Kemensos Hadirkan Terapi Wicara Anak Berkebutuhan Khusus di Bekasi

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kemensos melalui Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi terus menghadirkan layanan terapi wicara bagi anak berkebutuhan khusus sebagai bagian dari upaya rehabilitasi sosial terpadu.

Salah satu penerima manfaat layanan tersebut adalah Davi (14), anak dengan kemampuan bahasa setara anak usia tiga tahun. Melalui terapi wicara yang dijalaninya secara rutin, Davi perlahan belajar mengenali warna dan mengucapkan kata demi kata agar dapat dipahami oleh orang di sekitarnya.

Terapi wicara di STPL Bekasi didampingi oleh Diah Agustina (35), terapis wicara dengan pengalaman 14 tahun yang telah enam bulan bertugas di Rumah Terapi STPL Bekasi. Proses terapi diawali dengan asesmen menyeluruh untuk memetakan kemampuan dasar penerima manfaat sebelum menentukan bentuk stimulasi yang sesuai.

“Kita mulai dari pengenalan warna, karena dia belum mengenal warna, lalu kita latih artikulasinya. Tidak harus 100 persen jelas, yang penting orang paham dia ngomong apa,” ujar Diah.

Diah menjelaskan, terapi wicara tidak hanya diperuntukkan bagi anak dengan keterlambatan bicara, tetapi juga bagi anak dengan cerebral palsy yang mengalami drooling, anak dengan kesulitan belajar seperti membaca dan menulis, bayi prematur dengan gangguan menghisap ASI, hingga anak dengan gangguan menelan.

“Semua bisa kita stimulasi sesuai kebutuhan masing-masing pasien,” jelasnya.

Mayoritas penerima layanan terapi wicara di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi adalah anak-anak, meskipun terapi juga dapat diberikan kepada pasien dewasa hingga lanjut usia. Pengalaman panjang di bidang terapi membuat para terapis memahami bahwa setiap individu memiliki ritme perkembangan yang berbeda.

Semangat Diah dalam menjalankan tugasnya tumbuh dari keyakinannya terhadap masa depan para penerima manfaat.

“Kita lihat anak-anak ini punya masa depan yang panjang. Mereka menjalani terapi sambil ketawa, happy. Itu yang bikin kita ikut semangat membantu mereka,” ujarnya.

Selain terapi, Diah menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus. Interaksi yang intens dan berkelanjutan dinilai menjadi kunci agar anak merasa didengar, diterima, dan percaya diri.

“Setiap anak itu istimewa dan punya jalannya masing-masing. Kadang orang tua berpikir cukup dengan membelikan mainan mahal. Padahal yang paling dibutuhkan anak itu interaksi langsung dengan orang tuanya,” tuturnya.

Menurutnya, mainan tanpa pendampingan dan komunikasi yang aktif justru tidak memberikan dampak optimal bagi perkembangan anak.

“Mereka butuh didengar, dibantu, dan diterima. Itu yang paling utama,” pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KemenP2MI dan Polres Dumai Gagalkan Pengiriman 26 CPMI Ilegal ke Malaysia
• 2 menit lalutvrinews.com
thumb
Michael Carrick: Kehormatan Memimpin Manchester United dan Mengangkat Standar Tim
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Efek Trump & China: IHSG Tembus 9.000, Emas Antam dan Timah Cetak Rekor
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Iran di Ambang Krisis Nasional: Penindasan Brutal Meluas, Ribuan Tewas, Dunia Menanti Respons AS
• 8 jam laluerabaru.net
thumb
JPO Sarinah Dibangun Ulang, Ditargetkan Beroperasi pada Akhir Februari 2026
• 5 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.