Pemprov Jabar Utang ke Kontraktor Rp621 Miliar, Gaya Kepemimpinan KDM Dikritik

mediaindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita

KETIDAKMAMPUAN Pemprov Jawa Barat membayar pekerjaan sebesar Rp621 miliar disebabkan tidak tercapainya pendapatan APBD Jabar pada 2025. Hal itu pun mendapat sorotan dari berbagai kalangan, terutama terhadap gaya kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi atau yang dikenal dengan Kang Dedi Mulyadi (KDM). 

Akar masalah dari sisi pendapatan asli daerah (PAD) yang turun dinilai berkorelasi dengan gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi dalam periode awal masa jabatannya sebagai Gubernur Jabar.

"Dedi Mulyadi terlalu asyik dengan gaya politik populisme keliling menyelesaikan masalah parsial, sehingga melupakan aspek teknokratis dalam menggali potensi daerah yang lebih makro," ungkap Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Muradi yang menilai fenomena ini dari kacamata politik anggaran dan kinerja kepemimpinan daerah.

Baca juga : Gubernur Jabar Pastikan Utang ke Kontraktor Rp621 Miliar Diselesaikan Tahun Ini

Menurut Muradi, kalau PAD turun, artinya daerah tidak bisa dieksplorasi. Setahun terakhir, ia menilai Dedi tidak terlalu mengeksplorasi potensi Jabar. Ia lebih banyak keliling sendiri untuk menuntaskan masalah skala mikro atau masalah lokal di daerah. Posisinya lebih ke politik ketimbang teknokratis.

"Karakteristik populisme orang-orang dekat gubernur ini, problemnya mengarah pada penyerapan anggaran yang lebih banyak ke 'dirinya' sendiri. Harusnya Dedi bisa mengurangi promosi dirinya dan beralih mempromosikan potensi Jabar. Kalau tidak, PAD pasti akan turun terus-menerus," tandasnya. 

Muradi menyayangkan belum munculnya kreativitas Dedi di level provinsi, padahal saat menjabat Bupati Purwakarta, ia sangat sukses melakukan branding potensi lokal, seperti mempopulerkan Sate Maranggi.

Namun, di Provinsi Jabar secara keseluruhan, karakteristik kreativitas itu belum muncul. Alih-alih membuat kebijakan strategis untuk mendongkrak pendapatan, Dedi dinilai lebih sering hadir sebagai 'pemadam kebakaran' di tempat-tempat bermasalah yang akhirnya hanya menonjolkan sosok pribadinya.

"Saya tidak melihat beliau terus-menerus meng-endorse potensi Jabar. Lebih banyak datang ke tempat bermasalah, yang sentralnya kembali ke dirinya sendiri. Gagasan baru untuk eksplorasi potensi daerah selama setahun ini nyaris tidak ada," sambungnya. (AN/E-4)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pengakuan Saksi soal Nasib Tangki BBM OTM usai Kontrak Sewa Habis 10 Tahun
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Rupiah Dekati Rp 17 Ribu , Purbaya Janjikan Perbaikan dalam Dua Pekan
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Mengenal Karakteristik Vulkanik dan Vegetasi Gunung Slamet, Pedoman untuk Para Pendaki!
• 9 menit lalumediaindonesia.com
thumb
BBMKG: Wisatawan Bali Diminta Waspadai Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi 14–15 Januari 2026
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Waspada Hujan Sedang-Sangat Lebat di Jakarta pada 14-16 Januari
• 2 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.