dirimu yang compang-camping. Jangan mengotori persembahanku. Persembahan ini akan kubawa pulang untuk istri dan anak-anakku. Tidak ada bagian untukmu!”
Pengemis itu terus bersujud memohon: “Dermawan yang baik, aku hampir mati kelaparan. Sedikit saja sudah cukup. Tolong selamatkan aku!”
Takut persembahannya direbut, umat itu segera memanggulnya dan berlari menuruni gunung tanpa menoleh lagi.
Pengemis yang lemah kelaparan itu membungkus tubuhnya dengan satu-satunya selimut compang-camping yang dia miliki, lalu meringkuk di samping kuil.
Malam kian larut, udara makin dingin. Pengemis itu menggigil, menarik selimut rapat-rapat. Tiba-tiba, entah dari mana, muncul seekor anjing kudisan penuh borok. Dia pincang mendekat, menggigit ujung selimut, menutupkan ke tubuhnya yang bernanah, lalu meringkuk di sisi pengemis untuk menghangatkan diri.
Borok anjing itu pecah; nanahnya mengotori selimut hingga bau dan lengket.
Pengemis itu marah, menendang anjing itu: “Pergi! Pergi! Lihat tubuhmu penuh nanah. Jangan kotori selimutku. Tidak ada tempat untukmu di sini!”
Anjing itu menahan sakit, menatap dengan mata berkaca-kaca, lalu pergi perlahan. Malam itu juga, dia mati membeku di depan gerbang kuil.
Keesokan harinya, pengemis itu memang tidak mati kedinginan karena masih berselimut, namun dia mati kelaparan.
Enam bulan kemudian, umat yang saleh itu kembali mengikuti ujian negara—dan gagal lagi.
Dengan amarah, dia naik ke Gunung Nanshan dan mengeluh kepada Buddha: “Katanya engkau maha sakti, ternyata bohong! Jika engkau benar-benar ampuh, mengapa ujian sesederhana ini pun tak kau tolong? Mengapa aku kembali gagal?”
Buddha mengeluarkan daftar kelulusan dan bertanya: “Mengapa aku harus menolongmu?”
Umat itu menjawab: “Aku memanggul persembahan mendaki gunung demi tiba tepat di hari kelahiran-Mu. Aku tak berani beristirahat, demi ketulusanku. Bukankah itu cukup alasan bagimu untuk menolongku?”
Buddha lalu memanggil roh pengemis. Roh itu meratap kepada sang umat: “Aku hanya meminta sedikit persembahan agar perutku terisi—itu pun kamu tolak. Bahkan belas kasih sekecil itu tidak kamu miliki. Mengapa Buddha harus menolongmu? Namun, wahai Buddha, bukankah Engkau juga kejam? Engkau membiarkanku mati kelaparan tanpa memberiku sedikit pun. Apakah Engkau tidak berbelas kasih?”
Buddha kemudian memanggil roh anjing. Roh anjing itu menggonggong kepada pengemis
: “Aku hanya meminta kehangatan selimut di sampingmu—tanpa merugikanmu sedikit pun—namun kau menolak. Mengapa orang harus berbelas kasih kepadamu? Mengapa Buddha harus mengasihanimu?”
Akhirnya Buddha menunjuk sang umat: “Meluluskanmu ke daftar kehormatan,” lalu menunjuk pengemis: “Memberimu kecukupan sandang dan pangan, bagi-Ku hanyalah perkara sepele.”
“Tetapi,kalian bahkan tidak mau menolong sesama dalam batas kemampuan kalian—sesuatu yang mudah kalian lakukan. Lalu, bagian mana dari diri kalian yang pantas membuat-Ku melakukan ‘perkara sepele’ itu?” lanjut Buddha.
Selesai berkata demikian, Buddha melemparkan daftar sang umat ke jurang. Sejak saat itu, dia tak lagi berjodoh dengan kejayaan.
Alegori:
Seorang teman pernah berkata kepadaku: “Zaman sekarang orang terlalu kikir—bahkan senyum pun enggan diberikan. Tak heran wajah mereka selalu masam dan tak sedap dipandang.”
Kalimat itu menyentakku dan melahirkan kisah ini.
Kita sering memusatkan seluruh perhatian pada apa yang ingin kita peroleh—terus menghitung keuntungan, membayangkan hasil. Namun jarang menaruh hati pada apa yang bisa kita berikan—apakah tindakan kita memudahkan orang lain? meringankan beban mereka?
Jika kita enggan memberi apa pun, hak apa yang kita miliki untuk menuntut orang lain memberi kepada kita? Jika saat mampu kita menolak mengulurkan tangan, hak apa yang kita punya untuk meminta pertolongan saat membutuhkan?
Relasi antarmanusia—bahkan dengan makhluk hidup lain—selalu memiliki balasan. Jika bukan balasan langsung, akan ada hukum sebab-akibat. Pada akhirnya, hasilnya kembali kepada diri kita sendiri.
Renungan Pembaca
Kisah hari ini membuatku banyak merenung—terutama pada kalimat: “Jangan tanyakan apa yang orang lain lakukan untuk kita; tanyakan apa yang telah kita lakukan untuk orang lain.”
Semoga kisah ini juga menyentuh hati para pembaca. Salam hangat—tersenyumlah dan berjalanlah ringan di dunia ini.(jhn/yn)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472206/original/076915000_1768355782-1000772448.jpg)
