FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Presiden ke-7, Jokowi, memberikan penjelasan terkait pertemuannya dengan Eggy Sudjana dan Damai Lubis yang didampingi tim kuasa hukum di kediamannya di Solo, kemarin.
Jokowi menepis berbagai spekulasi yang berkembang di ruang publik usai pertemuan tersebut.
Ia menegaskan, kedatangan Eggi Sudjana dan Damai Lubis tidak lebih dari sekadar silaturahmi dan berlangsung dalam suasana kekeluargaan.
Dikatakan Jokowi, tidak ada agenda khusus dalam pertemuan itu, apalagi pembahasan teknis hukum yang mengarah pada intervensi terhadap proses penegakan hukum yang tengah berjalan.
Pernyataan Jokowi sekaligus merespons isu yang mengaitkan pertemuan tersebut dengan kemungkinan penerapan restorative justice dalam perkara hukum yang menjerat Eggi Sudjana.
Ia menegaskan, sebagai tuan rumah, dirinya menerima kedatangan tamu sebagaimana lazimnya dalam kehidupan bermasyarakat. Dialog yang terjadi pun disebutnya sebagai percakapan biasa.
“Silaturahmi,” ujar Jokowi singkat kepada awak media.
Meski demikian, Jokowi mengakui sempat menyampaikan harapan secara pribadi agar proses hukum yang berjalan dapat dipertimbangkan dengan bijaksana oleh aparat penegak hukum.
Ia menyebut harapan itu disampaikan dalam konteks kemanusiaan, tanpa bermaksud memengaruhi ataupun mengarahkan penyidik.
“Saya mendoakan, semoga bisa dijadikan pertimbangan oleh penyidik,” Jokowi menuturkan.
Jokowi menegaskan, seluruh proses hukum sepenuhnya berada dalam kewenangan penyidik Polda Metro Jaya dan harus berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Sebelumnya, Refly Harun, membacakan klarifikasi Eggy Sudjana terkait pertemuannya dengan Presiden ke-7, Jokowi di Solo.
Klarifikasi tersebut disampaikan Refly dengan mengaku berdasarkan bukti dan keterangan saksi.
Refly menjelaskan, Eggy Sudjana atau yang disebutnya sebagai Bang Eggy Sudjana (BES) membenarkan bahwa dirinya memang mendatangi Jokowi.
Namun, pertemuan itu disebut terjadi atas permintaan dan undangan langsung dari Jokowi beberapa bulan sebelumnya.
“BES mengklarifikasi dengan bukti-bukti dan saksi. Satu, bahwa BES benar mendatangi JKW, atas permintaan dan undangan JKW beberapa bulan yang lalu,” ujar Refly saat membacakan pernyataan Eggy, dikutip pada Rabu (14/1/2026).
Dikatakan Refly, undangan tersebut bahkan disertai tawaran perjalanan ke luar negeri dengan fasilitas istimewa.
Tidak hanya itu, Eggy juga disebut dijanjikan proyek bernilai triliunan rupiah melalui mekanisme perbankan resmi.
“Bahkan dikondisikan ke luar negeri dengan servis yang amat istimewa dan jaminan dapat proyek nilai triliunan, underline proyek ya, mekanisme bank resmi. Dapat diwujudkan karena T itu ready,” ucap Refly.
Namun, Refly menegaskan bahwa di balik tawaran tersebut terdapat syarat yang tidak bisa diterima oleh Eggy, yakni diminta untuk menyampaikan permintaan maaf kepada Jokowi.
“Tapi akhir jalan ke luar negeri itu, tawaran deal BES mesti bersedia minta maaf pada JKW. Demi Allah, BES menolaknya hingga gagal deal tersebut,” katanya.
Refly melanjutkan, setelah penolakan itu, Eggy kembali didatangi sejumlah pihak ke kediamannya di Bogor dengan tawaran serupa. Namun, Eggy disebut kembali menolak karena dinilai tidak berbeda dengan tawaran sebelumnya.
“Dua, bahwa kemudian datang beberapa termul ke rumah BES di Bogor dengan iming-iming yang sama. Tapi BES tolak karena sama saja dengan yang pertama,” ungkapnya.
Dalam situasi tersebut, Refly menyebut Eggy kemudian meminta pendapat kepada seseorang yang sangat ia hormati, bahkan disebut perintahnya tidak bisa ditolak.
Sosok tersebut, kata Refly, memberikan dua syarat utama sebelum Eggy akhirnya bersedia bertemu.
“Bos menjawab dengan dua syarat. Satu, tidak boleh meminta maaf. Dua, tidak boleh ada publikasi,” tutur Refly.
(Muhsin/fajar)


