JAKARTA, KOMPAS - Operasi penyelamatan 18 karyawan PT Freeport PT Freeport Indonesia yang terjebak di Pos Tower 270, Tembagapura, Papua Tengah, pekan lalu, disebut dapat berhasil karena dilakukan secara terukur. Penggunaan drone logistik untuk pengiriman obat-obatan juga membuat para karyawan dapat bertahan selagi prajurit TNI menembus blokade.
Walakin, sebagian pengamat menilai, gangguan keamanan yang mencapai kawasan Tembagapura mengindikasikan meluasnya gangguan.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasrullah, menyampaikan, penyelamatan pekerja Freeport adalah manifestasi dari tugas pokok TNI dalam melindungi obyek vital nasional.
”Upaya penyelamatan dilaksanakan melalui langkah-langkah yang profesional dan terukur dengan mengutamakan keselamatan personel dalam mendukung keberlangsungan program pembangunan nasional,” ujar Aulia, Rabu (14/1/2026).
Sebanyak 18 karyawan PT Freeport Indonesia, pada pekan lalu, terjebak di Pos Tower 270, Tembagapura, Papua Tengah. Tiga hari lamanya mereka terisolasi. Di luar pos, kelompok separatis bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) menebar ancaman.
Situasi ini memaksa Satuan Tugas (Satgas) TNI menggelar operasi senyap yang berakhir pada Sabtu (10/1/2026) lalu. Operasi yang tidak hanya menuntut kemampuan tempur, tetapi juga sisi kemanusiaan yang kental.
Rekaman dokumentasi operasi memperlihatkan prajurit TNI harus berbagi peran. Di satu sisi, senjata mereka siaga mengamankan parameter hutan gelap. Di sisi lain, tangan mereka sibuk memberikan bantuan oksigen portabel kepada pekerja yang kelelahan hebat saat menembus medan ekstrem.
”Luar biasa teman-teman TNI. Mereka memberikan oksigen tambahan dan membalut tangan yang luka,” ujar salah seorang pekerja yang selamat dengan napas terengah namun lega.
Satu unit drone kargo turut menjadi penyambung nyawa, mengirimkan logistik dan obat-obatan sebelum pasukan utama berhasil menembus blokade.
Tidak hanya warga sipil, 20 personel Detasemen Kavaleri (Denkav) 3 yang turut bertahan di pos tersebut juga berhasil dievakuasi. Satu unit drone kargo turut menjadi penyambung nyawa, mengirimkan logistik dan obat-obatan sebelum pasukan utama berhasil menembus blokade.
Panglima Komando Operasi (Pangkoops) Habema Mayor Jenderal Lucky Avianto, menegaskan, operasi ini dilaksanakan dengan perencanaan matang. Hasilnya, ke-18 pekerja dan seluruh personel dievakuasi tanpa ada letusan peluru atau kontak senjata.
”Operasi penyelamatan ini dilaksanakan di tengah medan yang sangat sulit dengan tingkat ancaman tinggi serta keterbatasan waktu sebagai faktor krusial,” ujar Lucky.
Analis pertahanan Fauzan Malufti, menyoroti keberhasilan TNI menembus isolasi tanpa jatuhnya korban jiwa. Menurut dia, TNI patut diapresiasi karena mampu menyelesaikan misi berisiko tinggi ini dengan hasil nihil kecelakaan, baik di sisi masyarakat sipil maupun prajurit.
Salah satu kunci keberhasilan operasi ini adalah penggunaan teknologi nirawak. Sebelum pasukan utama menembus blokade, TNI menerbangkan drone kargo untuk mengirimkan logistik dan obat-obatan secara presisi ke titik isolasi.
Penggunaan drone logistik, lanjut Fauzan, menegaskan tren modernisasi di tubuh TNI yang semakin adaptif terhadap teknologi sistem nirawak, tidak hanya di Papua. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa setiap alutsista tetap memiliki kelebihan dan keterbatasannya masing-masing.
”Ini juga merupakan tren global yang memang harus diikuti juga oleh TNI,” ujarnya.
Pengamat militer Beni Sukadis, menilai peristiwa di Tembagapura bukan sekadar insiden isolasi. Di balik keberhasilan Satgas TNI menyelamatkan pekerja di medan sulit, terungkap fakta lain, yakni adanya pola gangguan yang meluas ke titik operasi strategis.
Menurut dia, wilayah rawan di Papua Tengah kini tidak lagi terbatas pada kabupaten pegunungan seperti Puncak, Intan Jaya, atau Yahukimo. Tiga wilayah itu merupakan kawasan yang dipetakan Polri paling sering mengalami gangguan keamanan sepanjang 2025.
Insiden di Pos Tower 270 menunjukkan bahwa kerawanan keamanan telah menyentuh jantung aktivitas ekonomi penting nasional, yakni area pertambangan di Mimika.
”Ancaman ini tidak bersifat terbatas pada desa-desa pedalaman semata,” ungkap Beni.
Insiden di Pos Tower 270 menunjukkan bahwa kerawanan keamanan telah menyentuh jantung aktivitas ekonomi penting nasional, yakni area pertambangan di Mimika. Kontur geografis yang sulit dan akses yang terbatas kembali dimanfaatkan kelompok bersenjata untuk memperkuat mobilitas mereka.
Menanggapi penilaian tersebut, Aulia mengakui hal tersebut. Namun, Aulia memastikan situasi keamanan Papua secara umum tetap kondusif. TNI, lanjutnya, terus meningkatkan kewaspadaan terhadap gerombolan separatis yang mencoba mengganggu pembangunan.



