Hidup Biasa di Tengah Budaya Pamer

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Media sosial telah mengubah cara kita memandang kehidupan. Linimasa saat ini lebih menyerupai ruang pamer daripada ruang untuk berbagi. Foto-foto liburan mahal, pencapaian karier yang datang terlalu cepat, dan simbol gaya hidup kelas menengah atas terus-menerus memenuhi layar. Secara bertahap, standar "kehidupan yang sukses" dibentuk oleh apa yang dilihat, bukan apa yang dijalani. Dalam situasi seperti ini, kehidupan yang biasa-biasa saja sering dianggap kurang, bahkan dianggap sebagai kegagalan.

Budaya pamer ini tidak muncul begitu saja. Budaya ini tumbuh dari sistem digital yang menjadikan perhatian sebagai komoditas utama. Algoritma lebih menyukai hal-hal yang mencolok dan mudah membuat kagum: kesuksesan instan, kemewahan, dan citra kehidupan yang hampir sempurna. Sebaliknya, kehidupan sehari-hari yang sederhana—bekerja dengan kecepatan normal, mengelola keterbatasan diri, atau menikmati waktu luang tanpa sensasi—hampir tidak diberi ruang. Yang terlihat hanyalah bagian terbaik dari kehidupan orang lain, terlepas dari perjalanan panjang, kegagalan, dan kelelahan yang menyertainya.

Masalah muncul ketika hal-hal kecil ini menjadi tolok ukur. Tanpa disadari, banyak orang mulai menilai diri mereka sendiri melalui perbandingan yang tidak seimbang. Rasa cukup berubah menjadi rasa ditinggalkan. Prestasi kecil kehilangan maknanya karena tidak tampak semenarik di layar. Kehidupan biasa dianggap membosankan, padahal itulah pengalaman sebagian besar orang. Tekanan semacam ini perlahan mengikis kepercayaan diri dan berdampak pada kesehatan mental, terutama di kalangan generasi muda yang tumbuh dengan media sosial.

Namun, kehidupan biasa bukanlah tanda kegagalan. Itu adalah bentuk kehidupan yang paling nyata. Sebagian besar orang menjalani hari-hari mereka dengan rutinitas yang tidak dramatis: bekerja, belajar, pulang, istirahat, dan mengulanginya. Di balik kesederhanaan itu, ada stabilitas dan ketekunan. Ada proses pengembangan diri yang tidak instan dan seringkali tidak terlihat. Kehidupan biasa memberikan ruang untuk pertumbuhan tanpa tekanan untuk selalu tampil menonjol.

Menariknya, di tengah budaya dominan yang gemar pamer, memilih kehidupan biasa sebenarnya bisa menjadi sikap yang penting. Keputusan untuk tidak membagikan semuanya adalah upaya untuk menjaga batasan dan kewarasan. Tidak semua hal perlu diumumkan, tidak setiap kesuksesan harus dipublikasikan. Ada kebahagiaan dalam menjalani kehidupan yang lebih pribadi, menikmati momen tanpa kamera, dan merayakan pencapaian tanpa menunggu pengakuan publik. Ini bukan penolakan terhadap media sosial, melainkan upaya untuk memposisikannya dengan cara yang lebih sehat.

Kesadaran penting lainnya adalah bahwa apa yang ditampilkan seringkali bersifat performatif. Fasad kesuksesan di layar tidak selalu mencerminkan dunia nyata. Banyak orang tampak baik-baik saja secara digital, tetapi rapuh dalam kenyataan. Memahami hal ini membantu kita mengurangi kecenderungan untuk membandingkan diri kita sendiri dan belajar untuk melihat kehidupan orang lain secara lebih holistik.

Kehidupan biasa juga mengajarkan nilai yang semakin diremehkan: kesabaran. Di tengah obsesi dengan hasil cepat dan ketenaran instan, proses panjang seringkali diabaikan. Namun, makna hidup lahir dari perjalanan yang tidak selalu mulus. Karier, hubungan, dan kedewasaan dibangun melalui waktu, usaha, dan kegagalan. Semua ini berkembang dalam kehidupan yang berjalan lambat.

Pada akhirnya, dunia yang penuh dengan orang-orang yang suka pamer membutuhkan lebih banyak keberanian untuk menjalani kehidupan biasa. Bukan sebagai penolakan terhadap kemajuan, tetapi sebagai cara untuk mengembalikan kehidupan ke skala yang lebih manusiawi. Hidup tidak harus spektakuler untuk menjadi bermakna. Hidup hanya perlu dijalani dengan jujur, konsisten, dan setia pada prosesnya. Di tengah hiruk pikuk orang-orang yang pamer, kehidupan biasa sebenarnya bisa menjadi pilihan yang paling waras—dan paling membebaskan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Murid SMAN 1 Wamena Sebut Porsi MBG Lebih Banyak Saat Gibran Datang
• 11 jam lalukompas.com
thumb
IHSG Berpotensi Tembus Level 9.000, Saham AADI, BBRI, AMRT Jadi Rekomendasi
• 22 jam lalukatadata.co.id
thumb
Dari Dapur Tradisional ke Warisan Budaya Tak Benda, Jejak Rasa Sulsel–Sultra
• 18 jam lalufajar.co.id
thumb
Serba-Serbi RDMP Balikpapan: Kilang Terbesar RI Rp124 Triliun yang Penuh Drama
• 21 jam lalukatadata.co.id
thumb
Mendagri percepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera
• 10 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.