Kontrak Berjangka Wall Street Kembali Melemah saat Menanti Putusan Tarif Trump

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Kontrak berjangka saham AS kembali merosot pada Rabu (14/1) waktu setempat, menjelang rilis kinerja keuangan bank-bank besar serta antisipasi keputusan Mahkamah Agung AS terkait kebijakan tarif impor Presiden Donald Trump. 

Dilansir dari Yahoo Finance, sentimen ini diperkirakan memperpanjang koreksi yang sebelumnya telah menyeret Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 menjauh dari level rekor tertingginya.

Pada Rabu pagi waktu AS, kontrak berjangka Dow Jones terpantau turun sekitar 0,3%. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 yang didominasi saham-saham teknologi, juga terkoreksi masing-masing 0,4% dan 0,6%, menyusul sesi perdagangan yang ditutup di zona merah pada hari sebelumnya.

Dalam pekan yang krusial bagi sektor keuangan ini, Bank of America, Wells Fargo, dan Citigroup dijadwalkan merilis laporan pendapatan mereka sebelum pembukaan pasar pada Rabu pagi pukul 09.30 waktu AS (21.30 WIB). Investor juga akan membedah data inflasi terbaru lewat indeks harga produsen Desember. 

Penyampaian berbagai laporan tersebut menyusul rilis JPMorgan Chase pada Selasa (13/1) yang tampil kurang memuaskan, sehingga memicu aksi jual masif pada sahamnya. 

Pasar juga terus mencermati Mahkamah Agung AS yang tengah memproses gugatan terhadap wewenang tarif Trump. Meski tenggat awal keputusan pekan lalu telah terlewati tanpa perubahan status quo, pengadilan tertinggi Amerika itu dijadwalkan kembali merilis pendapat hukum mereka pada Rabu ini.

Dalam unggahan di media sosial pada Senin lalu, Trump menyebut kasus ini sebagai aspek krusial bagi stabilitas nasional AS. Ia menuliskan peringatan keras bahwa jika putusan Mahkamah Agung tidak berpihak pada pemerintah dalam kasus ini, maka Amerika Serikat berada dalam posisi terancam.

Di saat yang sama, kritik Trump terhadap Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, makin menajam pada Selasa. Hal ini kian memperparah kekhawatiran investor atas independensi bank sentral, terutama setelah jaksa AS memulai investigasi kriminal terhadap pemimpin The Fed itu.

Langkah hukum tersebut memicu gelombang kontroversi. Trump mulai menghadapi resistensi dari kalangan pemimpin bisnis hingga rekan-rekannya di internal Partai Republik, seiring meningkatnya tanda tanya publik mengenai netralitas lembaga perbankan sentral.

Sektor keuangan juga berada di bawah tekanan presiden menyusul dorongan terbaru Trump untuk membatasi suku bunga kartu kredit maksimal 10% selama setahun. Saham Visa dan Mastercard ditutup melemah pada Selasa karena investor mulai menghitung potensi dampak buruk kebijakan tersebut bagi jaringan pembayaran global.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Buntut Nikah Siri dengan Inara Rusli, Insanul Fahmi Diblokir Wardatina Mawa, Curhat Kesulitan Hubungi Anak
• 8 jam lalugrid.id
thumb
Bom Thamrin 14 Januari 2016, Teror di Jantung Jakarta dan Seruan #KamiTidakTakut
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Antisipasi Lonjakan Penumpang di Libur Isra Miraj, KAI Daop 1 Jakarta  Sediakan 158 Ribu Tempat Duduk
• 1 jam laludisway.id
thumb
IHSG Rebound, Asing Malah Jual Saham Ini
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Toba Pulp Lestari dalam Pusaran Deforestasi Sumatra, KPK Diminta Turun Tangan
• 4 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.