Kepala Bidang Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dan Kearifan Lokal (PKKLH) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang, Joni Budi Hermanto, angkat bicara soal pohon randu alas raksasa di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
Berdasarkan hasil pengamatan DLH, 80 persen tidak ada tanda-tanda kehidupan di pohon yang diperkirakan berusia ratusan tahun itu.
"Setelah kami checking di lapangan, sesuai dengan kemampuan dan batasan pengetahuan kami, kami melihat memang sebetulnya 80 persen itu tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi," kata Joni melalui sambungan telepon, Rabu (14/1).
Hal ini ditandai dengan semua kulit luar pohon sudah mengelupas. Kambiumnya sudah tidak ada.
"Kambiumnya sudah tidak ada, dari bawah sampai atas itu kan sudah mengelupas nih. Kemudian, awalnya kami akan coba beberapa titik untuk melihat apakah ada kehidupan atau tidak. Itu kita tunggu beberapa saat, apakah keluar getah ataupun keluar cairan yang sebetulnya nutrisi untuk nyuplai sampai ke atas. Tapi waktu itu sudah dipotong satu dahan baru separuh sudah roboh," katanya.
Lanjut Joni, struktur bawah hampir separuh lebih sudah mati.
"Jadi emang menurut apa yang kami tahu, yang pernah kami baca dari literasi, bahwa pelapukan pohon mati itu berawal dari sisi luar. Karena sisi luar kena sinar matahari dan hujan secara langsung. Dia akan melapuk, kemudian menjalar dari bawah sampai ke atas, kemudian dari sisi luar itu ke dalam. Jadi, memang butuh waktu proses untuk itu sampai istilahnya kering semuanya," katanya.
Pengamatan sementara tak ada tanda-tanda kehidupan dari mulai empat meteran atau tiga meter ke atas. Informasi dari Kepala Desa beberapa dahan pohon juga sudah sering patah dan ketika jatuh langsung hancur.
Di sisi lain, di pohon itu sebelumnya sempat terpasang reklame, paku, hingga besi di batang bagian bawah yang dahulu untuk tenda PKL. Pihaknya langsung mencabutnya.
"Itu penyebabnya, salah satunya itu, tapi ya mungkin ada faktor lain, kami belum meneliti lebih lanjut," katanya.
Joni mengatakan Bupati Magelang akan mengecek langsung pohon. Setelah pengecekan itu baru akan diputuskan tindakan selanjutnya.
"Pak Bupati sangat konsen dengan lingkungan hidup, peduli dengan pohon, itu beliau sangat konsen sekali. Eman (sayang) sekali sebenarnya. Jangan sampai apa yang beliau putuskan itu ternyata kurang pas. Beliau akan cek langsung," katanya.
Sementara sisa pemangkasan kemarin dikembalikan ke warga. Ini karena pohon tersebut juga milik desa.
"Saya nggak tahu (diapakan) itu milik desa. Kalau itu bukan pohon yang menjadi ikon dan besar sekali itu tidak akan sampai kabupaten," katanya.





