GenPI.co - Penangkapan seorang taipan Kamboja oleh otoritas internasional membuka sedikit celah dalam dinding tebal industri penipuan daring yang telah meraup miliaran dolar.
Otoritas Amerika Serikat dan Inggris menyebut Chen Zhi sebagai pemimpin perusahaan kriminal transnasional yang mengeksploitasi pekerja korban perdagangan manusia serta menipu ribuan korban lintas negara.
Dilansir AP News, Selasa (13/1), bagi para korban, penipuan ini bermula dari hal yang tampak sepele.
Sebuah pesan singkat yang menawarkan pekerjaan paruh waktu atau menanyakan ketersediaan di akhir pekan.
Namun, di balik pesan tersebut terdapat pekerja di belahan dunia lain, seseorang yang dipaksa bekerja 12-16 jam sehari, mengirim pesan demi pesan hingga ada yang terpancing untuk membalas.
Dampak kemanusiaannya sangat besar. Ratusan ribu orang dipaksa bekerja dalam jaringan penipuan yang secara sistematis merampas uang para korban.
Bahkan, ketika seorang tokoh besar seperti Chen Zhi berhasil ditangkap, membongkar industri ini sepenuhnya tetap menjadi tugas yang sangat sulit.
Akar dari pusat-pusat penipuan ini bisa ditelusuri ke industri kasino, baik fisik maupun daring, yang berkembang pesat di Asia Tenggara selama satu dekade terakhir.
Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) mencatat pada 2021 saja terdapat lebih dari 340 kasino berlisensi dan tidak berlisensi di kawasan tersebut.
Menurut laporan Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, pada 2023 sekitar 120.000 orang di Myanmar dan 100.000 orang di Kamboja dipaksa bekerja dalam operasi penipuan daring.
"Jika kita hanya menyelamatkan para korban tanpa menangkap pelaku, semua ini tidak akan ada artinya," kata Koordinator Jaringan Masyarakat Sipil untuk Bantuan Korban Perdagangan Manusia Jay Kritiya.
Dia mengatakan pelaku akan terus mencari korban baru dan bisa melakukan penipuan kapan saja. (*)
Lihat video seru ini:


