Kritik Penanganan Bencana Berujung Ancaman! Aktivis Greenpeace dan YouTuber Lapor Bareskrim

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Aktivis Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, bersama kreator konten Yansen alias Piteng, resmi melaporkan dugaan ancaman dan teror fisik maupun digital ke Bareskrim Polri, Rabu, 14 Januari 2026.

Laporan itu muncul setelah keduanya mengalami intimidasi berlapis usai vokal mengkritik penanganan bencana di Sumatra. Dari peretasan, penyebaran data pribadi, hingga kiriman bangkai hewan ke rumah, teror tersebut dinilai sudah melampaui batas kebebasan berekspresi.

Baca Juga :
Menhut Raja Juli Moratorium Pemanfaatan Kayu Imbas Banjir Bandang di Sumatra
Telkomsel Pastikan Kualitas Jaringan 3 Daerah di Sumatera Terdampak Bencana Tetap Andal Pascapemulihan

Aduan tersebut tercatat dengan nomor LP/B/20/I/2026/SPKT/BARESKRIM POLRI dan LP/B/19/I/2026/SPKT/BARESKRIM POLRI. Dalam pelaporan, keduanya didampingi Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD).

"Kami dari Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) sedang melakukan pendampingan terhadap dua pelapor atas adanya dugaan tidak pidana ancaman dan teror," kata Anggota TAUD, Alif Fauzi Nurwidiastomo kepada wartawan, Rabu, 14 Januari 2026.

Alif menilai, teror yang dialami Iqbal dan Yansen bukan peristiwa berdiri sendiri. Ancaman tersebut diduga kuat berkaitan dengan aktivitas mereka di ruang digital, terutama setelah keduanya lantang menyuarakan kritik atas penanganan bencana di Sumatra pada akhir 2025.

Ia juga menyoroti pendekatan aparat yang dinilai masih memandang laporan korban secara terpisah. Padahal, jika dirangkai, pola teror yang muncul menunjukkan kesamaan metode dan target. Menurut Alif, pola tersebut bahkan telah muncul sejak tahun lalu dan menimpa sejumlah pihak yang bersuara kritis.

"Di mulai dari teror yang dialami oleh kawan-kawan Tempo dan polanya sama. Sama-sama bangkai yang dikirimkan," ucapnya.

Koordinator Advokasi LBH Pers, Gema Gita Persada, turut menegaskan dugaan motif politis di balik teror tersebut. Ia menyebut, baik Yansen maupun Iqbal dikenal aktif mengkritisi pengelolaan negara, khususnya terkait isu Sumatra.

"Klien kami atas nama Yansen disini kerap menyuarakan suara-suara kritisnya terkait dengan pengelenggaran negara, khususnya dalam beberapa waktu kebelakang terkait dengan isu-isu Sumatra," ujar dia.

"Dan kemudian klien satu lagi, Mas Iqbal, sebagai aktivis lingkungan yang kemudian juga memberikan pandangan-pandangan kritisnya sesuai dengan kapasitasnya sebagai aktivis lingkungan, menanggapi beberapa isu-isu di Sumatera juga, kemudian mendapatkan ancaman yang serupa," katanya.

Baca Juga :
Titiek Soeharto: Produksi Pangan Turun Signifikan Imbas Banjir Sumatra
Titiek Pimpin Rapat Bahas Pemulihan Sektor Pertanian-Kehutanan Pascabencana Sumatra
Anggarkan Rp 5 Triliun, Kementan Mulai Rehabilitasi Sawah Terdampak Bencana Aceh-Sumatera

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Aset, Kredit, dan Laba Tumbuh Positif, Bank Kalbar Tutup 2025 dengan Kinerja Kuat
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Tak Cuma Tempat Nunggu Kereta, Peron Stasiun Jadi Spot Foto Favorit Penumpang
• 3 jam laludetik.com
thumb
Nol Suara di Pilrek Unhas, Ini Visi Misi dan Garis Besar Isu Strategis Prof Sukardi Weda
• 13 jam lalufajar.co.id
thumb
Kronologi KIP Putuskan Data Ijazah Jokowi Informasi Terbuka, Bonatua Silalahi: Ini Kemenangan Publik
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Putri KW Lolos ke Babak Kedua Malaysia Open 2026 Usai Jinakkan Michelle Li
• 23 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.