Belakangan ini kamu mungkin sering melihat istilah extended adolescence di media sosial. Bukan tanpa alasan, kata-kata ini ramai dibahas setelah seorang konten kreator muda menggunakannya dalam konteks pilihan hidup seperti menikah di usia 19 tahun.
Melansir Insertlive, kreator tersebut menyebut bahwa kebanyakan orang saat ini menormalisasikan extended adolescence sehingga menganggap nikah muda yang dijalaninya adalah sebuah kesalahan. Sebenarnya apa makna extended adolescence? Benarkah masyarakat saat ini banyak yang terlambat menjadi dewasa? Simak penjelasannya berikut ini!
Apa Itu Extended Adolescence?Ilustrasi Extended Adolescence: Foto: Freepik.com/tirachardz
Melansir laman Denver Wellness Counseling, extended adolescence adalah istilah untuk menggambarkan fase transisi dari remaja menuju dewasa yang berlangsung lebih lama dibanding definisi tradisional. Meski demikian, definisi kedewasaan sendiri umumnya sangat relatif dan mungkin berbeda standar pada setiap orang.
Laurence Steinberg, dalam bukunya berjudul In The Age of Opportunity, menjelaskan bahwa kedewasaan adalah tahap perkembangan yang dimulai dengan pubertas dan diakhiri dengan kemandirian sosial dan ekonomi. Jika patokannya adalah pubertas, maka setiap orang dianggap sudah dewasa ketika usianya masih di bawah 20 tahun.
Namun, dalam fenomena ini, individu sering kali belum mencapai kemandirian finansial, stabilitas emosional, maupun tanggung jawab hidup seperti pernikahan atau karier stabil pada usia yang dulu dianggap “dewasa”. Artinya, masa remaja tidak lagi berhenti di akhir belasan tahun, tetapi bisa berlanjut hingga pertengahan dua puluhan atau lebih.
Dalam konteks konten viral itu sendiri, istilah ini dipakai untuk mengkritik budaya yang “dimanjakan” oleh narasi modern sehingga generasi muda dinilai menunda langkah-langkah dewasa seperti menikah atau berbisnis. Namun, penggunaan istilahnya di media sosial ini sering bersifat simplifikasi sosial menyederhanakan kompleksitas perkembangan manusia menjadi narasi populer.





