Trump Keluarkan Ultimatum Keras ke Iran dengan ‘Tindakan Sangat Keras’  Jika Rezim Menggantung Para Demonstran

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Sejauh ini, sekitar 2.403 pengunjuk rasa dilaporkan tewas, menurut pembaruan terbaru dari sebuah kelompok HAM yang berbasis di Amerika Serikat.

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan para pemimpin Iran dengan “tindakan yang sangat keras” jika laporan yang menuduh rezim menggantung para pengunjuk rasa di negara itu terbukti benar. Hal tersebut ia sampaikan dalam wawancara dengan CBS News yang dipublikasikan secara daring pada 13 Januari 2026.

Sebelumnya pada hari yang sama, Trump juga memberikan dukungan kepada para demonstran, dengan menulis di Truth Social agar mereka terus memberi tekanan kepada rezim dan mengambil alih lembaga-lembaga negara.

“Catat nama para pembunuh dan pelaku kekerasan. Mereka akan membayar harga yang sangat mahal,” tulis Trump, seraya menambahkan bahwa seluruh pertemuan dengan pejabat Iran dibatalkan hingga pembunuhan dihentikan.  “BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN.”

Ketika pewawancara menanyakan tentang kabar bahwa rezim akan mulai “menggantung para demonstran besok … apakah mereka telah melampaui garis merah Anda, atau garis itu telah bergeser?”, Trump menjawab bahwa ia belum “mendengar soal penggantungan.” Namun ia menegaskan:

“Jika mereka menggantung mereka, … kami akan mengambil tindakan yang sangat keras. Jika mereka melakukan hal semacam itu, kami akan mengambil tindakan yang sangat keras.”

Saat ditanya mengenai “akhir permainan”-nya, Trump menyinggung contoh pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi dan Jenderal Iran Qasem Soleimani, yang keduanya dieliminasi pada masa jabatan pertama Trump.

“Kami tidak ingin apa yang sedang terjadi di Iran ini terus berlangsung. Jika mereka ingin melakukan protes, itu satu hal. Tetapi ketika mereka mulai membunuh ribuan orang, dan sekarang Anda memberi tahu saya tentang penggantungan, kita akan lihat bagaimana hasilnya bagi mereka. Itu tidak akan berakhir baik bagi mereka,” ujar Trump.

Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebuah kelompok HAM berbasis di AS, sudah 17 hari sejak protes massal dimulai di Iran.

Berdasarkan data terbaru, 614 aksi unjuk rasa telah tercatat terjadi di Iran, meliputi 17 kota dan seluruh 31 provinsi. Sekitar 18.434 orang telah ditangkap berdasarkan laporan yang tersedia.

HRANA melaporkan bahwa sekitar 2.403 pengunjuk rasa telah tewas, termasuk 12 anak-anak. Jumlah korban tewas yang sebenarnya dikhawatirkan jauh lebih tinggi. Lebih dari 1.100 orang dilaporkan mengalami luka parah.

Selain itu, sembilan orang non-pengunjuk rasa juga tercatat tewas sejak protes dimulai, serta 147 anggota pasukan keamanan dan pendukung pemerintah juga dilaporkan terbunuh.

Angka-angka tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen oleh The Epoch Times.

Sejak protes mulai meningkat, rezim telah memblokir akses internet dan layanan telepon di seluruh negeri. Hal ini menyulitkan organisasi internasional untuk menilai tingkat intensitas protes dan respons pemerintah.

Sejak 13 Januari, Iran mulai melonggarkan sebagian pembatasan komunikasi. Teheran mengizinkan warga Iran menelepon ke luar negeri, namun belum mengaktifkan panggilan masuk. Pembatasan terhadap layanan pesan masih diberlakukan.

Walaupun demonstrasi awalnya dipicu oleh lonjakan inflasi ekonomi, kini protes telah berkembang menjadi perlawanan langsung terhadap rezim Islam, yang telah mencengkeram negara itu dengan tangan besi sejak 1979.

Para pengunjuk rasa menuntut jatuhnya kekuasaan ulama yang dipimpin oleh Ali Khamenei.

Pada 12 Januari, Karoline Leavitt mengatakan kepada wartawan bahwa Amerika Serikat masih memiliki banyak opsi terkait Iran. Meski serangan udara militer tetap menjadi pilihan, ia menegaskan bahwa “diplomasi selalu menjadi opsi pertama bagi presiden.”

Sementara itu, Kedutaan Virtual Amerika Serikat untuk Iran mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh warga Amerika yang masih berada di Iran agar segera meninggalkan negara tersebut.

“Tinggalkan Iran sekarang. Miliki rencana keberangkatan dari Iran yang tidak bergantung pada bantuan pemerintah AS,” tulis kedutaan tersebut.

“Jika Anda tidak dapat meninggalkan Iran, temukan lokasi aman di dalam tempat tinggal Anda atau bangunan aman lainnya. Siapkan persediaan makanan, air, obat-obatan, dan kebutuhan penting lainnya.”

Kedutaan tersebut juga menyatakan bahwa protes terus meningkat dan berpotensi berubah menjadi kekerasan, yang dapat berujung pada penangkapan dan cedera massal.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bang Yos Lega, Nasib Monorel Mangkrak Akhirnya Dapat Kepastian
• 6 jam lalukompas.com
thumb
IHSG Rebound, Asing Malah Jual Saham Ini
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Gunung Marapi Erupsi Semburkan Abu Setinggi 1.600 Meter
• 15 jam laluokezone.com
thumb
KPK Duga Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Terima Uang Rp600 Juta dari Kasus Suap Ijon Proyek
• 13 jam lalusuara.com
thumb
Mengenal Extended Adolescence yang Viral di Media Sosial
• 18 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.