EtIndonesia. Raja Arthur yang masih muda pernah kalah perang melawan negeri tetangga dan tertawan. Permaisuri musuh terpesona oleh ketampanan dan keberaniannya, sehingga dia tak tega membunuhnya.
Namun, dia mengajukan satu syarat: Arthur akan dibebaskan sementara jika dalam waktu satu tahun dia mampu menemukan jawaban yang memuaskan atas sebuah pertanyaan. Jika setelah satu tahun jawabannya tidak memuaskan, Arthur harus kembali dengan sukarela untuk menerima hukuman mati. Jika menolak syarat itu, dia akan dipenjara seumur hidup.
Pertanyaannya adalah: “Apa yang paling diinginkan oleh seorang wanita?”
Pertanyaan ini bahkan sulit dijawab oleh orang paling berpengetahuan, apalagi oleh Arthur yang masih muda dan belum banyak pengalaman. Namun, kehormatan adalah nyawa kedua bagi seorang ksatria. Karena sudah berjanji, dia harus menemukan jawabannya.
Arthur kembali ke negerinya dan mulai mencari jawaban.
Dia berkali-kali berkonsultasi dengan orang bijak, penyihir, pendeta, ibu, saudari-saudari, bahkan para wanita penghibur. Namun, tak satu pun jawaban yang benar-benar memuaskannya.
Akhirnya, seorang peramal berkata bahwa ada seorang penyihir tua misterius yang pasti mengetahui jawabannya—tetapi tabiatnya berubah-ubah dan harga yang dia minta sangat mahal.
Pada hari terakhir sebelum batas waktu berakhir, Arthur tak punya pilihan selain menemui penyihir itu.
Seakan sudah tahu kedatangannya, sang penyihir segera mengajukan syarat: “Aku menjamin memberimu jawaban yang akan menyelamatkanmu. Tapi syaratnya, Sir Gawain (Transliterasi-red) harus menikah denganku.”
Sir Gawain adalah ksatria paling tampan di Meja Bundar dan sahabat terbaik Arthur.
Arthur memandang penyihir itu: wajahnya mengerikan, punggungnya bungkuk, giginya jarang, napasnya bau, dan tawanya menjijikkan.
Dalam hati Arthur berkata: “Aku tidak boleh menukar hidupku dengan kebahagiaan sahabatku.”
Dia menolak syarat itu dan bersiap berangkat untuk menerima kematian.
Namun, para pengawal menceritakan semuanya kepada Gawain. Tersentuh oleh kesetiaan Arthur kepada sahabatnya, Gawain memutuskan mengorbankan dirinya. Diam-diam, dia menemui penyihir dan menyetujui pernikahan itu.
Penyihir menepati janji dan memberikan jawabannya kepada Arthur: “Yang paling diinginkan oleh seorang wanita adalah kemampuan untuk menguasai dan menentukan hidupnya sendiri.”
Arthur membawa jawaban itu kepada sang permaisuri. Jawaban tersebut diterima dengan senang hati, dan Arthur pun dibebaskan.
Sekembalinya ke negeri, Gawain dan penyihir mengadakan pesta pernikahan besar. Arthur hancur hatinya melihat sahabatnya berkorban sedemikian rupa demi dirinya.
Para ksatria Meja Bundar dan tamu undangan pun muak melihat penampilan dan tingkah laku sang pengantin perempuan.
Namun Gawain tetap menjaga martabat ksatria, dengan terhormat memperkenalkan istrinya kepada semua orang.
Malam pertama pun tiba. Gawain, setia pada adat, dengan lembut menggendong istrinya ke kamar. Penyihir itu menundukkan wajahnya dengan malu.
Saat Gawain membaringkannya di ranjang, dia terkejut: penyihir itu berubah menjadi seorang wanita muda yang cantik, bersinar, dan lembut.
Gawain bertanya kebingungan.
Penyihir itu berkata:“Sebagai balasan atas kebaikan dan sikap terhormatmu, pada malam indah ini aku kembali ke wujud asliku. Namun aku hanya bisa tampil sebagai wanita cantik setengah hari, dan setengah hari lainnya aku harus kembali ke wujud penyihir yang menjijikkan. Tapi, suamiku tercinta, kamu boleh memilih: aku ingin berwujud apa pada siang hari dan malam hari. Aku akan menuruti pilihanmu.”
Gawain menghadapi dilema besar. Jika istrinya cantik di malam hari, dia bisa menikmati kebahagiaan pribadi—namun siang hari dia harus menanggung cemoohan orang lain. Jika sebaliknya, dia harus menanggung kesepian di malam hari sepanjang hidup.
Jika kamu berada di posisi Gawain, apa yang akan kamu pilih?
Gawain berpikir sejenak, lalu menjawab dengan mantap: “Istriku tercinta, dampak pilihan ini jauh lebih besar bagimu daripada bagiku. Karena itu, kamu sendirilah yang paling berhak menentukan.”
Wanita penyihir tersenyum dan berkata: “Suamiku tercinta, hanya engkau yang benar-benar memahami bahwa yang paling diinginkan wanita adalah menguasai hidupnya sendiri. Sebagai balasan, aku akan mempertahankan kecantikanku dua puluh empat jam sehari.”
Sesungguhnya, yang paling diinginkan seorang wanita adalah: menemukan seorang laki-laki yang selalu tahu bagaimana menghormatinya.(jhn/yn)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472754/original/093722000_1768375044-Kejati_Sumut_Seret_Direktur_Utama_PT_PASU.jpg)
