Indonesia Masuk 10 Negara dengan Pengunjung Terbanyak ke Jepang

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Arus perjalanan wisata ke Jepang terus meningkat dalam setahun ini. Indonesia menjadi salah satu penyumbang terbesarnya dengan total 558.900 pengunjung sepanjang Januari-November 2025. Kota-kota tier II mulai dilirik wisatawan karena membeludaknya pengunjung ke Tokyo, Kyoto, dan Osaka.

Animo wisatawan global ke Jepang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Pergerakan itu tecermin dari data kedatangan pelaku perjalanan ke Jepang yang dipublikasi Organisasi Pariwisata Jepang Nasional (JNTO). Sepanjang Januari-November 2025, Negeri Sakura itu menyambut 39,07 juta pengunjung, naik 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya dalam periode yang sama.

Indonesia masuk dalam 10 negara pengunjung terbesar ke Jepang. Posisinya berada pada peringkat delapan dengan total 558.900 pengunjung, tumbuh 26,3 persen dibandingkan Januari-November 2024.

Baca JugaRekor Baru Kunjungan Wisatawan di Jepang

Kedudukan Indonesia berada di antara Malaysia (peringkat tujuh) dan Filipina (peringkat sembilan). Malaysia menyumbang 769.500, Filipina sebanyak 536.000 pengunjung.

“Sekarang perilaku perjalanan (wisatawan) Indonesia enggak mau yang mainstream (biasa), mau yang baru. Jepang selalu menawarkan yang baru karena ada beberapa prefektur yang akan dieksplorasi terus. Infrastrukturnya nyaman banget, jadi mau transit juga enggak susah,” tutur Sales Manager Japan Airlines (JAL) Benny Herlian dalam konferensi pers Permata Bank bersama JAL Travel Fair Fase I-2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Dalam acara itu hadir pula sejumlah pejabat lain. Beberapa di antaranya adalah Division Head Consumer Lending PT Bank Permata (Tbk) Haryanto, JAL Country Manager Ando Masato, dan President Director JCB International Indonesia Yo Sato.

Benny mengatakan, kota-kota favorit masih pada tiga destinasi, yakni Tokyo, Kyoto, dan Osaka. Tak hanya itu, destinasi unggulan lain juga masih berkutat di Nagoya, Fukuoka, dan Sapporo.

Baca JugaPerluas Pasar Indonesia, Jepang Perkenalkan Destinasi Wisata Baru

Meski demikian, kota-kota tier dua yang selama ini belum banyak dikunjungi wisatawan Indonesia juga mulai diperkenalkan. Sejumlah kota yang dimaksud berada di region Tohoku, seperti Akita dan Aomori.

“Itu yang masih banyak bisa dieksplorasi. Rata-rata turis dari negara lain, seperti China, Taiwan, bahkan Malaysia sudah pergi ke daerah-daerah situ. Jadi sudah enggak ke Tokyo, Osaka. Mereka sudah enggak mau juga terlampau crowd, apalagi makan harus antre,” ujar Benny.

Akita terkenal dengan daya tarik alam dan luar ruang, seperti pegunungan, hutan, serta pemandian air panas (onsen). Sementara, Aomori menyuguhkan beragam festival, seni modern, dan kuliner laut. Berdekatan dengan Hokkaido, musim dingin di Aomori biasanya diselimut salju, sehingga menggugah untuk melakukan kegiatan alam.

Sejauh ini, lebih banyak wisatawan Indonesia ke Jepang ketimbang sebaliknya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisatawan asing asal Jepang ke Indonesia pada Januari-November 2025 adalah 347.109 kunjungan. Namun, data BPS hanya mencatat kategori kunjungan wisatawan asing. Tidak ada kategori pengunjung asing atau pelancong yang hanya singgah tanpa menginap.

Menurut Benny, pergerakan pelaku perjalanan dari Jepang ke Indonesia didominasi para ekspatriat beserta keluarganya. Untuk berlibur, mereka lebih banyak menghabiskan waktu ke negara-negara lain seperti Hawaii.

“Jadi sebenarnya, sayangnya Indonesia, seperti Jakarta masih kurang favorit ya karena kota itu sebenarnya lebih ke bisnis ya, lebih ke pekerjaan. Kalau dibandingkan dengan Thailand atau Malaysia, ya kita inbound turisnya (dari luar ke dalam negeri), bahkan ke Bali pun Jepang, kan, sudah sedikit drop,” ucap Benny.

Baca JugaDua Wajah Tokyo, Lorong Tradisi dan Laju Modernitas

Perjalanan merupakan segmen yang masih dinilai menjanjikan pada tahun ini. Trennya diproyeksi masih tumbuh pada 2026.

“Kami masih melihat bahwa segmen ini adalah segmen yang potensial. Tadi juga sempat dijelaskan dengan baik bahwa ada tren kenaikan, terutama ke Jepang. Bagus sekali dan ini konsisten,” kata Haryanto.

Masih dalam kesempatan yang sama, Director of Consumer Banking Permata Bank Djumariah Tenteram menambahkan, minat masyarakat Indonesia bepergian ke berbagai destinasi menunjukkan tren positif. Tujuannya beragam, mulai dari melakukan perjalanan sendiri (solo traveling), berlibur bersama keluarga hingga berbisnis.

Jepang menjadi salah satu tujuan utama karena kaya akan budaya, kuliner, alam, dan infrastruktur yang memadai. Tak heran, Jepang menjadi pilihan favorit untuk berbagai segmen perjalanan.

“Antusiasme ini menunjukkan bahwa perjalanan yang nyaman dan terencana adalah kebutuhan yang terus berkembang,” ucap Djumariah.

Baca JugaEkonomi Tertekan, Masyarakat Mengubah Pola Konsumsi Saat Berlibur

Pemerintah Jepang memutuskan akan meningkatkan kutipan pajak keberangkatan mulai Juli mendatang. Besarannya meningkat dari 1.000 yen atau Rp 106.000 (kurs Rp 106 per yen) menjadi 3.000 yen atau setara Rp 318.000 per pelaku perjalanan.

Strategi ini dilakukan untuk menyikapi pariwisata berlebih (overtourism) dan memastikan kenaikan jumlah pengunjung internasional tidak memberatkan infrastruktur dan komunitas lokal. Tambahan pemasukan ini akan disetorkan langsung ke inisiatif pariwisata berkelanjutan, termasuk untuk konservasi lingkungan dan memperbaiki fasilitas turis, seperti tertulis dalam Travel and Tour World.

Pariwisata Jepang lesu

Sebelumnya, pariwisata Jepang sempat terguncang karena memanasnya hubungan dengan China. Ketegangan ini menyusul pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang berencana mengerahkan pasukan bela diri (JSDF) ke Taiwan jika China menyerang negara tersebut. Imbasnya, maskapai China menawarkan pembatalan atau penjadwalan ulang penerbangan ke Jepang tanpa denda atau potongan biaya (Kompas.id, 16/11/2025).

Jumlah turis ke Jepang diperkirakan menyusut 3 persen pada 2026 dibandingkan tahun lalu dalam periode yang sama, seperti yang diproyeksikan agen perjalanan terbesar Jepang, JTB. Hal ini ditengarai karena berkurangnya turis China ke Jepang.

Menurut Japan Research Institute, apabila ketegangan Jepang-China berlanjut, maka belanja turis China diperkirakan turun hingga 1,2 triliun yen selama tahun 2026, seperti dikutip dari Nikkei Asia.

Baca JugaMaskapai China Dukung Penangguhan Kunjungan ke Jepang

Padahal, wisatawan China menyumbang hingga 8,77 juta pengunjung pada Januari-November 2025. Posisinya berada di peringkat dua, di bawah Korea Selatan.

Benny mengemukakan, animo perjalanan wisatawan China ke Jepang pada Desember 2025 menurun, walau JNTO belum merilis datanya. Namun, dampak ke pariwisata Jepang sangat terasa, terutama dari sisi maskapai penerbangan.

JAL harus mengembalikan dana (refund) atau mengganti tiket penumpang yang disubsidi Pemerintah China. Kebijakan ini berlaku ke seluruh destinasi. Saat bersamaan, Pemerintah Jepang tengah berusaha memperbaiki hubungan dengan China.

“Jadi sebenarnya bagus buat turis yang lain, jadi tidak terlalu crowd pada Desember. Namun, pasar kami kebetulan tidak hanya China. Jadi kami ada region Amerika, Asia-Oseania, China, dan Eropa. Jadi tidak terlalu terdampak signifikan untuk kami,” ujar Benny.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dukung Penyaluran KUR, Jamkrindo Perkuat Tata Kelola dan Manajemen Risiko
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Menkes: Penguatan Industri Kesehatan Kunci Hadapi Krisis Global
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Tegas! BPOM Instruksikan Nestle Setop Produksi Susu Formula Bayi, Toksin Cereulide Dinilai Berbahaya
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Foto: Gotong Royong Bangun Jembatan Gantung Rusak di Gorontalo
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Aktivasi Publik Jadi Senjata Baru Industri Periklanan
• 22 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.